RIAU ONLINE, PEKANBARU - Maraknya aksi kejahatan jalanan di Kota Pekanbaru pada awal tahun 2026 kian menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, hingga penjambretan dilaporkan terjadi hampir di berbagai sudut kota, bahkan menyasar anak-anak.
Masyarakat menilai minimnya kehadiran aparat kepolisian di lapangan, khususnya kegiatan patroli rutin, menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku kejahatan leluasa beraksi.
Kondisi ini memicu ketakutan warga, terutama saat beraktivitas pada malam hari. Salah satu peristiwa yang menyita perhatian publik terjadi di Jalan Melati Indah, Kecamatan Binawidya, Pekanbaru, Rabu, 7 Januari 2026 sekitar pukul 21.44 WIB.
Dua orang pelaku jambret bermotor merampas ponsel milik seorang anak di pinggir jalan. Aksi tersebut dilakukan dengan modus berpura-pura bertanya.
Peristiwa itu terekam dan viral di media sosial, memantik kemarahan warganet. Akun media sosial Satreskrim Polresta Pekanbaru pun memberikan respons terhadap unggahan viral tersebut.
Namun, komentar singkat “Oke Monitor” yang ditulis akun resmi Instagram @satreskrim_polrestapekanbaru di akun @ViralPekanbaru justru menuai cibiran dan kritik tajam dari warganet.
Tidak sedikit warganet yang menilai jawaban tersebut tidak mencerminkan sikap empati maupun keseriusan aparat penegak hukum dalam menangani maraknya tindak kriminal.
“Tor monitor ketua,” tulis akun WAN****.
“Monitor-monitor saja,” sahut akun raaa***.
Sebagian warganet bahkan secara terbuka mendesak aparat kepolisian untuk bergerak cepat, bukan sekadar memantau.
“Gercep sedikit, jangan monitor saja,” tulis ram****.
Tak sedikit pula yang meragukan kemampuan polisi dalam mengungkap dan menangkap pelaku kejahatan tersebut.
“Yakin kalian dapat pelakunya?” tanya akun Iqba******.
“Saya yakin kalau kedua pelaku akan aman dan baik-baik saja,” balas akun Gus****.
“Kalau nggak viral nggak bakalan dapat, selamat datang di negeri Selandia Baru,” sindir faj****.
Sindiran lain juga mengaitkan situasi keamanan dengan dinamika internal kepolisian.
“Tunggu 100 hari Polda dulu bray,” tulis kil***.
“Sudah tidak beres Pekanbaru ini, marak aksi kejahatan,” tutup akun pul***.
Gelombang komentar tersebut mencerminkan akumulasi kekecewaan dan ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap upaya penegakan hukum di Pekanbaru.
Masyarakat berharap aparat kepolisian tidak hanya responsif di ruang digital, tetapi juga hadir secara nyata di lapangan melalui patroli intensif, pengungkapan kasus yang transparan, serta tindakan tegas terhadap para pelaku kejahatan.

