Petani Lansia di Kampar Khawatir dengan Karhutla di Belakang Rumah

Petani-Lansia-di-Kampar-Khawatir-dengan-Karhutla-di-Belakang-Rumah.jpg
Karhutla di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Kamis, 20 Agustus 2026. (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE, KAMPAR - Asap pekat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat aktivitas Muliadi (81), warga Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, terganggu.

Selama empat hari, pria lanjut usia itu terpaksa tidak pergi bekerja ke kebunnya. Asap dari kebakaran lahan gambut yang berada tak jauh dari rumah membuatnya kesulitan bernapas dan terus mengalami batuk.

Rumah Muliadi berada di Jalan Perwira, Desa Rimbo Panjang. Lokasinya relatif jauh dari permukiman padat. Ia tinggal bersama istrinya, sedangkan anak-anaknya telah berkeluarga dan tinggal di tempat lain.

Sehari-hari, Muliadi dan istrinya menggantungkan hidup dari bertani. Dua petak kebun terong ungu yang berada di depan dan samping rumah menjadi sumber penghasilan utama mereka. Namun, dalam sepekan terakhir, aktivitas tersebut nyaris terhenti akibat kepungan asap karhutla.

Api hanya 20 meter dari rumah 

Kekhawatiran Muliadi bukan tanpa alasan. Titik kebakaran berada persis di belakang rumahnya, hanya sekitar 20 meter. Lahan yang terbakar merupakan tanah kosong yang dipenuhi semak belukar dan memiliki lapisan gambut cukup dalam. Kondisi cuaca yang panas ditambah hembusan angin kencang membuat api sempat membesar dan menjalar dengan cepat.

Muliadi masih mengingat jelas saat api tiba-tiba membesar pada Rabu, 19 Agustus 2026.

"Sekitar jam 13.00 WIB, api sangat besar di belakang rumah saya, bunyi gemuruh gitu. Asap pekat sekali. Saya langsung lari lapor pak RW minta tolong padamkan api," ujar Muliadi.

Melihat kobaran api yang semakin dekat, Muliadi mengaku ketakutan rumahnya ikut terbakar.

"Kalau tidak cepat dipadamkan, bisa terbakar rumah saya ini. Saya sudah ketakutan melihat api besar," katanya.



Beruntung, petugas gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI dan Polri segera bergerak melakukan pemadaman serta penyekatan agar api tidak mencapai permukiman.

Empat hari tak sanggup ke kebun

Karhutla yang terjadi di sekitar rumah Muliadi sudah berlangsung lebih dari sepekan. Selama itu pula, asap kebakaran gambut terus menyelimuti kawasan tempat tinggalnya.

Kondisi tersebut membuat Muliadi tidak lagi leluasa menjalankan aktivitas sebagai petani.

"Saya sudah empat hari tidak bisa bekerja, karena asapnya pekat sekali, terutama pagi hari. Saya jadi batuk-batuk. Kalau bekerja di kebun terasa pengap gitu," ungkapnya.

Asap bahkan masih terasa pekat hingga Rabu. Kondisi itu membuat Muliadi dan istrinya harus bertahan di dalam rumah. Selama empat malam terakhir, ia juga mengaku kesulitan tidur karena asap yang terus masuk ke sekitar rumah.

"Asapnya semakin parah. Sudah empat malam ini saya susah tidur," tuturnya.

Muliadi sebenarnya sudah mempertimbangkan untuk mengungsi ke rumah anaknya. Namun, kekhawatiran terhadap kondisi rumah membuat niat tersebut belum terlaksana.

"Ada niat mau mengungsi ke rumah anak, tapi ada rasa takut ninggalin rumah. Nanti tak terpantau apinya. Sekarang masih bertahan di rumah. Saya berdua sama istri saja di sini," katanya.

Sambil berbicara, Muliadi beberapa kali menoleh ke arah lahan yang terbakar. Kekhawatiran api kembali membesar masih menghantuinya.

Komandan Regu (Danru) II Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru, Sahrimanto, mengatakan petugas saat ini memprioritaskan pemadaman di sekitar rumah warga.

"Kami berupaya melakukan penyekatan, karena api dekat rumah warga. Tadi siang api sempat membesar, tapi untunglah cepat kita kendalikan," ujar Sahrimanto.

Menurut Sahrimanto, kondisi kebakaran di lokasi masih cukup parah. Dalam delapan hari, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar empat hektare dan masih berpotensi bertambah.

"Hari ini bertambah luas," katanya.

Upaya pemadaman juga menghadapi kendala serius karena ketersediaan air di sekitar lokasi sangat terbatas. Kanal-kanal yang biasanya menjadi sumber air bagi petugas kini mengering akibat musim kemarau dan kondisi cuaca yang panas.

"Tadi kami menyiram api pakai air kolam Pak Muliadi, tapi sudah habis. Setelah itu pakai air mobil tangki, namun terbatas juga," kata Sahrimanto.

Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra keras untuk mencegah api kembali menjalar, terutama ke arah rumah warga.