Kisah Dokter Reksodiwiryo di Riau: Dicurigai, Diburu Jepang, hingga Nyaris Dibunuh

Dokter-Reksodiwiryo.jpg
Reksodiwiryo (1910–1964), dokter militer dan pejuang Indonesia. (Husein, Ahmad (1992) Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I. di Minangkabau / Riau 1945 - 1950 (2nd ed.), Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minangkabau.)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Letkol Ckm. dr. Reksodiwiryo Wiyotoarjo, namanya mungkin tidak sepopuler tokoh militer di masa perjuangan. Tapi tahukah kamu? Jejak pengabdian Reksodiwiryo Wiyotoarjo sebagai dokter di Rengat, Riau, meninggalkan kisah penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pria yang lahir di Malang pada 1 Juli 1910 itu menempuh pendidikan kedokteran di Geneeskundige Hoogeschool te Batavia, kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan meraih gelar dokter bedah.

dr. Rekso kemudian ditempatkan di Pemerintahan Hindia Belanda sebagai dokter onderafdeling di Rengat pada 1939. Ia pun menjadi salah satu tenaga medis penting di Riau yang kala itu jumlah dokternya masih terbatas.

Pada 1942, di masa Jepang menduduki Riau, dr. Rekso menjadi sosok yang dicari-cari tentara Jepang. Rumahnya di Rengat digeledah. Namun, tentara Jepang dengan pedang terhunus, hanya menemukan sang istri dan putra bungsunya.

Meski sempat terluka oleh pedang seorang perwira Jepang, sang istri dan putranya selamat. Tentara Jepang pergi dari rumah mereka karena tidak menemukan dokter Rekso, seperti dilansir dari Wikipedia, Rabu, 1 Oktober 2025.

dr. Rekso dan istrinya aktif dalam organisasi Gerakan Indonesia Muda (GIM) usai kemerdekaan diproklamasikan. Tapi singkatan itu menimbulkan salah paham di antara para pemuda Rengat. Sebagian pemuda Rengat menafsirkan singkatan itu sebagai Geen Indonesische Macht yang artinya tidak ada kekuasaan Indonesia.


Kesalahpahaman itu kemudian berujung penangkapan yang dilakukan sejumlah pemuda setempat terhadap dr. Rekso dan diserahkan kepada Polisi Tentara, kini Polisi Militer.

Komandan Resimen IV/Pekanbaru, Letnan Kolonel Hasan Basri, yang mendengar kabar penangkapan dr. Rekso, lantas memerintahkan Perwira Kesehatan Resimennya, yakni Pembantu Letnan Mochtardin, bertolak dari Pekanbaru ke Rengat bersama satu pleton tentara.

Sekitar Januari 1946, Mochtardin dan rombongan tiba di Rengat, bertemu Kepala Polisi Tentara setempat, Letnan Kandow, dan Kepala Pemuda Rengat, Tengku Ali. Dari mereka, diperoleh informasi bahwa dokter Rekso diduga telah meracuni pemuda-pemudi di Rengat dan berusaha memasukkan tentara Belanda (NICA).

Dalam rapat yang digelar di kantor Polisi Tentara Rengat, Mochtardin menegaskan tuduhan terhadap dr Rekso tidak benar. Meski begitu, seorang aktivis pemuda tetap mendesak agar dr. Rekso dan keluarganya dibunuh.

Namun, Mochtardi mengingatkan bahwa perjuangan akan kehilangan salah satu tenaga medis terbaik jika dr. Rekso dibunuh. Apalagi saat itu, hanya terdapat dua orang dokter ahli bedah, dr. Reksowidiryo dan dr. Ferdinand Lumban Tobing.

Sekitar 15 hari kemudian, Komandan Resimen IV/Pekanbaru Letnan Kolonel Hasan Basri memerintahkan agar dokter Rekso dan keluarganya dibawa dari Rengat ke Bukittinggi dengan melewati Sungai Dareh. Setiba di sana, ia diperiksa oleh Kepala Kesehatan Divisi IX/Banteng, dr. A. Nazaruddin, lalu diangkat menjadi Kepala Dinas Kesehatan Tentara di Sawahlunto dengan pangkat Kapten.

Setelah pengabdiannya di Sumatera, dr. Reksodiwiryo kemudian melanjutkan karier cemerlang hingga menjabat Kepala RSPAD dari tahun 1952 hingga 1956, meninggalkan jejak abadi sebagai salah satu pahlawan medis dari tanah Riau.