Lapas Pekanbaru Ambil Bagian dalam Penyuluhan HIV/AIDS dan IMS, Raih Rekor MURI

Rekor-muri2.jpg
Aksi Nasional Penyuluhan Pencegahan HIV/AIDS dan IMS mencatatkan Rekor MURI. (Dok. Lapas Pekanbaru)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru kembali turut andil untuk memperkuat edukasi kesehatan, dengan berkontribusi dalam aksi nasional penyuluhan pencegahan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS).

Kegiatan bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), Pemerintah Provinsi Riau, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya, bahkan berhasil mencatatkan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Penyerahan piagam penghargaan MURI berlangsung khidmat di Hotel Tjokro Pekanbaru, Senin, 26 Januari 2026. Kegiatan tersebut menjadi penanda keberhasilan pelaksanaan penyuluhan kesehatan yang dilakukan secara masif, terstruktur, dan melibatkan banyak unsur lintas sektor. 

Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, menegaskan bahwa keikutsertaan Lapas Pekanbaru dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program pemerintah di bidang kesehatan. 

Selain itu, kegiatan tersebut sejalan dengan komitmen Pemasyarakatan dalam memberikan pembinaan yang menyeluruh, tidak hanya dari sisi mental dan keterampilan, tetapi juga kesehatan fisik warga binaan.

"Kami sangat mendukung kegiatan penyuluhan pencegahan HIV/AIDS dan IMS ini. Edukasi kesehatan merupakan bagian penting dari pembinaan warga binaan, agar mereka memiliki pemahaman yang benar dalam mencegah penyakit menular serta mampu menerapkan pola hidup sehat," ungkap Yuniarto.


Di Lapas Kelas IIA Pekanbaru, penyuluhan melibatkan secara aktif jajaran petugas serta warga binaan pemasyarakatan. 

Materi yang disampaikan oleh tenaga medis profesional mencakup pemahaman dasar tentang HIV/AIDS dan IMS, pola penularan, cara pencegahan, hingga pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. 

Edukasi tersebut diharapkan mampu membentuk kesadaran dan sikap preventif dalam kehidupan sehari-hari, baik selama menjalani pembinaan maupun setelah kembali ke masyarakat.

Melalui sinergi antara PERDOSKI, lembaga pemerintah, dan berbagai pihak terkait, kegiatan penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang. 

Tidak hanya menekan risiko penularan HIV/AIDS dan IMS, tetapi juga memperluas wawasan kesehatan, membangun kesadaran kolektif, serta mendorong terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan berdaya.

Keberhasilan meraih Rekor MURI menjadi simbol bahwa kerja kolaboratif lintas sektor mampu menghadirkan perubahan nyata.