Dua Kali Hasil Swab Masih Positif, Ketua KPU Riau Bahagia Anak dan Istri Negatif

Ilham-Muhammad-Nasir3.jpg
(Ilham Muhammad Nasir)

RIAU ONLINE, PEKANBARU-Ketua KPU Riau, Ilham Muhammad Nasir kini berstatus sebagai pasien covid-19.

Setelah menjalani isolasi selama beberapa pekan, 2 hasil swab masih menunjukkan positif.

Namun, Muhammad Nasir merasa bersemagat dan bersyukur. 

Pasalnya ketiga anak, istri dan sepupu yang selama ini tinggal bareng di rumah tidak tertular covid-19 setelah menjalani swab.

Kabar bahagia lain juga kembali datang dari kolega di KPU Riau. Para staff dan rekan semuanya negatif. Rasa khawatir pun sirna saat mendapat informasi kolega di  KPU Kepulauan Meranti juga negatif.

Pengin tahu lanjutan coretan ketua KPU Riau saat dirawat di RSUD Arifin Achmad? Baca cerita selengkapnya.

Dari Ruang Isolasi Covid-19, Pinere I, Room 13

Jarum jam matic di tangan telah menunjukkan angka 06.45 wib. Masih pagi. Sinar matahari dari balik celah jendela kaca mulai menerabas masuk. Terlihat pantulan cahaya di dinding-dinding keramik warna putih seperti menyala di ruangan isolasi Covid-19 Pinere I, Room 13, RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Senin 21 September 2020 pagi kemarin.

Tusukkan jarum suntik menyentak seketika. Kaki tak sengaja menendang ke atas. Terasa cukup sakit. Sakitnya tidak biasa. Ada rasa kebas.

Tapi ada juga rasa pegal. Itu sudah yang keempat kalinya. Perawat baru berhasil mendapatkan titik darah pagi itu.

Kurang lebih setengah tabung jarum suntik atau sekitar 10 cc yang diperoleh.

Petang sebelumnya sudah dicoba. Dua kali tidak berhasil. Pertama di lipatan lengan tangan sebelah kiri. Tidak ditemukan.

Kemudian pindah ke bawah ke pergelangan tangan kiri. Karena sakit sekali. Seperti perasaan ada urat yang dikorek. Saya minta agar ditunda ke esokan paginya.

Pagi-pagi perawat sudah datang di ruangan. Kali ini perawat yang berbeda. Dari suaranya saya menandai. Karena memang di sini sulit untuk dapat mengenali satu persatu.

Mereka memakai pakain tertutup semua. Untuk mengenal yang mana dokter, perawat bahkan tenaga kebersihan juga sulit. Paling dari cara kerjanya.

Semuanya memakai baju hazmat lengkap sepatu bot tinggi. Istilahnya standar alat pelindung diri (APD) level tiga. Yang terlihat hanya kedua bola mata dari balik kaca mata dan helm yang dikenakan.

Sesuai permintaan. Pagi itu saya minta dipindahkan di tangan sebelah kanan. Tepatnya di lipatan lengan. Gagal. Tidak didapatkan setitik darah pun. Lalu dipindahkan ke pergelangan tangan kanan. Perasaannya sudah tidak karuan. Sakit. Pedih. Sudah bercampur. Tapi saya bertekad, kali ini harus dapat titik darahnya. Benar.

Perawat setengah berteriak, "Dapat Pak!" Setengah menghela nafas seraya saya berucap, "Alhamdulillah!."

Dokter telah memutuskan harus mengambil darah dari pembuluh arteri saya. Baru kali ini saya diambil sampel darah dari pembuluh arteri. Biasanya hanya di pembuluh vena. Soalnya, sudah langganan setiap donor darah, atau beberapa pekan ini sudah tak terhitung jumlahnya.

Mulai untuk jarum infus sampai keperluan pengambilan sampel darah. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Kalau ditanya, sekali sajalah diambil darah dari arteri. Sakit sekali.

Ternyata dokter tidak mau mengambil risiko. Jika hanya mengandalkan dari pulse oximeter saja. Untuk ukuran normal oksigen di dalam darah prosentasenya harus di antara 95 - 100 persen. Tidak boleh di bawah 95 persen saturasi angka oksigenya. Jika di bawah itu, maka seorang pasien Covid-19 dikhawatirkan punya gejala happy hypoxia syndrome.

Dalam kondisi ini, ditemukan pada sebagian pasien Covid-19. Kondisinya tampak normal. Tidak merasakan batuk atau demam. Barangkali ini sering dialami oleh pasien yang tanpa gejala. Istilahnya orang tanpa gejala (OTG).

Atau ada gejala. Sewaktu-waktu, jika saturasi oksigennya terus-menerus menurun, tapi tidak diketahui. Ini sangat membahayakan. Bahkan dapat mengancam nyawa si pasien.

Ini penting untuk diketahui oleh penderita Covid-19. Terutama yang OTG atau yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Kondisi OTG tidak bisa dianggap kondisinya tidak ada masalah.

Banyak hal yang harus diwaspadai. Terutama terkait yang disebut kadar prosentase oksigen yang ada di dalam tubuh kita ini.

