Usai Kematian Anak Gajah di Bengkalis, RI Gandeng Dokter Spesialis Gajah dari India

Gajah-Tesso-Nilo2.jpg
Ilustrasi - Sejumlah Gajah Sumatera jinak binaan dari Tim Flying Squad berjalan di dalam hutan di Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau. (Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro)

RIAU ONLINE - Kematian seekor anak Gajah Sumatera bernama Laila di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Bengkalis, Riau, mendapat perhatian serius dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Anak gajah betina berusia 1 tahun 6 bulan itu dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV), penyakit mematikan yang kerap menyerang gajah muda.

Raja Juli Antoni lantas menggandeng Fauna Land Indonesia untuk menghadirkan dokter spesialis gajah dari Vantara, India.

Vantara merupakan pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan konservasi satwa liar raksasa yang berlokasi di Jamnagar, Gujarat, dan dikenal memiliki salah satu rumah sakit gajah tercanggih di dunia.

“Saya sudah kontak teman di India, mereka bisa menemukan antivirusnya. Tinggal studi apakah cocok atau tidak dengan gajah kita. Saat ini sudah ada progres. Bahkan mereka mau memberikan gratis jika cocok dengan gajah kita, tinggal satu langkah riset lagi,” ujar Raja Juli Antoni saat meninjau PKG Sebanga, dikutip dari jaringan RIAU ONLINE, Suara.com, Selasa, 23 Desember 2025.


Fauna Land Indonesia bersama tim medis dari Vantara India tiba di Riau. Kedatangan mereka bertujuan melakukan analisis medis serta tindakan preventif untuk mencegah penyebaran virus EEHV pada populasi gajah di wilayah tersebut.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Prof. Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan bahwa tim gabungan melakukan evaluasi langsung terhadap kondisi gajah yang berada dalam penangkaran, termasuk di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina.

“Kami bersama tim dari Vantara India mengevaluasi kondisi gajah di captivity. Kita tahu beberapa waktu lalu ada anak gajah yang meninggal karena virus EEHV, dan itu yang ingin kita cegah,” kata Satyawan di Riau.

Menurutnya, pencegahan kematian gajah akibat EEHV membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus, terutama dalam mendeteksi gejala sejak dini.

Kolaborasi internasional ini diharapkan dapat membantu menyelamatkan populasi Gajah Sumatera yang saat ini terancam tidak hanya oleh hilangnya habitat, tetapi juga oleh penyakit mematikan.

“Untuk mencegah itu, kita perlu pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Kita bekerja sama dengan mitra luar negeri untuk membuat baseline data gajah yang ada di sini, sekaligus melakukan capacity building bagi mahut atau pawang gajah,” jelasnya.