Polisi Tangkap Pengusaha Sawit Dalang Pembunuhan 2 Mantan Jurnalis

95122440-635F-41AD-A0FF-B5E40AEA39AC_w1023_r1_s1.jpg
VOAINDONESIA.COM/AFP
Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto (kiri) menanyai para tersangka pembunuhan aktivis, termasuk pengusaha kelapa sawit yang diduga mendalangi pembunuhan itu, di Medan, Sumatra Utara, 8 November 2019.

Seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah ditangkap karena diduga memerintahkan pembunuhan dua aktivis berupaya menengahi sengketa lahan antara perusahaannya dengan warga setempat, kata polisi, Sabtu, 9 November 2019. 

Dilansir AFP, Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) mengatakan, telah menangkap Wibharry Padmoasmolo karena diduga mendalangi pembunuhan Maraden Sianipar dan Maratua Siregar. Ia diduga membayar lebih dari Rp 4 juta kepada empat laki-laki untuk melakukan pembunuhan itu.

Jenazah Maraden ditemukan pekan lalu di sebuah saluran drainase dekat perkebunan kelapa sawit di Labuhan Batu, Provinsi Sumut. Sedangkan jenazah Maratua ditemukan sehari kemudian yang sama. Kedua mengalami luka tikam beberapa kali.

Laporan AFP menyebut Padmoasmolo adalah pemilik perusahaan memproduksi minyak kelapa sawit. Minyak nabati itu banyak ditemukan dalam berbagai produk, dari sabun hingga cokelat.

Menurut pihak berwenang, motif pembunuhan adalah menghentikan keterlibatan kedua laki-laki itu dalam sengketa lahan antara perusahaan Padmoasmolo dengan warga setempat. Pihak berwenang menambahkan ketika diinterogasi, Padmoasmolo telah membantah memiliki perusahaan itu.

Secara keseluruhan, lima orang telah ditangkap terkait pembunuhan berencana itu. Poliai mengatakan masih memburu beberapa tersangka lainnya.

"Kami mencari tiga orang lagi. Lima tersangka lain sudah ditahan untuk diinterogasi lebih lanjut," kata Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto.

Kedua korban, Maraden dan Maratua pernah bekerja di sebuah portal berita online lokal sebelum menjadi pekerja lepas pada 2017.

Seorang kawan Maratua mengatakan kedua laki-laki itu baru-baru ini terkenal dengan kegiatan advokasi dalam sengketa lahan, yang sering kali menjadi sumber konflik di Indonesia.

Kawan itu mengatakan Maratua aktif di sebuah organisasi yang membantu para warga yang terlibat sengketa. 

Artikel ini sudah terbit di VOA Indonesia