Cerita Pedagang Minyak Dijauhi Warga Lantaran Abangnya Meninggal Terindikasi Covid-19

ibrahim.jpg
(istimewa)

Laporan: ANDRIAS

RIAU ONLINE, BENGKALIS - Duka mendalam dirasakan Ibrahim (58) usai kehilangan abang kandungnya, Inisial N (69) meninggal dunia diduga terjangkit virus corona atau Covid-19 berdasarkan hasil rapid test. Padahal sebenarnya, hasil positif pada hasil rapid test belum dapat memastikan bahwa almarhum adalah pasien positif corona mengingat hasil uji laboratoirum swabnya belum keluar.

Ibrahim kian sedih, usai ditinggal pergi salah satu keluarga, dia pun harus merasakan dampak dari stigma masyarakat akan ketakutan penularan Covid-19. Pria yang sehari-hari berdagang minyak eceran itu seolah terkucilkan dari lingkungan.

Bukan karena imbauan pembatasan sosial (social distancing), stigma yang muncul di tengah masyarakat justru membuat ekonominya kian terpuruk. Penghasilan dari jualan minyak eceran yang dijajakan di tepi jalan lintas Desa Kuala Alam, Kecamatan Bengkalis menurun drastis.

Tidak ada lagi terlihat warga membeli minyak di kios-nya, selentingan kabar sampai ke telinganya membuat miris, warga takut membeli minyak di kiosnya karena khawatir tertular Covid-19 usai salah satu keluarganya meninggal yang juga belum tentu akibat virus corona.

"Biasanya, bisa laku terjual satu jeregen lebih dan mendapatkan uang sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 setiap harinya. Tapi saat ini, untuk mendapatkan jual beli Rp 40.000 saja sangat sulit sekali," kata Ibrahim ditemui RIAUONLINE.CO.ID, Sabtu 18 April 2020 di kediamanya di Desa Kuala Alam.

Ibrahim mengaku pasrah dengan kondisi yang menimpa keluarganya saat ini.

"Kita serahkan saja kepada Allah. Kami yakin, abang kami itu meninggal bukan karna virus conona. Kami keluarga yang tahu bahwa almarhum mempunyai penyakit yang sudah lama diidapnya," jelasnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Ibrahim berharap masyarakat tidak berlebihan menanggapi persoalan yang belum tentu kebenarannya dan meminta warga tetap tenang.

Sebelumnya, pihak RSUD Bengkalis menyakatan, warga Desa Sungai Alam, inisial N (69) merupakan abang kandung Ibrahim itu meninggal dengan hasil uji rapid test positif. Walaupun hasil rapid test tesebut belum membuktikan bahwa yang almarhum positif Covid-19.

Disaat itu, pihak RSUD Bengkalis meminta kepada pihak keluarga sebanyak enam orang untuk melakukan pemakaman.

"Kalau abang kami itu benar positif corona, kenapa kami (keluarga) disuruh mengebumikan, kok tidak petugas medis? Artinya, pihak medis yang mengerti virus itu menginginkan kami sekeluarga mati terjangkit virus tersebut," geramnya.

Setelah satu hari dikebumikan, pihak medis datang melakukan tes terhadap dia dan keluarga yang melakukan pemakaman.

Diakui Ibrahim, warga Sungai Alam dan Kuala Alam memang sudah mengetahui dia dan anaknya langsung melakukan pemakaman almarhum hal itu pula membuat warga menjadi takut dan menghindar saat berpapasan dengan keluarganya.

"Warga yang biasanya datang kemari silaturahmi dan berbual bual di kios inipun tidak pernah lagi datang. Kabarnya mereka takut tertular virus corona," ulasnya semberi tertawa kecil.

Penghasilan minyak eceran merosot, pria paruh baya ini pun harus berdagang keliling ke Sungai Pakning tiap pekan untuk terus memenuhi kebutuhan keluarga.

"Walaupun pendapatan jual eceran bensin berkurang, saya berusaha berjualan pisang ke Sungai Pakning dan Alhamdulillah, Allah masih memberikan rezeki saat musibah menimpa keluarga kami ini," ujarnya sumringah.

Belakangan, Tim gugus tugas menyatakan Bengkalis menyatakan, sebanyak delapan pasien asal Provinsi Riau yang masuk kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dintayakan negatif terjangkit Covid-19.

Delapan pasien dinyatakan negetif setelah hasil pemeriksaan laboratorium atau swab testnya keluar dari Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Minggu, 19 April 2020.

Dari delapan hasil swab negatid, salah satunya atas nama N yang sempat dirawat di RSUD Bengkalis dan meninggal dunia beberapa waktu lalu.

"Alhamdulillah, pemeriksaan Swab untuk PDP N hasilnya tidak positif, tapi negatif," kata Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Bengkalis Johansyah dalam keterengan tertulisnya diterima RIAUONLINE.

Terpisah, Ibrahim mengaku belum mengetahui informasi dari gugus tugas. Namun pihaknya masih menunggu peryatakan resmi dari RSUD Bengkalis.

"Belum ada, Kami (keluarga) belum dikasih tahu. Kami berharap ada pernyataan resmi disampaikan dari pihak RSUD ke keluarga akan hasil swab tersebut," kata Ibrahim.

Pun demikian, Adik dari almarhum PDP ini mengaku senang walaupun belum ada pemberitahuan resmi pihak RSUD Bengkalis. Dia mengaku informasi dari pembicaraan warga mengatakan hasil swab abang kandungnya negatif.

"Alhamdulillah, walaupun baru sebatas cerita dari warga kepada kami. Keluarga menunggu hasil pasti dari pihak RSUD Bengkalis. Dan Kita mintalah Pemerintah dan media bisa memulihkan nama baik keluarga kami. Pasalnya, dengan keadaan ini keluarga kami sangat terpukul dan merasa terkucilkan oleh warga," pintanya.

Terkait persoalan ini, Direktur RSUD Bengkalis, dr Ersan Saputra belum bisa dikonfirmasi RIAUONLINE.CO.ID. Saat dihubungi melalui telephon maupun pesan WhatsApp.

-->