Suhu Riau Capai 30 Derajat Celsius, Waspada Dehidrasi dan Heatstroke

Ilustrasi-kemarau.jpg
Ilustrasi cuaca panas. (Foto: Shutter Stock via kumparan)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat suhu udara di Pekanbaru mencapai  35 derajat Celsius pada Kamis, 30 Oktober 2025 lalu.

Menanggapi hal ini, Dokter MCU Rumah Sakit Bhayangkara TK. III Pekanbaru, dr. Mira Tania Andriana mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap konsisi ini.

“Tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk mempertahankan suhu tubuh diantara 36–37°C, ketika panas terlalu tinggi maka proses ini dapat terganggu dan menimbulkan masalah pada kesehatan, beberapa masalah kesehatan yang sering terjadi akibat cuaca panas ekstrem,” kata dr. Mira kepada Riau Online, Jumat, 31 Oktober 2025.

Salah satu dampak yang bisa terjadi adalah dehidrasi. Hal ini merupakan kondisi dimana tubuh kekurangan cairan akibat pengeluaran keringat yang berlebih namun tidak diimbangi dengan banyak minum untuk menggantikan cairan yang keluar.

“Penuhi kebutuhan cairan dengan minum air putih 2-3 L setiap hari. Tetap minum air putih meskipun sedang tidak haus, agar terhindar dari dehidrasi saat cuaca panas Terik,” ujar dr Mira.

Selain itu, suhu panas dengan tingkat kelembapan yang tinggi cenderung membuat kulit mudah berkeringat. Sehingga, tubuh berpotensi mengalami biang keringat.


“Biang keringat muncul saat keringat terperangkap di bawah lapisan kulit. Karena sering muncul saat cuaca panas, kondisi ini juga disebut ruam panas (Heat Rash),” terangnya.

Untuk mengatasinya, dr. Mira menyarankan agar menggunakan pakaian tertutup seperti baju lengan panjang dan celana panjang agar semakin melindungi kulit dari sinar matahari, terutama saat kondisi cuaca panas. 

“Pilih pakaian berwarna cerah, longgar dan berbahan lembut seperti katun agar bisa memantulkan panas. Hindari pakaian berwarna gelap karena dapat menyerap panas,” tuturnya.

Ancaman lainnya yang juga mengintai akibat suhu panas ini adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Suhu tinggi dan tingkat kelembapan rendah dapat mengiritasi saluran pernapasan menyebabkan meningkatkan resiko terjadinya ISPA.

“Kondisi yang mengancam jiwa ketika suhu tubuh mencapai 41°C atau lebih. Gejala meliputi demam tinggi, sakit kepala, perubahan kondisi mental dan perilaku. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera,” imbuhnya.

Paparan sinar matahari yang tinggi bisa mengakibatkan sakit kepala diakibatkan ketegangan pada kepala dan leher. 

“Paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi dapat merusak kulit dan meningkatkan risiko kanker kulit. Gunakan tabir surya (sunscreen) dengan SPF minimal 30, terutama jika kamu sering beraktivitas di luar ruangan. Oleskan kembali setiap dua jam agar perlindungan tetap optimal,” ujar dr Mira. 

Dr Mira juga mengimbau agar masyarakat mengkonsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah untuk meningkatkan sistem imun tubuh. 

“Pada saat cuaca panas pilih buah-buahan yang banyak mengandung air (pir, semangka, jeruk, melon ) dan mengurangi makanan yang pedas dan berlemak,” paparnya. 

“Hindari bepergian keluar ruangan terutama di jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Apabila harus keluar, pastikan menggunakan alat pelindung agar tidak langsung terpapar panas matahari, seperti payung dan topi,” pungkasnya.