Universitas Riau, Kampus Biru yang Kehilangan Rahimnya

Ricky-Rahmadia-Alumni-Fakultas-Ekonomi-Universitas-Riau.jpg
Ricky Rahmadia, Alumni Fakultas Ekonomi – Universitas Riau (Istimewa)

Oleh : Ricky Rahmadia, Alumni Fakultas Ekonomi – Universitas Riau

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Setiap Universitas lahir dengan cita-cita yang sederhana dan agung “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Di ruang kuliah, laboratorium, pustaka, ruang diskusi, lingkungan kampus dan forum akademik melahirkan banyak Alumnus yang berhasil di segala bidang. Itulah ukuran yang paling mudah untuk dilihat dari sebuah perguruan tinggi.

Tapi ada ukuran lain yang ditunjukkan oleh sejarah yang jauh lebih sunyi. Kampus tidak saja dinilai dari banyaknya lulusan, dari banyaknya sarjana, dari banyaknya wisudawan yang tiap tahun menjalani prosesi kelulusan. 

Kampus juga dinilai dari kemampuan melahirkan penerus yang suatu saat menjaga tradisi intelektual rumah besarnya sendiri. Lulusan yang tumbuh menjadi akademisi, berkembang menjadi peneliti, memimpin jurusan, memimpin fakultas, menjadi guru besar dan pada waktunya memimpin ruang intelektual kampus yang lebih besar sebagai “Rektor”. Kematangan Institusi melahirkan pemimpin dari rahimnya sendiri. 

Universitas Riau berdasarkan sejarah nya berdiri pada 1 Oktober 1962.  Selama lebih dari enam dekade, kampus terbesar di Provinsi Riau ini telah melahirkan hampir 150 ribu alumni, yang mengisi hampir seluruh sendi kehidupan. Alumninya pernah menjadi orang nomor satu di Riau dan berbagai kabupaten, menjadi akademisi, ekonom, politisi, birokrat, pengusaha, pendidik, peneliti, aparat penegak hukum, dan berbagai bidang kehidupan lainnya. Tidak dapat dipungkiri, Universitas Riau telah memberikan sumbangsih yang sangat besar atas kemajuan dan Pembangunan Riau. Sebagai kampus yang besar dan dikenal di Riau, Universitas Riau telah melahirkan banyak alumni disegala bidang.

Karena itu, pemilihan rektor bukan saja proses memilih Pemimpin Kampus, bukan semata proses administrasi mencari administrator yang mengarahkan gerak Universitas. Lebih dari itu, pemilihan rektor sebagai cerminan dan wajah kampus sendiri. Setelah puluhan tahun mendidik banyak mahasiswa, melahirkan banyak alumni, setelah puluhan tahun mewarnai ranah akademis, dan semua pengalaman itu dipertemukan sejauh mana Universitas telah membangun estafet kepemimpinan dalam rahimnya sendiri?

Di ruang Senat Universitas Riau hari itu, lahir tiga nama calon rektor. Tetapi tak satupun alumni Universitas Riau. 

Apakah ini bentuk kekecewaan semata? Atau hanya bentuk kalimat sederhana yang nantinya juga akan terlupa oleh waktu? 

Bagi Universitas yang telah memberikan pengabdian lebih dari 63 tahun, melahirkan ribuan alumni dan mencatat banyak sejarah, yang membanggakan tradisi akademik yang lebih unggul, kalimat “Tidak Satu pun Alumni” memiliki makna yang lebih dalam dan jauh lebih bermakna dari hanya sekedar daftar nama. 

Daftar nama itu menjadi tamparan keras dan cermin bagi wajah ribuan alumni Universitas Riau yang hari ini tersebar di berbagai bidang, termasuk mereka yang mengabdikan diri dalam lingkungan akademis, baik dirumah besar Universitas Riau, maupun Perguruan Tinggi lainnya. Daftar nama itu menyisakan sesak sekaligus pekerjaan besar. 



Bukan kepada tiga calon rektor, mereka patut kita hormati sebagai akademisi. Bukan pula mempersoalkan asal almamater dari tiga nama.  Karena kepemimpinan harus tetap bertumpu pada integritas, kapasitas, dan kelayakan.

Kritik ini diarahkan kepada kampus dan sistem yang selama puluhan tahun berbicara tentang pengkaderan, pembinaan dan pengembangan kepemimpinan akademik dan estafet intelektual. Namun pada momentum yang paling menentukan, justru tidak mampu menghadirkan seorang alumni Universitas Riau dalam barisan calon pemimpin tertinggi almamaternya sendiri.

Ibn Khaldun menulis dalam “Muqaddimah” bahwa “sebuah peradaban tidak mulai melemah ketika kehilangan bangunan atau kekayaan, kemunduran justru berawal ketika sebuah masyarakat kehilangan kemampuan menyiapkan generasi penerus”. 

