Mahasiswa Mekatronika PCR Bawa Inovasi Kursi Roda di AAKRUTI Global 2025 Texas

Mahasiswa-Mekatronika-PCR-awa-Inovasi-Kursi-Roda-di-AAKRUTI-Global-2025-Texas.jpg
Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika PCR yang tergabung dalam Tim Darnakel siap tampil di AAKRUTI Global 2025 di Texas Amerika Serikat. (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Empat mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika Politeknik Caltex Riau (PCR) yang tergabung dalam Tim Darnakel buktikan karya mahasiswa Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung dunia.

Tim yang terdiri dari Muhammad Haekal Aulia, Daniel Simatupang, Ardian Dwi Syahputra, serta Ruth Delila Aritonang akan tampil di kompetisi desain produk internasional AAKRUTI Global 2025  yang diselenggarakan oleh Dassault Systèmes dan akan berlangsung pada 1–4 Februari 2026 di Texas Amerika Serikat.

Menurut dosen pembimbing, Prof. Dr. Hendriko, S.T., M.Eng., desain yang dibawa ke AAKRUTI Global telah melalui proses pematangan signifikan dibanding tahap seleksi sebelumnya.

“Perkembangannya sangat jauh. Jika di tahap awal desain masih terlihat kaku, kini tampil lebih matang dan konsep yang lebih jelas. Banyak perubahan dilakukan, baik dari sisi visual, material, maupun sistem kerja alat,” ujarnya, Rabu, 28 Januari 2026.

Di balik layar komputer yang dipenuhi visual tiga dimensi, empat mahasiswa ini sibuk menyempurnakan detail terakhir dari sebuah rancangan desain. Rancangan inilah yang akan membawa mereka ribuan kilometer dari kampus, menuju Texas, Amerika Serikat.

Bagi keempatnya, perjalanan ke Texas bukan sekadar keberangkatan fisik, melainkan penanda bahwa karya mahasiswa Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung dunia. Tim Darnakel menjadi satu-satunya delegasi dari Indonesia dan kawasan Asia Pasifik yang berhasil menembus tahap ini.

Perubahan paling mendasar terdapat pada struktur utama produk. Rancangan awal yang banyak menggunakan aluminium kini beralih ke baja paduan, yang dinilai lebih kuat namun tetap efisien dari sisi bobot. 

Sistem kerja kursi roda juga dirancang ulang, termasuk penggunaan motor listrik dan sistem kontrol yang lebih presisi. Seluruh pembaruan tersebut telah dituangkan dalam desain tiga dimensi (3D) final yang dikirimkan kepada panitia.


Namun, AAKRUTI Global bukan sekadar soal gambar teknik. Di hadapan akademisi, peneliti, hingga pelaku industri manufaktur dari berbagai negara, ide harus mampu berbicara dan meyakinkan. Karena itu, beberapa pekan terakhir mereka habiskan dengan latihan presentasi yang intens. 

“Kami berlatih menyampaikan cerita di balik desain sekaligus simulasi tanya jawab untuk menghadapi juri,” ujar Daniel Simatupang, ketua tim Darnakel.

“Bukan hanya bagaimana alat ini bekerja, tetapi mengapa desain ini penting,” imbuhnya.

Inovasi yang mereka usung bertajuk Convertible Wheelchair-Bed for Enhanced Patient Mobility, sebuah desain kursi roda yang dapat bertransformasi menjadi tempat tidur pasien. Ide ini lahir dari persoalan mobilitas pasien yang selama ini sangat bergantung pada bantuan orang lain.

Proses pengembangannya tidak berlangsung sekali jalan. Desain ini ditempa melalui evaluasi berulang, membandingkan dengan perangkat medis yang telah ada. Setiap masukan pembimbing menjadi bahan perbaikan, hingga akhirnya seluruh proses itu bermuara pada satu titik yakni desain konseptual dan teknis yang benar-benar matang.

“Kebaruan utama ada pada sistem konvertibel elektrik yang mengintegrasikan kursi roda dan tempat tidur dalam satu kesatuan,” jelas Daniel. 

Rancangan ini memungkinkan perpindahan pasien dilakukan lebih mandiri, sekaligus meringankan peran pendamping pasien. Desain tersebut juga dilengkapi sistem pelacakan untuk memantau lokasi pengguna secara real-time.

Di sisi lain, Prof. Hendriko menyadari persaingan di tingkat global tidak mudah. Para finalis yang tampil di Texas telah melewati seleksi ketat. Meski demikian, ia menilai rancangan Tim Darnakel memiliki kekuatan tersendiri.

“Dampak sosialnya jelas, khususnya di bidang kesehatan. Desain ini juga relevan dengan salah satu tema dari Sustainable Development Goals (SDGs). Dari sisi kesiapan, mahasiswa sudah sangat siap dan percaya diri,” katanya.

Seluruh persiapan administratif pun telah rampung. Visa mahasiswa dan pembimbing telah terbit, tiket pesawat telah dibeli. Kini, yang tersisa adalah menjaga fokus hingga hari keberangkatan.

Bagi Tim Darnakel, perjalanan ke Texas bukan sekadar kompetisi. Ada tanggung jawab membawa nama PCR, Indonesia dan Asia Pasifik di hadapan publik internasional. 

Namun, lebih dari itu, ada keyakinan bahwa kerja keras, kolaborasi, dan keberanian untuk bermimpi dapat membawa karya mahasiswa Indonesia melangkah lebih jauh. Dari ruang desain di Pekanbaru, langkah mereka kini menuju panggung global.