Cerita Relawan Kemanusiaan Menjemput APD Covid-19

RAPP-APD.jpg
(istimewa)

RIAUONLINE, PELALAWAN - Keberanian merupakan modal dasar untuk melewati berbagai tantangan. Ia juga bisa digunakan untuk memanfaatkan berbagai peluang dan mengatasi kesulitan untuk membantu orang lain. Inilah tiga sosok milenial pemberani, yang memiliki tekad kuat menaklukkan tantangan di saat krisis.

Sari Rezki Antika (27), Digital Media Officer di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bersama dua rekannya, Fembiarta Binar Putra (29), Senior Associate Corporate Communication APRIL Indonesia dan Yosea Kurnianto (30), Program Manager for Civil Service Leadership Development (CSLD) Tanoto Foundation, menawarkan diri menjadi relawan dalam misi kemanusiaan Tanoto Foundation dan grup Raja Garuda Emas (RGE) Indonesia. Ketika ditawarkan, tanpa pikir panjang, Sari, Fembi, dan Yosea langsung menyanggupinya. Mereka beralasan pandemi sudah cukup memberi begitu banyak teror dan ketakutan di berbagai belahan dunia.

Ketiga relawan muda tersebut terbang selama enam jam dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Pudong International Airport di Shanghai. Dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300 ER yang disewa Tanoto Foundation, mereka membawa misi khusus untuk menjemput bantuan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan di Indonesia. Bantuan tersebut berupa 1 juta masker, 1 juta sarung tangan, 100 ribu baju pelindung dan 3 ribu kacamata pelindung.


“Saat banyak yang menarik diri, menghindari kemungkinan terpapar, saya enggan menyerah dengan kondisi itu. Bisa jadi ini untuk menguji nilai kemanusiaan kita, apalagi tugasnya belum seberat tugas tenaga kesehatan kita di benteng pertahanan, bertaruh nyawa dan mengorbankan kepentingan pribadi demi keselamatan orang lain,” tutur Sari, Kamis (30/4) di Pangkalan Kerinci.
Sari mengaku keluarganya sempat khawatir ketika diberi tahu akan berangkat ke Shanghai, Tiongkok.

“Akhirnya saya mendapat restu setelah berhasil meyakinkan kakak saya. Beliau mendoakan semoga perjalanan ini menjadi amal jariyah bagi saya,” ucapnya.

Sesampainya di Bandara Pudong, Shanghai, mereka diberi instruksi untuk mengenakan APD lengkap. Seluruh penumpang dilarang keluar dari badan pesawat selama proses pemuatan barang. Setelah itu, pesawat langsung kembali ke Bandara Soekarno Hatta.
“Keselamatan kami dalam misi ini adalah hal utama, sehingga pihak Tanoto Foundation dan Grup RGE Indonesia memastikan pengamanan yang benar-benar ketat. Tanpa keluar dari pesawat, kami menjalankan tugas yang sesungguhnya, memantau proses masuknya 30 ton barang bantuan masuk satu per satu ke dalam pesawat. Sebelumnya, kami juga memastikan bahwa setiap kursi pesawat dan bagasi kabin telah melewati proses sterilisasi dan setiap permukaannya terlindung oleh plastik,” tutur Sari.

Selama penerbangan, tim relawan hanya tidur kurang dari dua jam. Mereka mengaku tantangan terbesar saat itu adalah kemampuan mengendalikan diri dan mengesampingkan rasa lelah dan takut.
Setiba di tanah air, relawan langsung menuju posko Kementerian Kesehatan RI di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk pemeriksaan kesehatan. Mereka menjalani serangkaian tes di antaranya suhu tubuh, denyut jantung, hingga tes cepat (rapid test) Covid-19 melalui pengambilan sampel darah.

“Meski hasil tes kami negatif, kami wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari,” tambah Sari.
Sebagai anak bangsa, Sari, Fembi, dan Yosea merasa perlu berbuat sesuatu untuk ikut andil dalam percepatan penanganan Covid-19. Salah satunya menjadi relawan penjemputan bantuan APD bagi tenaga kesehatan di Indonesia. Bantuan APD tersebut akan diserahkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk kemudian didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit yang menjadi rujukan penanganan Covid-19 di Indonesia.

-->