Tak Perlu Membakar untuk Hasilkan Produk Pertanian Ala Poktan Memanah

Sayuran-di-lahan-gambut.jpg
(suwadi)

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Ismail (50 tahun), tersenyum bangga sambil memegang buah melon dan labu madu. Baru saja ia memanen kedua buah tersebut. Inovasi dan daya lenting para petani gambut di Riau tidak diragukan. Mereka tidak melulu berharap atau menuntut bantuan. Sebaliknya, mereka tangguh menggalang keswadayaan. Ini menjadi modal sosial penting membangun gerakan petani yang akan menjadi pelindung ekosistem gambut di tingkat tapak.

“Alhamdulillah, akhirnya berhasil,” kata Ismail. Melon dan labu madu itu adalah percobaan yang kesekian yang dilakukan Ismail dan kelompok taninya yang diberi nama Kelompok Tani (Poktan) “Memanah”. Mereka melakukannya di lahan kebun contoh (demplot) mereka, di Desa Pedekik, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Kebun contoh itu dapat disebut revolusi pertanian yang dilakukan Ismail dan kawan-kawan. Tidak berlebihan dikatakan demikian karena di lahan demplot itu mereka melakukan tiga perubahan besar dari praktik pertaniannya.

Yang pertama menerapkan pertanian tanpa membakar. Lahan-lahan pertanian di Desa Pedekik pada umumnya lahan gambut. Para petani terbiasa melakukan pembakaran lahan gambut untuk menurunkan keasaman dan menaikkan pH tanah.

Bertahun-tahun pertanian dengan cara bakar lahan ini mereka lakukan. Namun demikian, ketika ekosistem gambut makin rusak, hal ini tidak mudah lagi dilakukan. Kebakaran adalah salah satu faktor penyumbang kerusakan gambut. Tahun 2015 adalah waktu dimana kebakaran hutan dan lahan parah terjadi di tanah air. Lebih 800 ribu hektar lahan gambut terbakar di seluruh Indonesia. Riau juga termasuk provinsi dengan luas lahan gambut terbakar yang besar.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan pembakaran lahan. Larangan ini tercantum dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU No. 32 Tahun 2009) dan Undang-Undang Kehutanan (UU No. 41 Tahun 1999). Setiap orang dilarang melakukan pembakaran lahan dan hutan. UU Lingkungan Hidup, memberikan penjelasan bahwa larangan ini dikecualikan pada mereka yang melakukan pembakaran lahan sebagai bagian dari kearifan lokal. Kearifan lokal itu dibatasi pada pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga, ditanami tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.

Pada saat kebakaran hutan dan lahan terjadi sangat parah, larangan membakar lahan diterapkan dengan tegas. Proses hukum diberlakukan kepada para pembakar. Hal ini menyebabkan banyak petani di lahan gambut ketakutan. Mereka menghadapi dilema. Di satu sisi takut dengan ancaman hukuman. Di sisi yang lain harus tetap melanjutkan kegiatan pertanian untuk kebutuhan rumah tangga.

Dilema ini pun dialami oleh Ismail dan warga Pedekik. Yang mereka lakukan kemudian adalah kucing-kucingan dengan aparat yang melakukan patroli. Namun, perubahan terjadi ketika tahun 2019 lalu, Suwardi, fasilitator Desa Peduli Gambut dari Badan Restorasi Gambut (BRG) mendatangi Ismail. Suwardi menawari Ismail ikut dalam kegiatan Sekolah Lapang Petani Gambut yang diselenggarakan BRG.

Awalnya Ismail ragu. Tetapi Suwardi tidak berhenti meyakinkan bahwa tidak ada ruginya belajar hal baru. Maka, berangkatlah Ismail mengikuti Sekolah Lapang yang diselenggarakan di Desa Jatibaru Kabupaten Siak. Pada saat mengikuti pembelajaran di Sekolah Lapang dan bertemu dengan para mentor dan petani lainnya, Ismail mulai terbuka pikirannya. Bertani tanpa membakar itu bisa dilakukan. Tidak hanya itu, Ismail juga mendapat pelajaran membuat pupuk dan pestisida alami sendiri.

Kembali ke Pedekik, Ismail segera mengumpulkan kawan-kawan petani lain. Mereka membentuk kelompok tani. Memanah nama kelompok itu. Singkatan dari Membenahi Tanah. Ya, Ismail dan kawan-kawan memang ingin membenahi lahan gambut mereka yang rusak.