Lebih dari enam abad yang lalu Ibn Khaldun memberikan pendapatnya, kekuatan sebuah institusi bertumpu pada kesinambungan, pada kemampuan mewariskan semangat, nilai, dan kepemimpinan kepada generasi berikutnya. Ketika mata rantai itu melemah, sebuah peradaban mungkin masih tampak kokoh dari luar, tetapi perlahan kehilangan tenaga dari dalam.

Pendapat Ibn Khaldun bukan saja berlaku bagi sebuah negara atau kerajaan. Pendapatnya juga berlaku untuk Universitas, kampus hidup dengan hukum yang sama. Kampus bukan sekadar kumpulan gedung dan ruang kuliah, tetapi sebuah peradaban kecil yang bertahan karena tradisi keilmuan dan kepemimpinannya yang terus diwariskan.

Universitas-universitas tertua di dunia seperti Oxford dan Cambridge, bahkan tanpa perlu melihat lebih jauh, bagaimana Universitas Indonesia (UI) dan UGM, ITB dan IPB membangun kader akademiknya, agar almamaternya dipimpin oleh alumninya sendiri.. Bukan karena almamater adalah hak istimewa, tetapi karena sistem kaderisasi berhasil melahirkan pemimpin dari rahim akademiknya sendiri.

Universitas Riau memang tidak harus meniru kampus mana pun. Setiap perguruan tinggi memiliki Sejarah dan gayanya sendiri. Namun, satu prinsip tetap berlaku di mana saja, Universitas yang besar bukan hanya mampu melahirkan lulusan yang berhasil di luar kampus, tetapi juga mampu membangun pemimpin yang kelak dipercaya menjaga rumah yang telah membesarkannya.

Ruang senat itu seharusnya tidak sunyi, karena senat bukan sekadar forum administrative dan forum pemberi stempel. Senat adalah penjaga marwah dan arah akademik universitas. Di ruang itu tradisi akademik dijaga, kualitas dosen dinilai, tradisi ilmiah dipertahankan dan regenerasi kampus dibicarakan dan didebatkan untuk menemukan bentuknya sebagai masa depan Institusi. 

Ketika proses pemilihan Calon Rektor Universitas Riau berakhir tanpa menghadirkan satu pun alumni Universitas Riau dalam daftar nama, maka alumni berhak memaknainya bukan sekadar hasil seleksi, melainkan sebagai isyarat bahwa sistem kaderisasi kepemimpinan akademik memang penuh persoalan yang harus dijawab.

Ini bukan saja proses pemilihan, tetapi tamparan berulang yang sangat keras. Bukan tamparan untuk para Calon Rektor, tetapi tamparan untuk seluruh Alumni, seluruh Almamater, tamparan untuk seluruh pendidik, untuk seluruh guru besar, dan tamparan untuk seluruh anggota senat. Tamparan kolektif yang menyadarkan, bahwa sebuah Universitas yang selama ini bangga menyebut dirinya sebagai Kawah Candradimuka pencetak pemimpin, justru tak melahirkan pemimpin untuk rumah besarnya sendiri. Lalu Alumni hari ini, hasil dari system apa?

Kaderisasi bukan soal seberapa banyak kita buka ruang–ruang seminar tentang kepemimpinan, bukan sekedar seberapa banyak diskusi dan seberapa banyak organisasi kampus, atau seberapa sering pidato yang berapi–api mengenai estafet regenerasi. Kaderisasi hanya memiliki satu ukuran paling jujur, diukur oleh hasilnya sendiri. Bagaimana Kampus Biru yang bernama Universitas Riau melahirkan orang yang tumbuh di dalamnya, matang bersama tradisi akademik, lalu pada waktunya memimpin institusi yang telah membentuknya. 

Gedung dapat dibangun dalam hitungan tahun, akreditasi bisa diraih melalui kerja keras bersama, publikasi ilmiah dapat terus dibuka ruangnya. Namun membangun tradisi kepemimpinan memerlukan kesabaran lintas generasi. Mungkin inilah saat yang paling tepat bagi Universitas Riau untuk berhenti sejenak dan bercermin. 

Sejarah mencatat sebuah Perguruan Tinggi, bukan semata karena banyaknya lulusan yang dihasilkan. Tetapi sejarah mengingat universitas yang mampu berkata dengan penuh keyakinan “Inilah Alumni terbaik yang kami didik, kami tempa, kami besarkan, dan hari ini mereka kami percaya untuk memimpin rumah yang telah membesarkan mereka."

Selama kalimat itu belum terucap, Universitas Riau masih menyimpan satu pekerjaan besar yang belum selesai.

Hari ini, Kampus Biru kehilangan rahimnya!

Hari ini, kemana Alumni bisa bercermin?