RIAU ONLINE, PEKANBARU - Penangkapan dan penahanan Gubernur Riau Abdul Wahid bersama Kadis PUPR M Arief Setiawan serta TA sekaligus orang kepercayaan Gubernur, Dani M Nursalam, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) mengagetkan semua warga Riau.
Dibalik kabar mengagetkan tersebut, Tokoh Masyarakat Riau, Prof K Suhaimi, memberikan nasihat buat semua orang. Termasuk kepala daerah, pejabat di Riau serta warga akan rusaknya penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi.
Berikut nasihat pemilik RS PMC Pekanbaru, Prof dr H K Suhaimi, SpOG(K) untuk kita semua
Pelajaran dari Gubernur Abdul Wahid
Oleh K. Suheimi
Dari kursi kekuasaan yang tinggi,
kita belajar — betapa rapuhnya sandaran dunia.
Nama besar, jabatan megah,
tak mampu menahan langkah kaki yang tergelincir.
Ia mengajarkan —
bahwa kuasa bukanlah mahkota,
melainkan ujian paling sunyi
yang menuntut hati tetap jujur di tengah gemerlap janji.
Kita memetik hikmah dari kejatuhannya:
bahwa kehormatan tak lahir dari jabatan,
melainkan dari amanah yang dijaga
meski tak ada mata yang melihat.
Dan dari berita yang gempar itu,
semoga kita belajar berdiam sejenak —
menundukkan kepala,
merenung di cermin diri sendiri:
apakah kita telah jujur
kepada Tuhan, kepada rakyat, kepada hati?
Itulah pelajaran yang tersisa —
kadang manusia jatuh,
agar yang lain tak ikut tergelincir
di jalan yang sama.
Dari balik jeruji waktu,
terdengar gema yang getir namun jujur —
bahwa kekuasaan tanpa kesadaran
adalah bara yang membakar pemiliknya sendiri.
Kita belajar,
bahwa tanda kehormatan di dada
tak sebanding nilainya
dengan ketenangan hati yang bersih dari dosa.
Kita belajar,
bahwa senyum rakyat lebih tulus
dari tepuk tangan yang dipaksakan oleh protokol.
Dan mungkin,
di kesunyian malamnya yang panjang,
ia kini mengingat masa-masa ketika
ia bisa berjalan di pasar tanpa pengawal,
disapa dengan doa, bukan dengan curiga.
Semoga dari kisah itu,
kita semua menanam satu keyakinan:
bahwa jabatan adalah titipan,
dan setiap titipan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.
Sebab sejarah bukan sekadar mencatat nama,
tetapi menulis nurani.
Dan di akhir segalanya —
yang abadi bukanlah gelar,
melainkan amal yang jujur dan ikhlas di mata Tuhan.
Barangkali, di ruang sempit renungan itu,
ia kini tahu —
bahwa tak ada benteng yang kokoh
bila dibangun dari kepentingan diri.
Betapa cepat waktu memutar arah,
dari singgasana menuju ruang tanya,
dari lampu sorot menuju bayang-bayang,
dari tepuk tangan menuju kesepian panjang.
Namun bukankah setiap kejatuhan
juga bisa menjadi permulaan?
Bukankah setiap luka
adalah pintu menuju kesadaran?
Kita tidak berhak mencaci,
karena manusia —
semuanya pernah tergoda, pernah lupa,
pernah terperosok dalam langkah yang salah.
Tapi kita boleh belajar,
bahwa kejujuran bukan sekadar kata indah di pidato,
melainkan nyala kecil
yang harus dijaga meski badai datang menggoda.
Maka biarlah kisah ini
menjadi cermin bagi para pemimpin,
dan bagi kita yang dipimpin —
agar tak lagi menuhankan jabatan,
tak lagi menyembah kemewahan semu,
tak lagi menukar nurani
dengan janji yang berumur satu malam.
Karena akhirnya,
yang tinggal hanyalah nama dan doa —
dan semoga dari kisah ini,
lahir generasi yang memimpin dengan hati,
bukan dengan hasrat diri.

