Ketika Bang Ali Sadikin Tampar Makelar Tanah Keturunan di Kantornya

Pelantikan-Ali-Sadikin-oleh-Presiden-Soekarno.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINEDi Balai kota DKI, pukul 11.00. Pak Ciputra (Pak Ci), ketika itu masih berusia 35 tahun duduk bersebelahan dengan lelaki baru dijemputnya. Mereka menunggu di bangku di dekat sekretariat. Gubernur Ali Sadikin kemudian melintas. Begitu melihat Pak Ci, ia menanyakan mana orang telah menghasut para pemborong.

Pak Ci menunjuk ke arah orang di sebelahnya, kepala daerah baru menjabat itu mendekat. Sembari mencengkeram leher ia menyeret lelaki berpengaruh itu ke kamar kerjanya. Di sana, makelar itu ia tampeleng.

“’Kamu yang melawan, ya?’ Plak…plak… plak…’Saya nggak melawan, Paaak…ampun…ampun’,” Pak Ciputra menirukan suara ia dengar dari ruang kerja Gubernur. “Orang itu digampar Bang Ali beberapa kali. Saya mendengar suaranya dari luar.”

“Orang itu tidak melawan?” tanyaku. “Sama sekali tidak melawan…mana berani? Dia hanya mengaduh dan ampun-ampun saja,” jawab Pak Ci.

Sama sekali ia tak menyangka kalau pria berusia 40-an tahun itu akan dihajar Gubernur. Pak Ci menceritakan kejadian itu ke kam, Andrias Harefa, Wahyudi S. Leo, Hendri Bun, dan aku, dan kisah itu kutuliskan di buku Jaya 50 Years and Beyond’ (kitab ini rampung tahun 2012). Ceritanya belum berakhir.

Setelah ‘ditampol’, makelar keturunan Tionghoa itu disuruh Bang Ali pulang. Pak Ci yang menjemput, berarti dia pula mengantarkan. Di mobil, seperti waktu berangkat, hanya ada tiga orang, sopir, Pak Ci, dan orang wajahnya baru ‘dipermak’.

Di kursi tengah kedua orang etniknya sama duduk bersebelahan. Pak Ci gentar dan khawatir karena bisa saja ia menjadi pelampiasan dendam lelaki gempal tersebut. Tapi begitu melirik kaki orang itu ia menjadi lega. “Lututnya ternyata gemetaran. Kelihatannya ia shock. Saya menjadi tenang,” ucapnya sambil tertawa. .

Selama perjalanan dari Senen keduanya diam seribu bahasa. Pak Ci sendiri enggan membuka percakapan sebab merasa serba salah. Ternyata petangnya, sekitar pukul 16.00, Bang Ali muncul di Senen.

Ia mencari kantor calo yang sudah diganjarnya dengan tamparan. Setelah menemukannya ia lantas bertindak. Bang Ali memerintahkan agar kantor tersebut ditutup saat itu juga dan sang pemilik tidak boleh lagi beroperasi di sana utuk seterusnya.

Pak Ci menyaksikan adegan tersebut. “Mulai besok kamu tidak boleh berkantor di sini lagi!" kata Bang Ali. “Iya…Iya, Pak, kata si makelar.”

Mengapa letnan jenderal KKO (Marinir) tersebut begitu murka ke orang tersebut? Pak Ci menjelaskan duduk masalahnya. Di tahun 1966 itu, Bang Ali belum lama menggantikan dokter Soemarno Sasroatmodjo sebagai Gubernur DKI.

Hasudungan Sirait

 

PENULIS, Hasudungan Sirait berfoto bersama Peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi.

PT Pembangunan Ibukota Jakarta Raya (PT Pembangunan Jaya) dipimpin Pak Ciputr, ia direktur yang ‘de facto’ menjalankan fungsi Direktur Utama, sedang mengerjakan Proyek Senen. Pasar tua yang sesak dan kumuh itu akan dibongkar dan dibangun lagi agar rapi dan megah. Untuk itu, pengosongan kawasan dan pemindahan sementara penghuninya akan dilakukan.

Saat akan dialihkan, sejumlah kalangan ternyata menolak angkat kaki. Seorang mayor, misalnya, tak mau pindah dari rumahnya. Ia malah mendatangi Pak Ci. Saat berhadapan, dengan berang ia menegaskan pembangkangannya. Untuk menekan orang di depannya, ia meletakkan pistol di atas meja.

Arsitek lulusan ITB berusaha setenang mungkin menjelaskan bahwa yang dikerjakannya adalah proyek DKI. Ternyata hardikan ia dapatkan. “’Eh, kamu mau lawan saya ya?’, katanya,” Pak Ci menirukan.

Pak Ci menguatkan hati. Ia menerangkan, Proyek Senen demi kemaslahatan masyarakat banyak. Di saat dia masih berbicara mayor itu beringsut begitu saja. Persoalan pun mengambang.

Sesudah menghadapi mayor, Pak Ci ternyata kemudian harus berurusan dengan seorang makelar berpengaruh di Senen. Orang itu telah memanggil semua pemborong di sekitar Senen. Tujuannya? Mempengaruhi mereka agar tidak melepaskan tanahnya. Alhasil, perundingan pembebasan tanah untuk Proyek Senen pun ‘mangkrak’.

Merasa mentok, Pak Ci lantas melapor perkembangan terkini ke Bang Ali sebagai otoritas tertinggi kota Jakarta. Suami dokter gigi Nani Sadikin itu berang sebaik mendengar laporan.

