Akademisi teliti pengaruh gerhana matahari terhadap lebah

Gerhana-Matahari-Cincin-GMC.jpg
(RIAU ONLINE)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Akademisi Universitas Riau meneliti pengaruh gerhana matahari cincin (GMC) yang terlihat sempurna di Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau terhadap koloni madu kelulut.

"GMC merupakan kejadian yang sangat langka, yang tidak bisa diteliti di sembarang waktu dan di sembarang tempat di dunia ini. Oleh karenanya, ada kemungkinan penelitian kami termasuk yang sangat langka dilakukan orang," kata akademisi Universitas Riau Ahmad Muhammad, Jumat 27 Desember 2019.

Ahmad yang merupakan dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam mengatakan melaksanakan penelitian bersama Nurul Qomar, akademisi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Riau.

Metode penelitian dilakukan dengan merekam aktivitas enam koloni lebah di Desa Rawa Mekar Jaya, Sungai Apit, atau tidak jauh dari Desa Bunsur gerhana matahari terjadi pada Kamis kemarin (26/12). Penelitian dilaksanakan dengan merekam aktivitas lebah mulai pukul 06.00 WIB pagi hingga 18.00 WIB.

Menurut Ahmad, kejadian langkah gerhana matahari cincin menarik untuk diteliti terhadap pengaruhnya pada satwa, terutama lebah kelulut. Dia menjelaskan jika terhalangnya matahari oleh bulan dengan sendirinya menghalangi sebagian besar radiasi matahari yang dapat mencapai permukaan bumi, meskipun hanya sesaat.

Hal ini, katanya, menyebabkan perubahan kondisi atmosferik di sepanjang lintasan GMC yang kemungkinan berbeda apabila dibandingkan dengan peristiwa sekedar terhalanginya radiasi matahari oleh awan.

Hewan lanjut pria berkacamata itu sering memiliki kepekaan terhadap perubahan atmosferik yang dipicu oleh kejadian gerhana, seperti GMC. Dalam hal ini, hewan-hewan yang bersifat diurnal atau aktif pada siang hari kemungkinan jauh lebih peka terhadap GMC.

"Kalau gerhana matahari itu terjadi jauh di luar atmosfer bumi dan terjadi bloking radiasi matahari. Dampak radiasi kondisi atmosferik berbeda dengan saat tertutupi mendung. Ini yang buat kita tertarik untuk mengetahui apa pengaruhnya pada hewan, terutama kelulut," ujarnya.

Dia mengatakan memilih kelulut karena satwa tidak memiliki sengat itu menjadi subjek penelitian sekaligus pemberdayaan kepada masyarakat yang digalakkannya sejak 2017 lalu. Lalu apa hasilnya?

Dia mengklaim bahwa penelitian yang mungkin baru pertama kali di dunia itu menunjukkan perubahan sikap kelulut saat terjadi GMC. Mayoritas kelulut akan kembali ke sarangnya. Namun, dia bilang itu baru hasil pengamatan awal.

"Harus dikonfirmasi dengan analisis lebih detail. Kami akan menganalisa 148 video yang kami rekam terlebih dahulu. Mungkin butuh waktu satu hingga dua minggu sebelum hasilnya bisa dikeluarkan," jelasnya.

Kampung Bunsur berdasarkan pengamatan Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN) bersama Kota Singkawang ditetapkan sebagai lokasi terbaik pengamatan fenomena 300 tahun sekali itu. Hal tersebut akan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, dimulai sekitar sejak pukul 10.00 WIB dan di Kampung Bunsur Kecamatan Sungai Apit sekitar pukul 12.00 WIB.