Qiara Bayi 2 Tahun Merengek-rengek saat Kabut Asap Tebal di Riau

Kabut-Asap-Tebal-di-Pekanbaru.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Qiara, bayi mungil berusia dua tahun itu berulang kali terbangun dari tidurnya. Batuk dan pilek mengganggu istirahat balita perempuan berambut ikal itu. Berulang kali pula ia merengek dan menangis kecil.

Malam itu terasa lebih lama bagi ibu Qiara, Imelda. Beruntung bayi satu-satunya itu hanya merengek dan menangis kecil. Akan tetapi, perasaannya terus berkecamuk khawatir. Aroma asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tercium pekat masuk lewat ventilasi udara kamarnya.

"Malam tadi kondisinya jauh lebih parah dibanding sebelumnya," kata Imelda kepada Selasar Riau, Senin, 9 September 2019.

Bayi 2 tahun itu mulai terserang flu dan batuk sejak pekan lalu. Dokter mengatakan, Qiara terdampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap Karhutla menyelimuti Pekanbaru.

Tak hanya itu, kualitas Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menunjukkan, udara Pekanbaru sudah Tidak Sehat. Tinggal 15 poin saja mendekati standar Sangat Tidak Sehat, pagi tadi.

Sebelumnya, Gubernur Riau, Syamsuar, mengatakan, penanganan Karhutla di Riau masih berjalan dengan baik sesuai prosedur berlaku.

Ia menjelaskan, kondisi Karhutla yang saat ini terjadi tidak perlu dikhawatirkan. 

"Alhamdulillah, sampai saat ini masih baik penanganannya di semua kabupaten dan kota. Sesuai petunjuk Kepala BNPB, itulah yang menjadi pekerjaan kami. Jadi sampai saat ini, belum mengkhawatirkan," kata Syamsuar, selaku Komandan Satgas (Dansatgas) Bencana Karhutla Riau, Senin, (29/7/2019).

Meski menyebut kondisi Karhutla di Riau belum mengkhawatirkan, namun Pemprov sudah mengirimkan surat edaran kepada seluruh bupati dan wali kota, agar membantu penanganan dan pencegahan Karhutla di wilayah masing-masing.

ISPA Meningkat

Sejak Agustus hingga kini, kabut asap masih terus terjadi dan semakin tak terkendali. Imelda menjadi satu dari ribuan orangtua yang khawatir dampak dari asap Karhutla.

Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat selama Agustus 2019, penderita ISPA yang berobat ke Puskesmas mencapai 5.357 kasus.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Pekanbaru, Muhammad Amin melalui Kepala Bidang P2P, Maisel Fidayesi mengatakan angka itu meningkat dibanding bulan sebelumnya. Periode Mei 2019 tercatat 3.574 kasus, Juni 3.523 dan Juli 3.340 kasus.

Ribuan Titik Api di Sumatera

Sementara itu, angka Karhutla tersebut berpotensi meningkat mengingat kabut asap semakin pekat. Hari ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 1.278 titik panas mengindikasikan Karhutla.

Ribuan titik panas ini menjadi rekor terbaru selama 2019. Titik api menyebar di tujuh provinsi. Jambi menyumbang sebagian besar titik api tersebut mencapai 504 titik panas.

Sumsel berada pada urutan kedua dengan 332, dan Riau 289 titik panas. Titik panas lainnya menyebar di Lampung 70, Babel 66, Sumbar 3 dan Kepri 14.

Khusus di Riau, titik panas menyebar di sembilan kabupaten dan kota. Paling banyak berada di Indragiri Hilir 185 titik, Pelalawan 57, Indragiri Hulu 31, Meranti 2, Bengkalis 4, Kampar 2, Dumai, Kuansing dan Rohil masing-masing satu titik panas.

Dari jumlah itu, BMKG menyatakan 182 titik diantaranya dipastikan sebagai titik api atau indikasi kuat terjadinya Karhutla dengan tingkat kepercayaan diatas 70 persen hingga 100 persen.

Titik api menyebar di Indragiri Hilir 117 titik, Pelalawan 38 titik, Indragiri Hulu 17 titik, Dumai 1, Bengkalis 2 dan Rokan Hilir 1 titik api.