RIAU ONLINE, PELALAWAN - Dunia konservasi kembali berduka setelah seekor anak gajah Sumatera ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis, 26 Februari 2026.
Satwa dilindungi tersebut diduga telah mati hampir sepekan sebelum akhirnya ditemukan tim patroli. Sebelum kematian anak gajah di penghujung bulan Februari ini, kematian gajah jantan juga terjadi dan berakhir tragis di awal bulan Februari 2026.
Gajah jantan berusia 40 tahun itu mati ditembak oleh pemburu liar di kawasan konsesi Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Pelalawan, Riau.
Berikut RiauOnline merangkum kematian dua ekor Gajah Sumatera sepanjang bulan Februari 2026.
1. Gajah Jantan Mati Ditembak Pemburu Liar
Seekor gajah Sumatera berusia 40 tahun, ditemukan mati dengan kondisi mengenaskan di areal sekitar konsesi Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Pelalawan pada Senin, 2 Februari 2026 lalu. Gajah tersebut mati setelah ditembak dua kali di bagian kepala lalu dimutilasi untuk diambil gadingnya oleh pemburu liar.
Gajah tersebut diduga dibunuh dengan cara ditembak diketahui setelah tim labfor Polda Riau menemukan proyektil peluru yang tertinggal di tengkorak kepala gajah serta tidak ditemukan gading di lokasi kejadian.
Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Riau, Kombes Pol Ade Kuncoro, menegaskan bahwa pihaknya telah bergerak cepat dengan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi guna mengungkap kasus tersebut.
"Kita telah lakukan olah TKP di sana dan kita juga mencari saksi-saksi. Ada lima saksi yang kita periksa, termasuk hasil nekropsi dan labfor sudah diperiksa. Kita berharap perkara ini segera dapat kita ungkap dan pelakunya ditangkap," ujar Kombes Ade, Sabtu, 7 Februari 2026.
Menurutnya, pengungkapan kasus ini menjadi atensi serius karena menyangkut satwa yang dilindungi undang-undang dan terancam punah. Untuk mempercepat proses penyelidikan, Polda Riau telah menurunkan satu tim khusus dari Subdit IV Ditreskrimsus untuk bergabung dengan jajaran Polres Pelalawan.
"Sudah kami turunkan satu tim dari Subdit IV, bergabung dengan tim dari Polres Pelalawan. Lima orang saksi sudah diperiksa," jelasnya.
Kombes Ade memastikan kepolisian tidak akan memberi ruang bagi pelaku untuk lolos dari jerat hukum. Ia menegaskan komitmen aparat dalam menindak tegas kejahatan terhadap satwa liar, khususnya gajah Sumatera yang populasinya kian terancam.
"Kami akan terus berupaya untuk menangkap pelaku dengan cepat. Tidak ada tempat untuk pelaku bersembunyi," tegasnya.
Kabid Labfor Forensik Polda Riau, AKBP Ungkap Siahaan, menjelaskan bahwa dari hasil olah TKP, pihaknya menemukan sejumlah barang bukti penting yang mengarah pada dugaan tindak pidana perburuan liar.
"Kami telah melaksanakan olah TKP di daerah Ukui bersama tim dari Polres Pelalawan dan BKSDA pada hari Selasa, 3 Februari 2026. Dari hasil TKP yang kami lakukan, kami menemukan dua potongan logam yang diduga sebagai proyektil atau anak peluru senjata api," ujar AKBP Ungkap Siahaan, Jumat, 6 Februari 2026.
Ungkap merinci, potongan logam pertama memiliki diameter 12,30 milimeter dengan panjang 16,30 milimeter. Sementara satu serpihan lainnya berukuran panjang kurang lebih 6,94 milimeter.
"Setelah dilakukan tes pendahuluan secara saintifik, dari dua potongan logam tersebut terdeteksi positif mengandung timbal (lead), tembaga atau kuningan, serta nitrat mesiu dan residu tembakan. Untuk jenis senjata yang digunakan masih dalam proses pendalaman melalui pemeriksaan laboratorium," jelasnya.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kematian gajah Sumatera itu berkaitan dengan penggunaan senjata api. Namun, pihak kepolisian masih mendalami lebih lanjut untuk memastikan jenis senjata serta kronologi pasti kejadian.
Pelaku pembunuhan gajah di areal konsesi tersebut mulai terkuak. Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau sudah memberikan kode kalau pelaku pembunuhan gajah sudah ditangkap dan akan segera dirilis oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan.
Hal tersebut diperkuat dengan status WhatsApp dan Instagram Irjen Herry Heryawan kalau pemburu gajah telah ditangkap.
Caption "Alhamdulillah di Bulan Ramadan yang suci ini, saya menerima kado terbaik penuh keberkahan", tulis Herry Heryawan dalam akun Medsos pribadi. Diduga pelaku sudah ditangkap dan akan dilakukan rilis pekan depan.
2. Anak Gajah Mati Ditemukan Membusuk Usai Dijerat
Seekor anak gajah Sumatera ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Kamis, 26 Februari 2026. Anak gajah berjenis kelamin jantan tersebut ditemukan sekitar pukul 12.00 WIB oleh tim patroli kawasan konservasi.
Saat ditemukan, kondisinya sudah membusuk dan dipenuhi belatung, mengindikasikan kematian telah terjadi beberapa hari sebelumnya. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) sementara, ditemukan fakta yang memprihatinkan. Pada salah satu kaki gajah terdapat bekas jeratan tali yang masih utuh.
"Dari hasil sementara, kaki gajah tersebut ada bekas jeratan dan talinya juga masih utuh," ujar Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan.
Temuan ini memunculkan dugaan kuat bahwa satwa tersebut menjadi korban jerat ilegal yang kerap dipasang untuk perburuan liar. Kapolda menegaskan, pihaknya tidak ingin berspekulasi sebelum hasil pemeriksaan medis keluar. Namun, beberapa hipotesis telah disusun untuk mendalami penyebab kematian.
"Kemungkinan-kemungkinan matinya gajah ini kita buatkan beberapa hipotesa, termasuk apakah gajah ini mati karena kena jerat kemudian mengalami infeksi lalu mati di TKP," tegasnya.
Akpol 1996 itu menyebutkan, Polda Riau telah menurunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk menelusuri kemungkinan adanya aktivitas perburuan liar di sekitar kawasan.
Sementara itu, Kepala BKSDA Riau Supartono menyampaikan bahwa bangkai anak gajah ditemukan sekitar 200 meter dari batas kawasan Tesso Nilo. Lokasi ini menjadi perhatian karena berada tidak jauh dari area yang berpotensi bersinggungan dengan aktivitas manusia.
"Diduga gajah sudah hampir satu minggu mati, kalau kita lihat dari kondisi fisik yang membusuk dan berulat," kata Supartono.
Supartono menambahkan bahwa tim medis akan melakukan nekropsi guna memastikan usia pasti dan penyebab kematian.
"Untuk lebih tepatnya nanti tim medis dari Tesso Nilo akan melakukan nekropsi terkait umur berapa dan penyebab kematiannya apa. Setelah itu baru kita bisa menyampaikan penyebab kematiannya secara pasti," pungkasnya.