Kembali ke perangkat pulse oximeter. Perangkat ini berukuran kecil. Cara kerjanya dengan menjepitkan ujung jari kita ke dalam alat ini. Kegunaannya untuk mengukur denyut nadi dan prosentase oksigen di dalam darah kita.

Namun demikian. Menurut perawat di sini, untuk mengukur saturasi oksigen tetap tidak seakurasi dengan cara pengambilan sampel darah di pembuluh arteri. Kekhawatirannya ada yang terlewatkan pengecekkannya oleh perangkat pulse oximeter.

Karenanya, untuk memperkecil risiko dan mendapatkan hasil yang akurat. Tindakan pengambilan sampel darah di pembuluh arteri untuk diperiksa ke laboratorium harus tetap dilakukan.

Anak-Istri Negatif

Kamis 17 September 2020 petang pekan lalu benar-benar kabar yang membahagiakan. Ketiga anak, isteri dan sepupu di rumah diberitahukan hasil swabnya negatif. Karena sebelumnya sempat melakukan isolasi mandiri di rumah bersama mereka sejak tanggal 8 hingga 12 September 2020.

Kurang lebih 5 hari lamanya berada di rumah, meskipun berada di kamar yang berbeda. Tidak sekali pun pernah keluar rumah hingga sampai pindah isolasi ke RSUD Arifin Achmad.

Kondisi rumah yang tidak terlalu besar dengan sirkulasi udara yang kurang memadai, peluang anak-anak tertular sangat besar, waktu itu.

Sebenarnya, sempat risau. Serta tidak nyaman selama isolasi mandiri di rumah. Karena pada saat dinyatakan reaktif pada tanggal 8 September 2020 itu, dan langsung melakukan isolasi mandiri, salah seorang anak kembar yang paling kecil, Alifha Putri (8) mengalami batuk-batuk.

Sebelum hasil swab resmi keluar pada tanggal 11 September 2020, pikiran liar selalu muncul. Bahwa ada perasaan anak-anak dan isteri telah tertular.

Tidak hanya itu, orang-orang yang pernah kontak intens baik di KPU Kepulauan Meranti, dan KPU Provinsi Riau khawatir sudah tertular. Beban ini benar-benar terasa berat.

Untuk menghilangkan perasaan bersalah. Satu persatu orang yang pernah kontak dicatat. Lalu ditelponi dan dijelaskan, kalau posisi hasil swab reaktif. Selanjutnya, sedang melakukan isolasi mandiri sambil menunggu hasil PCR-nya keluar.

Sambil mengingatkan, jika ada yang mengalami gejala seperti yang ada pada Covid-19 untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat.

Upaya itu terus dilakukan. Sampai benar-benar kabar dinyatakan positif dari Dinas Kesehatan keluar. Itu pula lah yang menguatkan tekad, bahwa pilihan isolasi mandiri di rumah tidak aman bagi anak-anak, isteri dan sepupu.

Pilihannya, harus diisolasi di rumah sakit. Apalagi selama menunggu hasil PCR, gejala Covid-19 seperti demam panas, batuk dan pilek terus mengiringi. Sambil menggesa agar keluarga cepat mendapatkan penanganan secepatnya. Setidaknya cepat dilakukan uji swab agar segera diketahui hasilnya. Sehingga mudah melakukan tindakan selanjutnya.

Sehingga waktu itu sudah tidak peduli lagi, di mana sebenarnya saya tertular. Namun yang lebih penting bagaimana apa yang saya alami tidak menularkan ke orang lain.

Kabar di Kamis 17 September 2020 pekan lalu itu benar-benar meringankan seluruh beban pikiran yang terus mengelayuti selama proses isolasi penyembuhan Covid-19 di RSUD Arifin Achmad. Di tengah kondisi pemulihan dan telah melewati tahapan-tahapan yang disebut kritis, kabar tersebut akan membantu percepatan proses pemulihan.

Meskipun dua kali hasil swab hasilnya masih dinyatakan positif. Tapi tetap semangat. Yang penting satu beban sudah dapat disingkirkan, meskipun dinyatakan sebagai pasien Covid-19, tapi tidak satu orang pun yang tercatat tertular karena kontak intens dengan saya.

Selanjutnya, kabar-kabar baik pun berdatangan. Selang sehari setelah itu, kabar baik serupa juga diterima. Sebanyak 21 orang yang terdiri dari anggota, sekretaris dan staf di KPU Kepulauan Meranti hasil swabnya dinyatakan semua negatif.

Mereka adalah orang-orang yang berkomunikasi intens sewaktu saya turun mendampingi penerimaan pendaftaran bakal pasangan calon di tanggal 3 dan 4 September 2020 lalu.

Sebelumnya, Senin-Selasa 14 hingga 15 September 2020 kabar baik lebih dulu datang dari sekretariat dan rekan-rekan anggota KPU Riau. Dari 40 orang yang di- rapidtest semuanya dinyatakan non-reaktif.

Sedangkan 9 orang di antaranya lagi, termasuk para anggota, sekretaris dan staf KPU Riau telah keluar hasil swab/PCR-nya. Mereka adalah orang-orang yang intens berkontak dengan saya, sebelum dinyatakan positif Cobid-19. Hasil swabnya semua dinyatakan negatif.***a