Perwira tinggi yang pernah mengikuti pendidikan di The United States Marine Corps (USMC), Amerika Serikat, seketika menyuruh Pak Ci memanggil sang makelar. Penampelengan dikisahkan tadi pun berlangsung.

Kabar Gubernur menghajar makelar top rupanya lekas menyebar. Orang-orang Pembangunan Jaya langsung merasakan imbas positifnya. Tidak ada lagi berani macam-macam ke mereka. Sang mayor yang menakut-nakuti dengan pistol itu pun tak pernah berulah lagi.

Pemindahan para pedagang dan penghuni lain ke kawasan Kawi-kawi, Kramat Sentiong [kini Johar Baru] akhirnya berjalan mulus. Terapi kejut Bang Ali itu jelas mujarab. Lahan di Kawi-kawi seluas 40 hektare tadinya adalah pemakaman lawas Tionghoa. Dari sana kerangka jenazah kemudian dipindahkan ke Jalembar.

Hubungan Bang Ali dengan Pembangunan Jaya sendiri bertambah erat sesudah kejadian tersebut. Sejarah kemudian mencatat, perikatan mutualistis mereka berlangsung seumur hidup. Perusahaan dikomandani Pak Ciputra itulah paling diandalkan Bang Ali dalam membenahi wajah Jakarta.

Pada sisi lain, korporasi berbasis properti itu mendapatkan banyak kemudahan sebagai milik sekaligus mitra Pemda DKI. PT Pembangunan Jaya didirikan pada 3 September 1961 oleh Soemarno Sasroatmodjo, Hasjim Ning dan August Musin Dassad (keduanya pengusaha terkemuka juga kawan karib Presiden Soekarno),

Selain itu, terdapat juga nama Sutjipto Surjo Amidharmo (Dirut Asuransi Jiwa Bersama Bumiputra 1912), Teuku Jusuf Muda Dalam (Dirut Bank Negara Indonesia 1946), Jan Daniel Massie (Dirut Bank Dagang Negara), Rantun Albert Benjamin Massie, dan Ciputra. Saham korporasi ini 25 persen dimiliki Pemda DKI dan 75 persen swasta.

Metropolis
Presiden Soekarno, seperti Pak Ciputra adalah lulusan jurusan arsitektur ITB (sebelumnya bernama Technische Hoogeschool te Bandung, THS) ingin menjadikan Jakarta kota utama dunia yang harus diperhitungkan kaum penganut ajaran neokolonialisme-kolonialisme-imperialisme (Nekolim) sekalipun.

Metropolitan modern tertata apik dan dipenuhi infrastruktur megah termasuk jalan raya dan gedung tinggi untuk perkantoran dan hotel, itu impiannya. Setelah berkuasa penuh lewat Dekrit Presiden Tahun 1959 ia mulai mewujudkan visinya tersebut.

Saat hendak menggelar Asian Games di Jakarta (berlangsung pada 24 Agustus-4 September 1962) dan ajang tandingan Olympiade, Games of The New Emerging Forces (Ganefo, 10-22 November 1963), pembangunan infrastruktur ia genjot kendati keuangan negara kian parah saja.

Di masa itulah kompleks olahraga terbesar di Asia Tenggara, Senayan, Hotel Indonesia, dan jembatan layang Semanggi hadir. Perluasan ruas jalan Thamrin-Sudirman-S Parman (Grogol) juga di era tersebut.

Impian Bung Karno masih banyak. Di tahun 1966, di saat kedudukannya kian rentan akibat Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S), ia menjadikan Letjen Ali Sadikin sebagai gubernur provinsi utama Indonesia. Alasannya? Seperti pernah ia katakan, hanya orang tegas, keras kepala (koppig), berani, dan lurus bisa membenahi Jakarta. Ibukota memang sejak lama didera sejuta masalah.

Bang Ali masih berumur 43 tahun saat dilantik Presiden Soekarno sebagai Gubernur DKI pada 28 April 1966. Letnan Jenderal KKO itu segera berhadapan dengan gunungan masalah kampung raksasa akan dimetropoliskan. Saat itu, penduduk di provinsi ini sudah sekitar 3,6 juta, padahal tahun 1945 masih sekitar 600 ribu.

Kalau saja warga ini sejahtera tak masalah. Realitasnya, tak kurang dari 60 persen mereka miskin dan berdiam di wilayah kumuh dengan kepadatan 400-600 orang per hektare. Anak-anak mereka sudah cukup umur 60 persen tak bersekolah.

Man of action, itulah Bang Ali. Ia tidak banyak ngomong, apalagi berceramah. Pencitraan jauh dari pikirannya (sementara seorang pejabat tinggi kita kulihat dengan mata sendiri melakukannya dengan sangat terampil di Frankfurt dan di Bogor tahun lalu, ia mengerahkan awak stasiun televisi dan media lain agar acap diwartakan;. Kudengar pencitraan berbiaya mahal itu merupakan kebiasaanny, untuk mendatangkan kru TV bermobil satelit ke Bogor saja ia mengeluarkan tak kurang dari Rp 120 juta per hari].

Bang Ali menimbang dan menyiapkan segala sesuatu dengan matang sebelum menjalankan sebuah keputusan. Kemaslahatan orang banyak menjadi prioritasnya. Sebab itulah ia akan berang manakala ada yang merintangi langkahnya. Jangankan melabrak, menabok pun ia mau kalau sudah naik darah. Betapa keras hantaman telapak tangan sang DKI-1, beberapa orang telah merasakannya.

Silakan Baca Catatan Bang Has dengan klik di sini 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline