Oleh : Ricky Rahmadia, Praktisi dan Penggiat Diskusi
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Suatu sore di sebuah kedai kopi, seorang teman bertanya. "Menurutmu, ekonomi Indonesia sekarang sebenarnya sedang baik atau tidak?" Saya tersenyum. "Lihatnya jangan dari kaca jendela hari ini saja. Kita lihat perjalanan mobilnya." "Mobil?". "Iya, mobil bernama Indonesia."
Tahun 1998 adalah masa ketika mobil itu mengalami kecelakaan hebat. Bukan sekadar ringsek, mesinnya rusak, bannya pecah, setirnya oleng, tangkinya bocor. Penumpangnya panik, sebagian bahkan melompat keluar sebelum mobil benar-benar berhenti.
Rupiah yang sebelumnya di kisaran Rp2.500 per dolar US tiba-tiba melompat hingga di atas Rp16.000. Perbankan runtuh, perusahaan tumbang, kemiskinan meningkat tajam.
Kalau dalam bahasa ekonomi itu disebut krisis, kalau dalam bahasa kita, itu namanya mobil masuk jurang.
Habibie, Gus Dur, dan Megawati mendapat tugas yang tidak ringan. Mereka bukan sedang mengemudi. Mereka sedang menjadi montir, membongkar mesin, mengganti baut, memperbaiki rem. Mengangkat mobil dari dasar jurang agar bisa hidup kembali. Seperti biasa, pekerjaan montir sering tidak mendapat tepuk tangan, orang baru memuji ketika mobil sudah bisa berjalan.
Ketika SBY menerima kunci kendaraan pada tahun 2004, mobil ekonomi Indonesia sebenarnya baru saja keluar dari bengkel. Masih bau oli baru, masih perlu pemanasan, masih perlu running, masih perlu diyakinkan bahwa mesin benar - benar sehat. Penumpangnya masih trauma, mereka masih ingat bagaimana rasanya terguling pada 1998. Karena itu, SBY memilih menjadi pengemudi yang sangat hati-hati.
Kita membayangkannya seperti sopir keluarga yang selalu mendengar suara mesin lebih keras daripada suara penumpang. Sedikit bunyi aneh, langsung menepi. Sedikit lampu indikator menyala, langsung buka buku manual.
Maka mobil ekonomi Indonesia melaju dengan tenang sekitar 60 kilometer per jam. Jalan lurus 60, jalan menikung 60, turunan 60, tanjakan pun 60.
Penumpang mulai gelisah. "Pak, boleh tambah gas sedikit?" SBY hanya tersenyum. "Nanti dulu. Mesinnya baru sembuh." Kalau dipikir-pikir, memang masuk akal.
Saat itu rasio utang pemerintah masih tinggi, kemiskinan di atas 16 persen, dan luka krisis belum benar-benar sembuh. Dalam teori kelembagaan, ekonom Douglass North pernah menjelaskan bahwa sebelum berbicara tentang pertumbuhan tinggi, sebuah negara harus memastikan institusi dan pondasi ekonominya stabil terlebih dahulu.
Jangan bicara balapan kalau baut roda masih longgar.

Memang, selama periode pertama, satu per satu baut ekonomi Indonesia dikencangkan. Utang pemerintah yang mendekati 56,5 % PDB terus turun hingga sekitar 35% menjelang akhir masa pemerintahannya. Cadangan devisa meningkat dari sekitar USD 36 miliar menjadi lebih dari USD 65 miliar. Bahkan ketika krisis keuangan global 2008 mengguncang dunia, mobil Indonesia memang bergoyang, tetapi tidak terguling. Mesinnya semakin sehat.
Masuk periode kedua SBY, kondisi mobil sebenarnya sudah jauh berbeda. Kalau dulu city car yang baru keluar bengkel, sekarang sudah menjadi MPV yang nyaman. Mesinnya lebih besar, tangkinya lebih penuh.
Pertumbuhan ekonomi mendekati 6 %. Harga komoditas dunia sedang bagus, uang negara juga lebih tersedia.
Sebagian ekonom mulai berbisik. "Pak, mobilnya sudah kuat." "Pak, jalannya juga sedang lapang." "Pak, mungkin sudah waktunya sedikit lebih cepat." Tetapi SBY tetaplah SBY. Kecepatan naik, namun tidak banyak. Dari sekitar 60 kilometer per jam menjadi 80 atau 90 kilometer per jam. Jalan lurus, segitu. Belok, segitu. Nikung, segitu. Turunan, ya segitu juga.
