Badai Mematikan Siklon Tropis Senyar, Renggut Ratusan Nyawa di Tiga Negara

7-Korban-Ditemukan-Meninggal-Akibat-Banjir-Bandang-Lembah-Anai.jpg
Banjir bandang di kawasan jalan lintas nasional di Lembah Anai tepatnya di gerbang masuk Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Kamis, 27 November 2025 (Dok. Polres Padang Panjang)

RIAU ONLINE - Siklon Tropis Senyar, badai dahsyat yang melanda wilayah tropis, menjadi badai paling mematikan di Asia Tenggara tahun 2025. Badai ini merenggut lebih dari 600 nyawa di tiga negara, dengan korban terbesar berada di Indonesia dan Thailand.

Biasanya siklon tropis terbentuk di lautan luas yang hangat. Tapi Senyar, telah dinyatakan sebagai siklon tropis pertama yang terbentuk di Selat Malaka yang sempit.

Senyar terbentuk terlalu dekat dengan garis Khatulistiwa. Padahal, menurut rumus normal yang dianut selama ini, siklon tropis tidak dapat terbentuk di sekitar garis Khatulistiwa sehingga sering dinyatakan Indonesia aman dari siklon.

Sebelum terbentuk sebagai siklon tropis Senyar, sistem badai ini lebih dulu merupakan bibit siklon tropis bernama 95B. BMKG mendeteksi lahirnya bibit itu pada 21 November, seperti dilansir dari kumparan, Senin, 1 Desember 2025.

Ketika masih menjadi bibit, calon siklon Senyar ini telah memicu cuaca tak bersahabat di Sumatera bagian utara, Thailand bagian selatan dan Malaysia yang berbatasan dengan Thailand. Thailand dan Malaysia lebih dulu dilaporkan banjir dahsyat dibanding Sumatera.

Hingga akhirnya, pada 26 November pagi, bibit tersebut resmi berkembang menjadi siklon tropis dan dinamakan ‘Senyar’.

Nama ‘Senyar’ diberikan oleh India Meteorological Department (IMD), sebagai otoritas yang bertanggung jawab untuk wilayah Samudera Hindia bagian utara.

Menurut media India, nama Senyar diberikan berdasarkan daftar nama yang diusulkan oleh anggota panel penamaan siklon — dalam hal ini usulan berasal dari Uni Emirat Arab (UEA). ‘Senyar’ berarti ‘singa’.”


Senyar lalu mengamuk di Sumatera, memicu banjir, banjir bandang,dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Korban jiwa hingga Minggu, 30 November 2025.

Sedangkan di Thailand, korban tewas mencapai 170-an dan masih banyak yang hilang. Sementara di Malaysia, sebagaimana dilaporkan Reuters, korban tewas 3 orang.

Senyar juga melakukan pendaratan (landfall) di Aceh dan setelah melemah juga mendarat di kawasan Malaysia.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem bahkan menyebut daerahnya seperti terkena "tsunami kedua". Tsunami hebat terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 dan menewaskan ratusan ribu orang.

Pada 28 November 2025, Senyar melemah dan namanya menjadi Ex-Siklon Tropis Senyar.

Setelah itu mantan Senyar terus melemah, mengarah ke lautan luas di Laut China Selatan, bagian dari Samudera Pasifik Barat Laut. Sempat ada kekhawatiran mantan Senyar akan menguat kembali menjadi badai dashyat di kawasan yang menjadi otoritas Jepang. Jika menguat lagi, namanya ada kemungkinan berubah menjadi Topan Nokaen.

Meski intensitas Senyar saat ini telah punah, tetap memberi dampak tak langsung berupa hujan deras di Sumatera hingga awal Desember.

BMKG menyatakan, Senyar lebih dahsyat dibandingkan Siklon Tropis Seroja pada April 2021 yang mengamuk di NTT. Kala itu Seroja menewaskan 183 warga dan puluhan lainnya hilang.

Seroja, nama sumbangan BMKG Indonesia karena terbentuk di wilayah tanggung jawab mereka, juga menewaskan 42 orang di Timor Leste dan 1 orang di Australia.

Pada 2024, Asia Tenggara juga terkena badai dahsyat yang dinamai Topan Yagi. Korbannya antara 844 hingga 1.009. Topan yang dinamai oleh otoritas Jepang ini mengamuk di Myanmar, Filipina, dan Vietnam.