RIAU ONLINE, PEKANBARU — Lonjakan kebutuhan bahan pangan untuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi memicu kenaikan harga bahan pokok di pasaran. Kondisi ini dikhawatirkan dapat berdampak pada masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Anggota DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Hamdani, mengatakan tingginya kebutuhan bahan pangan dalam program MBG menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong inflasi.
Menurutnya, dalam satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), penyedia makanan harus menyiapkan sekitar tiga hingga empat ribu porsi setiap hari. Besarnya kebutuhan tersebut otomatis meningkatkan permintaan bahan pangan dalam waktu bersamaan.
“Wajar saja jika terjadi kenaikan harga, karena satu dapur MBG bisa menyiapkan hingga sekitar 3.000 porsi per hari. Artinya kebutuhan pangan dalam jumlah besar dikumpulkan pada satu waktu,” ujarnya, Rabu 25 Februari 2026.
Ia menjelaskan, peningkatan permintaan secara masif berpotensi menekan ketersediaan barang di pasar sehingga harga menjadi naik. Meski demikian, di sisi lain kondisi ini juga membawa dampak positif bagi petani lokal.
Hamdani menyebut sebagian besar bahan pangan untuk program MBG berasal dari produk lokal, bukan impor. Hal tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan perputaran ekonomi petani dan pelaku usaha daerah.
“Secara umum bahan-bahan MBG ini berasal dari produk lokal. Ini tentu menguntungkan petani kita. Hanya beberapa komoditas seperti kedelai untuk tahu dan tempe yang memang sejak lama masih impor,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan program MBG tidak hanya berorientasi pada proyek semata, melainkan benar-benar memastikan kualitas gizi makanan yang diberikan kepada anak-anak sesuai dengan tujuan program pemerintah.
Menurutnya, pengawasan perlu diperkuat agar anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan dan gizi peserta didik.
“Yang perlu kita pastikan adalah nilai gizinya sesuai target. Jangan sampai program ini hanya menjadi proyek mencari keuntungan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas makanan dan kesehatan anak-anak di sekolah,” tegasnya.