Sebagian penumpang mulai merasa perjalanan terlalu hati-hati. Sebagian ekonom bahkan berpendapat Indonesia sedang memiliki kesempatan emas untuk berakselerasi lebih cepat, tetapi kesempatan itu tidak dimanfaatkan secara penuh. Namun begitulah karakter SBY. Beliau tampaknya lebih takut merusak mesin daripada takut disebut lambat. Harus diakui, berkat kehati-hatian itu, kendaraan ekonomi Indonesia sampai ke tujuan berikutnya dalam kondisi sehat.
Tahun 2014, kunci kendaraan berpindah tangan kepada Jokowi. Begitu duduk di kursi pengemudi, Jokowi melihat MPV yang sehat itu. Mesinnya bagus, tangkinya setengah hampir penuh.
Tetapi ada satu masalah, jalan menuju tujuan masih sempit. Pelabuhan kurang, bandara kurang, bendungan kurang, jalan tol kurang, kawasan industri belum cukup.
Jokowi tidak hanya menambah kecepatan, ia mulai memperbesar kendaraan. Pedal gas ditekan, mesin meraung, penumpang mulai panik. "Pak, pelan sedikit!" "Pak, ini jalan raya atau sirkuit?" "Pak, utangnya bagaimana?" Tetapi Jokowi tampaknya punya cara pandang berbeda.
Kalau jalan lurus, gas. Kalau jalan kosong, gas. Kalau ada peluang menyalip, gas.
Tetapi ketika pandemi datang, ketika tikungan tajam muncul, ketika jalan menjadi licin, kecepatan diturunkan dan fokus berpindah pada menjaga kendaraan tetap berada di jalurnya. Yang sering dilupakan orang adalah Jokowi bukan hanya membuat mobil melaju lebih cepat, ia memperbesar mobilnya.
Jalan tol bertambah lebih dari 2.000 kilometer. Pelabuhan dibangun dan diperluas, bandara bertambah, bendungan bertambah, kawasan industri tumbuh, hilirisasi mulai dipaksa berjalan.
MPV yang diwarisinya perlahan berubah menjadi SUV. Lebih besar, lebih kuat, lebih siap membawa beban yang lebih berat. Kalau ingin melihat ukuran SUV itu, lihat saja angka ekonominya.
Saat Jokowi mulai memimpin pada 2014, ukuran ekonomi Indonesia berada di kisaran Rp10.500 triliun. Sepuluh tahun kemudian, nilainya mendekati Rp22.000 triliun. Hampir dua kali lipat. APBN yang sebelumnya sekitar Rp1.800 triliun meningkat menjadi lebih dari Rp3.300 triliun. Artinya bukan hanya kendaraan yang membesar, tangki bahan bakarnya juga ikut membesar. Kapasitas negara untuk bergerak menjadi jauh lebih kuat.
Tentu saja kritik berdatangan, sebagian menyebut terlalu agresif, sebagian menyebut terlalu ambisius.
Sebagian lagi mengeluhkan utang dan pelemahan rupiah yang dari Rp11.000 - an per dolar pada awal era Jokowi bergerak hingga kisaran Rp16.000 - an pada akhir masa pemerintahannya. Tetapi di tengah kritik itu, pembangunan terus berjalan.
Ketika pandemi Covid-19 datang menghantam dunia, SUV itu menghadapi ujian terbesarnya. Banyak kendaraan ekonomi negara lain tergelincir, sebagian mogok, sebagian masuk parit. Indonesia juga terpukul.
Ekonomi sempat terkontraksi 2,07 persen pada tahun 2020. Namun pemulihannya relatif cepat, pertumbuhan kembali ke atas 5 persen. Indonesia bahkan dipercaya memimpin G20 pada tahun 2022.
Saat itulah banyak orang mulai sadar. Ternyata SUV yang dibangun selama satu dekade bukan sekadar pajangan. Ia memang dirancang untuk menghadapi jalan yang lebih berat.
Lalu 2024 datanglah Prabowo. Di sinilah cerita memasuki babak baru, karena yang diwarisinya bukan lagi city car yang baru keluar dari bengkel. Bukan pula MPV yang sedang berkembang, yang diterimanya adalah Super SUV segala medan.