Perubahan kedua yang dilakukan Poktan Memanah adalah mulai menerapkan pertanian alami. Bekal pengetahuan dari Sekolah Lapang Petani Gambut BRG digunakan untuk membuat pupuk dan pestisida alami. Mereka membuat sendiri dari bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar mereka. Contohnya nanas, rebung, batang pisang, kotoran ternak, eceng godok, sabut kelapa, dedak padi, lengkuas, daun sirih, daun kemangi, tepung sagu, kepala udang, akar bambu, akar sagu, pakis uban, pisang masak, air kelapa, urin ternak dan buah gadong.

“Pupuk BRG”, demikian Ismail menamakannya. “Pupuk ini hasilnya jos. Tanaman jadi lebih kuat dan waktu panen makin panjang. Untuk kacang panjang, biasanya dengan pupuk kimia kami panen selama 15 kali panen dalam 30 hari. Tetapi dengan menggunakan pupuk ini, panen bisa sampai 20 kali selama sebulan,” kata Ismail.

“Yang lebih baik lagi bagi kami, kami bisa membuatnya sendiri. Tidak usah membeli. Ini mengurangi banyak biaya produksi,” tambah Maslina anggota Poktan Memanah lainnya. Apa yang disampaikan Pak Maslina Menunjukkan revolusi ketiga yang dilakukan Poktan Memanah, yaitu keswadayaan produksi. Dengan kemampuan membuat pupuk dan pestisida alami sendiri ,mereka sedang mengujicobakan semangat kemandirian petani.

“Sekolah Lapang Petani Gambut yang kami selenggarakan bertujuan menemani para petani gambut untuk melakukan pertanian dengan baik. Maksudnya ‘baik’ adalah tidak membakar, menggunakan bahan-bahan alami yang tidak merusak lingkungan, tidak lagi melakukan pembukaan lahan baru, serta menumbuhkan keswadayaan yang tinggi,” ujar Myrna Safitri, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

Terintegrasi dengan Pembangunan Desa


Sekolah Lapang Petani Gambut dirintis BRG sejak akhir 2017. Pertimbangan utamanya adalah memberikan solusi kepada para petani gambut untuk dapat melanjutkan kegiatan pertanian tanpa merusak lingkungan. Secara khusus tanpa melakukan pembakaran.
Di lahan-lahan gambut tipis dengan fungsi budidaya, pertanian rakyat sudah lama dilakukan. Mereka menjadi pemasok bahan-bahan pangan bagi desa dan wilayah sekitar. Ketika bicara ketahanan pangan, maka desa-desa gambut ini sudah lama melakukannya.

Sekolah Lapang Petani Gambut BRG didedikasikan untuk mendorong gerakan petani yang mampu menjalankan pertanian bijak iklim di lahan gambut. BRG dan para mitra seperti LSM Kemitraan dan Proforest juga memfasilitasi para kader Sekolah Lapang membangun demplot atau kebun contoh Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di desa masing-masing. “Khusus tahun 2019, ada 138 demplot yang tersebar di 130 desa/kelurahan. Membanggakannya, 59% atau 82 demplot itu dibangun secara swadaya oleh petani. BRG hanya memberi alat pertanian sederhana,” tambah Myrna.

Melihat pada keberhasilan demplot pertanian alami dan tanpa bakar ini, pemerintah desa-desa yang masuk ke dalam Program Desa Peduli Gambut mengalokasikan APBDes mereka untuk mengembangkan demplot-demplot ini.

Berdasarkan data BRG, sebanyak 143 Desa Peduli Gambut yang didampingi tahun 2019 di 7 provinsi, telah mengalokasikan sekitar Rp. 16,1 milyar untuk keberlanjutan Program DPG dalam APBDes. Peruntukan dana itu termasuk untuk pengembangan demplot PLTB sebesar Rp. 516 jutaan yang dilakukan oleh 18 desa.

Alokasi APBDes pada desa-desa DPG untuk Kegiatan Perencanaan Desa 2019
Peruntukan APBDes 143 DPG Alokasi APBDes (Rp)
Pembangunan Infrastruktur Pembasahan Gambut (IPG) 3.191.103.000
Pemeliharaan IPG 1.811.701.000
Peningkatan Kapasitas Pokmas 2.245.488.700
Demplot PLTB 516.500.000
Operasional MPA 1.373.355.228
BUMDes 4.479.667.830
Lain-lain 2.514.194.000
Total 16.132.009.758
Sumber: BRG, 2020.

