RIAU ONLINE, PEKANBARU - Upaya mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional turut digencarkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru. Melalui Seksi Kegiatan Kerja (Giatja), Lapas Pekanbaru mengembangkan peternakan ayam petelur yang kini mampu menghasilkan sekitar 300 butir telur setiap hari.
Program ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembekalan keterampilan kerja yang bernilai ekonomis.
Dengan sistem pengelolaan terstruktur dan pengawasan petugas, peternakan ayam petelur tersebut menjadi salah satu unit produktif unggulan di Lapas Pekanbaru.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, menyampaikan bahwa kegiatan panen telur ayam ini merupakan bentuk konkret dukungan terhadap Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada sektor ketahanan pangan.
"Lapas Pekanbaru berkomitmen penuh mendukung program ketahanan pangan nasional sebagaimana arahan Bapak Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan," kata Yuniarto, Jumat, 9 Januari 2026.
Menurutnya, hasil panen telur ayam ini adalah bukti bahwa pembinaan kemandirian warga binaan dapat berjalan produktif dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari keterlibatan aktif WBP yang dibina secara langsung mulai dari perawatan ayam, pengelolaan pakan, kebersihan kandang, hingga proses panen.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk menanamkan disiplin, tanggung jawab, serta keterampilan teknis yang dapat menjadi bekal setelah mereka kembali ke masyarakat.
Yuniarto menambahkan, meski berada di lingkungan dengan keterbatasan lahan, Lapas Pekanbaru mampu mengoptimalkan potensi yang ada dengan menerapkan teknologi sederhana namun efektif, seperti penggunaan kandang modern yang mendukung efisiensi dan produktivitas.
"Ini bukan semata-mata soal produksi telur. Yang lebih penting adalah proses transformasi perilaku warga binaan menuju kemandirian ekonomi. Kami ingin mereka memiliki keahlian nyata yang bisa diterapkan setelah bebas nanti," jelasnya.
Hasil panen telur ayam tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan internal serta berpotensi dikembangkan sebagai produk bernilai jual.
Ke depan, Lapas Pekanbaru berencana terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi melalui penguatan manajemen peternakan dan pengembangan unit-unit agrobisnis lainnya.
"Melalui program ini, Lapas Pekanbaru menegaskan perannya tidak hanya sebagai institusi pembinaan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan, sekaligus mencetak sumber daya manusia yang lebih mandiri dan siap kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat," tutup Yuniarto.