Sudah pernah melewati badai Covid-19, sudah pernah melewati perang dagang, sudah pernah melewati gejolak geopolitik, sudah pernah melewati berbagai tanjakan dan tikungan. Mesinnya besar, rangkanya kuat, suspensinya teruji.
Cadangan devisa Indonesia berada di kisaran lebih dari USD 150 miliar. Perbankan relatif kuat. Inflasi relatif terkendali. Rasio utang pemerintah masih berada jauh di bawah banyak negara besar dunia.
Ibarat mobil, fitur keselamatannya jauh lebih lengkap dibanding era 1998. Prabowo melihat kendaraan itu. Lalu bertanya: "Kalau mobil sebesar ini hanya diparkir di garasi, buat apa?"
Maka fokus pembangunan mulai bergeser. Jalan tetap penting, pelabuhan tetap penting, bandara tetap penting. Tetapi sekarang perhatian mulai diarahkan kepada manusia yang akan memanfaatkan semua itu.
Muncullah Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Ketahanan pangan, pembangunan Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga miskin. Perbaikan rantai pasok pertanian dan penguatan ekonomi desa.
Sebagian orang bertanya, bukankah ini seperti kembali ke belakang? Justru tidak!. Dalam teori human capital yang dikembangkan Gary Becker dan Theodore Schultz, kualitas manusia adalah pondasi produktivitas jangka panjang.
Jalan tol yang bagus tidak akan banyak gunanya jika anak-anak yang kelak menggunakannya tumbuh dengan gizi buruk. Pelabuhan modern tidak akan banyak manfaatnya jika sumber daya manusianya tertinggal. Karena itu, setelah fase membangun pondasi dan memperbesar kendaraan, mungkin memang tiba waktunya memperkuat pengemudi dan penumpang di dalamnya.
Tetapi seperti biasa, penumpang tetaplah penumpang. Ketika rupiah melemah, IHSG bergejolak. Ketika dunia sedang tidak baik-baik saja. Mereka kembali berteriak. "Pelan-pelan!" "Jalannya buruk!" "Bahaya!"
Prabowo menoleh kepada mekaniknya.
"Bagaimana Pur?"
Mekanik melihat dashboard, melihat suhu mesin, melihat tekanan oli, melihat bahan bakar. Lalu menjawab santai.
"Mesinnya sehat, Pak."
"Yakin?"
"Yakin."
"Gas?"
"Gas, Pak."
Sebagian penumpang percaya, sebagian masih skeptis, sebagian lagi memilih turun dan berjalan kaki.
Pada akhirnya, mungkin kita terlalu sering memperdebatkan siapa pengemudi terbaik. Padahal yang lebih menarik adalah melihat perjalanan secara utuh.
SBY menerima mobil yang baru keluar dari bengkel dan memastikan mesinnya sehat. Jokowi menerima mobil yang sehat lalu memperbesar kapasitasnya hingga menjadi SUV yang tangguh. Prabowo menerima SUV besar dan berusaha memastikan seluruh tenaga yang sudah dibangun benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Karena dalam ekonomi pembangunan, tidak ada satu teori yang cocok untuk semua zaman. Tidak ada satu kecepatan yang tepat untuk semua jalan. Ada masa ketika yang dibutuhkan adalah memperbaiki mesin. Ada masa ketika yang dibutuhkan adalah memperbesar kendaraan dan ada masa ketika yang dibutuhkan adalah memastikan seluruh penumpang ikut menikmati perjalanan. Masing – masing zaman dengan tantangannya sendiri.
Mungkin karena itulah, setelah lebih dari dua puluh tahun perjalanan, pertanyaan terbesar kita bukan lagi apakah mobil Indonesia mampu berjalan. Mesin yang pernah rusak telah diperbaiki, kendaraan yang dulu kecil telah diperbesar. Berbagai badai dan tikungan tajam pun telah berhasil dilalui.
Secangkir kopi di hadapan kami baru terminum satu tegukan, dan tanpa terasa sudah dingin.
Di luar kedai, kehidupan berjalan seperti biasa. Orang-orang datang dan pergi. Sebagian optimistis, sebagian lagi masih menyimpan kekhawatiran.
Sementara itu, mobil bernama Indonesia terus melaju. Seperti semua perjalanan besar dalam sejarah, yang akan menentukan bukan sekadar seberapa keras kita menekan pedal gas, melainkan seberapa jauh kita berani membawanya melaju.