 

 

Petani Gambut Inovator dari Riau


Di Riau sendiri, ada 96 Desa Peduli Gambut yang didampingi sejak 2017. “Ada 96 demplot PLTB yang sudah dibangun. Lebih 20 desa berhasil mempertahankan dan mengembangkan demplot PLTB dan pertanian alami ini” kata Muslim Rasyid, Dinamisator Desa Peduli Gambut Riau. Dapat disebutkan sebagai contoh adalah demplot-demplot di Desa Bagan Sinembah, Bagan Sinembah Timur dan Tanjung Leban di Kabupaten Rokan Hilir. Desa Pedekik, Penampi, Tameran, Sungai Linau dan Bandar Jaya di Kabupaten Bengkalis, Desa Buantan Lestari, Temusai, Jati Baru dan lalang di Kabupaten Siak, Desa Rimbo Panjang di Kabupaten Kampar, Desa Rawa Asri, Rawa Bangun dan Kelurahan Sekip Hilir di Kabupaten Indragiri Hulu, serta Desa Karya Tani dan Sungai Rukam di Kabupaten Indragiri Hilir.

Di Desa Rawa Bangun, Kabupaten Indragiri Hulu, misalnya, ada Pak Sukamtono (49 tahun). Dia satu dari sekian kader petani yang aktif di Sekolah Lapang BRG. Kembali ke desa, Sukamtono juga membuat demplot secara swadaya. Ia menanami demplotnya dengan jagung. Beberapa kali gagal, tidak membuat Sukamtono putus asa. Kegagalan di fase awal membuka demplot dirasakan hampir semua petani. Ismail di Pedekik misalnya, juga mengaku tiga kali gagal.


Sukamtono, petani gambut dari Indragiri Hulu, di tengah kebun jagungnya. Foto: BRG.

Kini, Sukamtono melihat tanaman jagungnya tumbuh subur. Upayanya diikuti warga desa lain. Mereka bahkan mengganti tanaman sawit yang sulit diremajakan lagi dengan tanaman jagung. Ada sekitar 35 hektare lahan kebun sawit masyarakat di Rawa Bangun yang berubah menjadi tanaman jagung.

Sementara itu di Kabupaten Siak, Badri dari Desa Buantan Lestari, makin mantap mengembangkan demplot PLTB dan pertanian alami ini. Tanaman cabai menjadi favoritnya. Kesungguhan Badri menjadikan demplotnya sebagai laboratorium pertanian gambut ala petani, membawanya kini menjadi salah seorang guru Sekolah Lapang. Bersama BRG, Badri berkeliling ke berbagai tempat di Indonesia untuk mengajarkan PLTB dan pertanian alami.

Inovasi dan daya lenting para petani gambut di Riau tidak diragukan. Mereka bukan petani yang melulu berharap atau menuntut bantuan. Sebaliknya, mereka tangguh menggalang keswadayaan. Ini menjadi modal sosial penting membangun gerakan petani gambut yang akan menjadi pelindung ekosistem gambut di tingkat tapak.

BRG memberikan ruang yang lebar kepada para petani seperti ini untuk terus berinovasi dan berbagi cerita kepada banyak pihak. Desember 2018 lalu, misalnya, Kholil, petani gambut dari Desa Bagan Sinemba Kabupaten Rokan Hilir, memaparkan pengalamannya menjalankan pertanian tanpa bakar di hadapan dosen dan mahasiswa, wakil pemerintah dan LSM Singapura.

Pada acara bertajuk Practitioner Roundtable for Sustainable Peatland Governance yang diselenggarakan Asian Research Institute di National University of Singapore, Kholil dengan penampilannya yang sederhana, bercerita bagaimana transformasi yang dilakukan para petani di Riau untuk mengurangi kebakaran gambut. Penjelasan Kholil membuat publik Singapura mengerti bahwa Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan petani gambut di Indonesia serius mengatasi kebakaran. Karena semua tidak menginginkan bencana asap terjadi.

Tanpa disadarinya, Kholil saat itu sedang membantu pemerintah menjalankan diplomasi iklim. Tidak hanya Kholil, Sukamtono juga melakukan hal yang sama. Pada Desember 2019, ia tampil di salah satu sesi diskusi pada Konferensi Perubahan Iklim (COP 25) di Madrid, Spanyol. Sukamtono juga bercerita tentang pengalamannya mempraktikkan PLTB. Lalu, hal serupa juga dilakukan Badri pada tahun 2018. BRG mengajaknya menghadiri sebuah pertemuan regional yang diselenggarakan sebuah organisasi nirlaba internasional, The Centre for People and Forests (RECOFTC) di Bangkok.

