RIAU ONLINE, PEKANBARU - Firman, korban pembegalan di Jalan Letjen S. Parman/Beringin Gobah, akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah sepekan menjalani perawatan intensif di RSUD Arifin Achmad Kota Pekanbaru.
Ironisnya, pembegalan terjadi di sekitar Gedung Polda Riau, pada Minggu, 11 Januari 2026 lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula saat Firman bersama beberapa rekannya duduk santai di sekitar kawasan Mapolda Riau. Tiba-tiba, mereka dihampiri oleh pelaku begal.
Pelaku secara tiba-tiba memukul kepala korban menggunakan double stick, disusul dengan lemparan batu ke arah korban dan teman-temannya. Serangan tersebut berlangsung cepat dan brutal.
Firman dan rekan-rekannya langsung berhamburan menyelamatkan diri. Namun, Firman mengalami patah kaki serta luka-luka di beberapa bagian tubuh, sementara salah satu temannya juga dilaporkan mengalami luka bocor di bagian kepala akibat kekerasan para pelaku.
Firman sempat menjalani perawatan medis secara intensif, namun kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Aksi kejahatan ini menuai sorotan tajam publik karena lokasinya yang sangat dekat dengan markas Polda Riau. Nahas, korban bernama Firman akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah sepekan menjalani perawatan intensif di RSUD Arifin Achmad Kota Pekanbaru.
Kasus ini pun ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya setelah muncul unggahan di akun @manangsoebeti_official yang memuat kabar meninggalnya Firman.
Berbagai komentar bernada keras dan penuh kekecewaan membanjiri unggahan tersebut. Warganet menilai pelaku bertindak sangat nekat dan tidak takut hukum.
Sejumlah warganet juga mempertanyakan lambannya proses penangkapan pelaku, bahkan menyinggung dugaan adanya “bekingan”.
“Ada yang 2,5 juta atau minimal 5 juta baru mereka gerak,” sindir akun Riz*.
“Dekat sama Polda kejadiannya,” tulis Do* dengan nada heran.
“Tuntaskan keadilan, bantu teman kami yang meninggal ini min,” tulis Dwi* sambil menandai akun @satreskrim_polrestapku.
“Usut tuntas, awas saja tidak selesai. Perintahkan ke Polsek Limapuluh yang pegang kasus ini dan kasih update ke masyarakat,” tegas zh*.
“Kapolda dan Wakapolda terkenal polisi anti preman,” tulis pap* mempertanyakan komitmen penegakan hukum.
“Jangan sampai nyawa hilang, keadilan pun hilang,” ujar wh*.
“Lambatnya proses penangkapan pelaku, apakah bekingan pelaku kuat atau pelaku kaya?” ungkap kob* dengan nada geram.
Desakan Penegakan Hukum
Masyarakat kini mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus pengeroyokan dan begal yang merenggut nyawa Firman.
Publik berharap pihak kepolisian, khususnya Polsek Limapuluh dan Satreskrim Polresta Pekanbaru, dapat bertindak cepat, transparan, dan tegas.
Kasus ini menjadi pengingat serius bahwa keamanan publik harus menjadi prioritas, terlebih ketika aksi kejahatan terjadi di kawasan strategis dan vital seperti sekitar Gedung Polda Riau.
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat masih menanti perkembangan resmi dan langkah konkret aparat kepolisian dalam mengungkap dan menangkap para pelaku agar keadilan benar-benar ditegakkan.

