Setor Sampai Rp700 Juta, Kepala UPT Sebut Harus Pinjam Sana Sini

Setor-Sampai-Rp700-Juta-Kepala-UPT-Sebut-Harus-Pinjam-Sana-Sini.jpg
Sidang dugaan korupsi di lingkungan Dinas PUPRPKPP Provinsi Riau di PN Pekanbaru, Rabu, 22 April 2026 (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Fakta-fakta mengejutkan terungkap dalam persidangan perkara dugaan korupsi yang menyeret sejumlah pihak di lingkungan Dinas PUPRPKPP Provinsi Riau yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Rabu, 22 April 2026. 

Salah satu saksi kunci, Rio Andriadi Putra selaku Kepala UPT Wilayah VI, membeberkan rangkaian peristiwa mulai dari rapat di rumah dinas gubernur hingga dugaan penyerahan uang dalam jumlah besar.

Dalam keterangannya di hadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rio menyebut dirinya mulai menjabat sebagai Ka UPT sejak November 2023 melalui surat keputusan yang ditandatangani Gubernur Riau.

Salah satu momen penting yang ia ingat adalah pertemuan pada 7 April di rumah dinas gubernur. Saat ditanya JPU apakah ia masih mengingat pertemuan tersebut, Rio menjawab tegas, “Masih.”

Ia menceritakan bahwa seluruh Kepala UPT diminta hadir dalam rapat tersebut. Namun, rapat sempat tertunda sejak pagi hingga menjelang waktu Dzuhur. 

“Kami sekitar 10 orang hadir, semua Kepala UPT datang. Kadis juga sudah hadir, tapi saat itu Gubernur belum terlihat,” ungkapnya.

Dalam suasana menunggu, Rio mengaku melihat sosok bernama Dani yang berada di tangga samping bersama para peserta rapat lainnya. Ketika dikonfirmasi JPU, ia menyebut Dani hadir sebagai pihak yang mendampingi gubernur, bukan sekadar tamu undangan. Sebelum memasuki ruang rapat, seluruh peserta diminta mengumpulkan handphone. 

“Saya dengar ada yang bilang ‘handphone kumpul’, lalu kami serahkan sebelum masuk ke ruang tamu,” jelasnya.

Rapat tersebut menjadi pengalaman pertama Rio mengikuti forum seperti itu. Ia mengatakan, awalnya belum ada bahan presentasi, namun kemudian para Ka UPT diminta memaparkan kondisi ruas jalan yang perlu ditangani sesuai permintaan Kepala Dinas, Muhammad Arif Setiawan. Dalam suasana rapat, Rio mengingat pernyataan Kadis yang cukup membekas. 

“Matahari cuma satu,” ucap Kadis saat itu, yang dimaknai saksi sebagai penegasan arah komando.

Bahkan, menurut Rio, setiap pernyataan Kadis dianggap sebagai representasi langsung dari arahan gubernur. Usai rapat, Rio mengaku sempat berbincang santai dengan Kadis saat makan bersama. Dalam momen itu, Kadis mengeluhkan tekanan yang ia hadapi. 


“Kepala saya pusing, kau bantu-bantu lah aku,” ujar Rio menirukan ucapan atasannya.

Menurutnya, Kadis juga menyampaikan bahwa banyak permintaan dari gubernur yang harus dipenuhi. Hal ini sempat memicu pertanyaan dari para Ka UPT, termasuk Rio, mengenai bagaimana jika ada pihak lain yang juga meminta sesuatu. Namun, ia menyebut Kadis menegaskan bahwa arahan hanya berasal dari dirinya.

Kesaksian semakin mengarah pada dugaan praktik pengumpulan dana. Rio mengungkap adanya pertemuan pada 6 Mei di sebuah tempat bernama Panama bersama sejumlah pihak, termasuk Ferry Yunanda. 

Dalam pertemuan itu dibahas soal kemampuan pengumpulan “fee” yang disebut hanya mencapai 2,5 persen dari pagu anggaran sebelum perubahan.

Ia juga mengaku adanya sejumlah pertemuan lanjutan, termasuk rapat di Bappeda pada 23 Mei. Dalam rentang waktu tersebut, tekanan untuk memenuhi permintaan disebut semakin meningkat.

Rio secara terbuka mengakui dirinya beberapa kali menyerahkan uang kepada pihak tertentu. Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia bahkan harus meminjam uang dari berbagai pihak, termasuk sesama pejabat, keluarga, hingga mandor.

“Saya pinjam Rp100 juta dari Eri Ikhsan, lalu saya berikan ke Ferry Yunanda,” ujarnya. 

Tak berhenti di situ, ia kembali mencari tambahan dana dengan meminjam Rp50 juta secara pribadi dan Rp25 juta dari mandor.

Penyerahan kedua dilakukan sekitar Agustus 2025 sebesar Rp100 juta, yang terdiri dari Rp50 juta pinjaman dan Rp50 juta uang pribadi. Sementara pada setoran ketiga, Rio mengaku dihubungi langsung oleh Kadis untuk mencari dana saat gubernur disebut akan ke Malaysia.

“Total tiga kali pemberian Rp600 juta. Bahkan kalau ditotal dengan pinjaman lain, bisa sampai Rp700 juta. Sementara kesanggupan kami sebenarnya sekitar Rp1 miliar,” ungkapnya.

Ia juga menyebut sempat menitipkan uang melalui seseorang bernama Khairil Anwar. Selain itu, muncul nama lain seperti Hatta yang disebut mengetahui alur distribusi dana tersebut.

Rio mengaku sempat meragukan apakah uang yang dikumpulkan benar-benar sampai ke gubernur.

Namun, menurutnya, Hatta menyatakan bahwa dana tersebut memang sampai.Rasa khawatir mulai muncul ketika ia mendapat informasi bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berada di Riau pada awal tahun. “Saya mulai takut,” katanya.

Dalam perkembangan berikutnya, Rio mengaku sempat diajak bertemu Hatta di sebuah kedai kopi di Bengkalis. 

Dalam pertemuan itu, Hatta disebut menceritakan kedekatannya dengan Dani serta posisinya sebagai bagian dari tim sukses, yang disebut menjadi “satu pintu” dalam permintaan tersebut.

Tak hanya itu, Rio juga mengaku diajak ke Jakarta untuk bertemu Dani, bersama Eri Ikhsan. Dalam pertemuan tersebut, sempat disinggung rencana mutasi besar-besaran di lingkungan pemerintahan.

Saksi juga mengungkap bahwa Kepala Dinas pernah menyampaikan kepada gubernur agar para pejabat tidak diganti terlebih dahulu. Namun, saat hal itu disampaikan, respons yang diterima hanya singkat: 

“Kita lihat nanti lah,” tutupnya.