Petani Perempuan 
Sekolah Lapang Petani BRG juga melibatkan petani perempuan. Ibu Aslikah, misalnya. Ia adalah salah seorang petani dari Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di desa Rawa Bangun, Rengat, Riau dan juga Kader Sekolah Lapang. Ibu dari 2 orang anak ini bertani bukan sebagai peran pembantu, melainkan pelaku utama dalam mengelola tanahnya. Suami Aslikah adalah buruh bangunan. Bu Aslikah menggarap lahan pertaniannya mulai dari mencangkul hingga panen. Sekitar satu hektare lahan di belakang rumahnya ditanaminya jagung dan sayuran. “Hasil pertanian ini sangat membantu kebutuhan ekonomi keluarga kami” kata Bu Aslikah. Suaminya mengamini perkataan Aslikah.

Cerita yang sama juga disampaikan Ibu Dwi Hesti Anggraeni, dari kelompok tani Gajahura Kelurahan Sekip Hilir, Indragiri Hulu. Lahan gambut seluas 1 hektare menjadi sumber mata pencaharian keluarga bagi Ibu Dwi. Di situ ia menanam cabe, jagung, kangkung, sawi, bayam, daun bawang. Juga sebagian lahan ditanami jahe. Dwi punya 30 polybag jahe, dengan hasil panen sekitar 5kg/polybag. Total nya sekitar 150kg/panen. Jahe Ibu Dwi ini menjadi bahan baku langganan para penjual jamu. Lalu pada masa pandemi Covid-19 Ibu Dwi juga membuat hand sanitizer berbahan daun sirih, lidah buaya, jeruk dan sereh. Ia membagikan kepada warga disekitarnya.


Peran Anak Muda


Cerita tentang para petani di atas menunjukkan mereka adalah inovator. Berani mencoba hal baru untuk perbaikan ekosistem gambut, sekaligus menguatkan ekonomi rumah tangga dan perekonomian desa. Tidak gampang mencari petani dengan karakter seperti ini.

Di balik proses penemuan mutiara terpendam ini adalah para fasilitator Desa Peduli Gambut. Sekumpulan anak muda yang berdedikasi tinggi. Mereka tinggal di desa, hidup dan bergaul dengan para petani.

Suwardi adalah salah satu fasilitator DPG yang jeli menemukan Pak Ismail. Dia tidak salah memilih Ismail untuk mengikuti Sekolah Lapang. Ditanya alasanya, Suwardi menjelaskan, “Pak Ismail itu istrinya pedagang sayur. Sengaja saya memilih beliau karena salah satu masalah uji coba demplot adalah pemasaran. Nah, masalah seperti ini tidak terjadi pada Poktan Memanah karena hasil-hasil dari demplot langsung dibawa istri Pak Ismail ke pasar. Masyarakat yang melihat juga percaya bahwa cara PLTB dan pertanian alami ini akan ada pasar yang menampung”, kata Suwardi. Suwardi memang cerdik dan kreatif. Kini, meski tidak lagi bertugas di Desa Pedekik, Suwardi tetap menjalin komunikasi dengan Poktan Memanah. Ia juga rajin mempromosikan kegiatan Poktan ini di media sosial.

Pak Badri di Siak bisa muncul dan makin percaya diri karena peran Syafria Ningsih, salah satu fasilitator DPG perempuan yang tangguh di Riau. Pak Sukamtono menemukan kawan berdiskusi dalam pengembangan demplotnya dengan Ilfan, Pak Kholil ditemukan oleh Usman Affandi yang tinggal di salah satu dusun di Desa Bagan Sinemba. Di tempat lain ada petani fasilitator bernama Rafi Merbamas. “Usaha itu tidak akan menghinati hasil. Alhamdulillah, kelompok tani di desa dampingan saya sudah panen perdana pare, timun dan jagung” ujarnya. Rafi patut berbangga karena demplot kelompok tani itu sempat dua kali gagal.

Kita perlu anak-anak muda yang bekerja dengan kreatif dan tulus untuk membantu para petani. Di desa-desa gambut, kita temukan para fasilitator Desa Peduli Gambut.

-->