Tak Sejalan, Wapres ke-12 Kritik Pernyataan Jokowi Soal Berdamai dengan Covid-19

Presiden-Jokowi-dan-Jusuf-Kalla.jpg
(istimewa)

RIAU ONLINE, JAKARTA-Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla tak sepakat dengan istrilah berdamai dengan virus corona. Virus corona harus diperangi, bukan diajak damai. Presiden Jokowi sempat meminta masyarakat untuk hidup berdamai dengan COVID-19 sampai vaksinnya ditemukan. 

Pernyataan tersebut langsung menuai sejumlah respons dari masyarakat, salah satunya dari Ketua PMI, Jusuf Kalla (JK). 

"Bisa saja, mati itu orangnya. Virus ini kan ganas dan tidak pilih-pilih siapa, tidak bisa diajak berdamai. Berdamai itu kalau dua-duanya mau. Kalau kita mau damai tapi virusnya enggak, ya gimana?" kata JK dalam diskusi Webinar Universitas Indonesia, Selasa 19 Mei 2020.

JK menilai, istilah 'berdamai dengan virus corona' tidak tepat. Istilah yang tepat, menurut JK, adalah memulai kebiasaan hidup baru selama wabah virus corona. 
"Tapi bukan berarti kita berdamai, enggak. Karena risikonya mati," kata dia. 

Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jokowi dan JK

Presiden Joko WIdodo (kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Kamis (3/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Setelah dikritik sana-sini, pihak Istana lalu meluruskan maksud pernyataan Presiden Jokowi soal 'berdamai dengan virus corona'. Menurut Istana, yang dimaksud hidup berdamai dengan virus corona adalah menaati segala kebijakan pemerintah yang bertujuan mencegah penyebaran penyakit tersebut. 

"Kita harus mampu bertahan melalui berbagai bantuan yang disampaikan pemerintah. Kita juga jangan bersikap berlebihan, bersikaplah sepantasnya. Misalnya kalau PSBB, ya, PSBB, jangan kemudian kita ada yang mau karantina wilayah. COVID-19 kan sudah bagian dari kehidupan kita sehari-hari," kata Tenaga Ahli Utama KSP, Donny Gahral Adian. 

"Kita harus membiasakan diri dalam kondisi seperti ini. Bagaimana menggunakan masker, membatasi mobilitas keluar rumah. Kemudian mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan, cuci tangan dengan sabun dan tidak kontak fisik," imbuhnya.


Hal senada juga dituturkan oleh Juru Bicara Penanganan Corona. Achmad Yurianto. Menurutnya, masyarakat harus bisa mulai beradaptasi dengan pandemi, termasuk dengan mengubah gaya hidup sehari-hari.

"Ini saatnya mulai mengubah perilaku kita hidup di dalam kondisi bumi (yang) terancam COVID-19. Beberapa kali disebutkan presiden, inilah cara kita untuk berdamai dengan virus, bukan menyerah," kata Yuri. 
Yuri juga menyadari, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat wabah ini. Untuk itu, ia berharap masyarakat bisa berpikir bagaimana caranya bisa produktif selama masa pandemi, namun tetap memenuhi protokol kesehatan yang berlaku.

"Kita sadar dalam beberapa waktu terakhir ini banyak saudara-saudara kita terpaksa tidak bekerja harus kehilangan pekerjaan. Ini akan timbulkan permasalahan kompleks bukan hanya sosial ekonomi, tapi berpotensi mengancam ketertiban. Oleh karena itu, sekarang kita harus mulai berubah dengan cara berpikir baru, sikap baru yaitu kita harus produktif dan aman dari COVID-19," pungkasnya. Artikel ini sudah terbit di Kumparan.com

-->