Kena PHK dan Tak Punya Uang, Sopir Bus Nekat Jalan dari Jakarta ke Solo

Maulana-Arif-Budi-Satrio.jpg
((Istimewa/ Solopos))

RIAU ONLINE, JAKARTA-Maulana Arif Budi Satrio sungguh nekat. Pria yang berprofesi sebagai sopir ini nekat jalan kaki dari Jakarta ke Solo. Warga Sudiroprajan, Jebres, Solo itu nekat jalan kaki karena kena PHK dan kehabisab uang. 

Sebelumnya, Rio, panggilan akrabnya, sempat pulang kampung dari Jakarta, tepatnya dari Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, menggunakan bus, tapi tidak jadi berangkat lantaran larangan mudik.

"Saya memesan bus, sudah bayar Rp500 ribu tapi yang datang malah mobil minibus. Saya enggak mau, akhirnya tidak jadi berangkat. Kemudian meminjam mobil teman, nah pas sampai di Cikarang, saya diminta balik ke kota asal," katanya, dikutip Solopos, Selasa 19 Mei 2020.

Berbekal dua tas, yakni tas punggung dan tas selempang, dirinya memutuskan nekat berjalan kaki dari Jakarta menuju kampung halamannya di Solo. Perjalanan dimulai pada Senin, 11 Mei 2020. Ia mengaku hanya bersandal jepit, sepatunya dibungkus tas keresek.

Pria yang berprofesi sebagai sopir bus itu hanya mengenakan celana pendek, kaus, dan penutup wajah saat memulai perjalanan. Dalam sehari, Rio berjalan kaki selama 12-14 jam atau sekitar 100 kilometer.

Langkahnya dimulai selepas Subuh hingga menjelang dini hari. "Saking lamanya berjalan di bawah terik matahari, kulit saya sampai terbakar. Selama perjalanan, saya istirahat di SPBU dan warung-warung tempat pemberhentian truk," katanya.

Setelah empat hari berjalan, tepatnya pada Kamis 14 Mei 2020, Rio tiba di Kecamatan Gringsing, Batang. Di sana dia dicegat rekannya sesama sopir yang tergabung dalam wadah Pengemudi Pariwisata Indonesia (Peparindo).

Komunitas tersebut akhirnya menjemput dan mengantarkan Rio ke Semarang. Di sana, Rio diantar ke Sekretariat Peparindo Jawa Tengah. Sejak saat itu, warga Solo itu tak dibolehkan lagi oleh temannya untuk melanjutkan perjalanan pulang kampung dengan jalan kaki.

Sesampainya di Kota Bengawan, pada Jumat (15/5/2020) pria 38 tahun itu pun tidak langsung pulang ke rumahnya. Dirinya dipaksa tinggal sementara di Grha Wisata Niaga Solo untuk menjalani karantina selama 14 hari, sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

"Awalnya sempat takut juga karena embel-embel karantina. Tapi ternyata malah di sini nyaman dan penuh kekeluargaan. Kami di sini benar-benar dihargai, makan enak, dan ada hiburan," ungkap Rio.

Warga Solo itu kemudian mengisahkan alasannya pulang kampung. Dia kehilangan mata pencaharian. Perusahaan travel tempatnya bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuatnya tak punya pendapatan.

Pandemi Covid-19 menghantam perusahaan tempatnya bekerja sejak Maret. Pegawai dan kru bisnis persewaan bus pariwisata itu pun dirumahkan. Saat di-PHK, ia belum mendapatkan gaji, apalagi tunjangan hari raya (THR).

"Saya pulang karena uang di genggaman tinggal Rp300 ribuan. Kontrakan sudah saya serahkan kepada teman saya yang diusir. Dia lebih kasihan karena punya anak kecil. Saya minta dia tinggal di sana sampai kontrakan saya selesai akhir Juni," ucapnya. Artikel ini sudah terbit di Liputan.com