Gelombang Minoritas di Kongres AS

Ilham-yasir-Rol.jpg
Ilham Muhammad Yasir, Ketua KPU Provinsi Riau periode 2019–2024 (Dok. Pribadi)

Oleh Ilham Muhammad Yasir*

RIAU ONLINE, JAKARTA - KEMENANGAN Partai Demokrat dalam Midterm Elections Amerika Serikat (AS) 3 November 2026 tidak hanya mengubah peta kekuasaan di Kongres, tetapi juga memperlihatkan fenomena menarik dalam demokrasi Amerika. Semakin menguatnya keterwakilan kelompok minoritas, khususnya Muslim, Hispanik, dan Latino.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika kampanye Presiden Donald Trump yang selama ini kerap menggunakan narasi keras terhadap imigran dan kelompok minoritas. Bahkan, dalam sejumlah pidato politiknya, Trump secara terbuka menyerang kandidat Muslim, termasuk Abdul El-Sayed di Michigan dan Zohran Mamdani dalam pemilihan Wali Kota New York 2025 lalu.

Namun, hasil pemilu justru memperlihatkan sejumlah kandidat dari kelompok minoritas berhasil memenangkan kepercayaan pemilih. Apakah ini merupakan bentuk perlawanan politik masyarakat minoritas terhadap retorika Trump, sekaligus tanda perubahan koalisi pemilih Amerika?

Kemenangan El-Sayed

Salah satu kemenangan paling bersejarah adalah Abdul El-Sayed dari Michigan. Kandidat Demokrat keturunan Mesir ini berhasil mengalahkan Mike Rogers dari Partai Republik dan menjadi Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat Amerika Serikat.

Berdasarkan hasil penghitungan yang dilaporkan Associated Press, El-Sayed memperoleh sekitar 52,5 persen suara, sedangkan Rogers memperoleh 45,5 persen. Dengan demikian, El-Sayed unggul sekitar tujuh poin persentase atau lebih dari 335 ribu suara dalam pembaruan penghitungan yang tersedia. Kemenangan ini cukup menarik karena sebelumnya persaingan Michigan diperkirakan berlangsung ketat.

Perjalanan El-Sayed tidak mudah. Ia sebelumnya harus memenangkan pemilihan pendahuluan di internal Demokrat pada Agustus 2026 dengan mengalahkan Haley Stevens, anggota DPR yang didukung sejumlah elite partai dan kelompok kepentingan. El-Sayed memperoleh sekitar 48,5 persen suara, sedangkan Stevens sekitar 47,5 persen. Ia mengandalkan gerakan akar rumput, ribuan sukarelawan, serta dukungan tokoh progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez.

Dalam kampanye menuju Senat, Trump secara terbuka menyerang identitas keagamaan El-Sayed. Pada kampanye di Port Huron, Michigan, 25 Oktober 2026, Trump menyebutnya sebagai jihadist dan mengaitkannya dengan Muslim Brotherhood tanpa menyertakan bukti yang membenarkan tuduhan tersebut. Serangan itu juga mempertanyakan loyalitas El-Sayed terhadap Amerika. Namun, pemilih Michigan justru memberikan kemenangan kepada kandidat Demokrat tersebut.

El-Sayed bukan sekadar membawa identitas Muslim. Ia menawarkan agenda layanan kesehatan universal, pengurangan biaya hidup, pembatasan pengaruh uang dalam politik, serta kritik terhadap dukungan militer AS kepada Israel. Kombinasi gagasan ekonomi dan politik luar negeri inilah yang menjadi bagian penting dari daya tarik kampanyenya.

Enam Muslim di DPR

Kemenangan El-Sayed juga diikuti enam politisi Muslim yang memperoleh kursi di House of Representatives (DPR). Dua di antaranya merupakan anggota baru, yakni Adam Hamawy dari New Jersey dan Darializa Avila Chevalier dari New York. Sementara empat lainnya berhasil mempertahankan kursi: Ilhan Omar dari Minnesota, Rashida Tlaib dari Michigan, André Carson dari Indiana, dan Lateefah Simon dari California.


Hamawy merupakan dokter bedah yang lahir di Mesir dan pindah ke Amerika ketika masih bayi. Ia memenangkan kursi New Jersey-12. Darializa Avila Chevalier, perempuan keturunan Dominika yang memeluk Islam, memenangkan New York-13 setelah mengalahkan petahana Adriano Espaillat dalam pemilihan pendahuluan Demokrat.

Ilhan Omar, yang datang ke Amerika sebagai pengungsi dari Somalia ketika masih anak-anak, kembali terpilih mewakili Minnesota-05. Rashida Tlaib, keturunan Palestina yang lahir di Detroit, mempertahankan kursinya di Michigan-12. André Carson, warga Afrika-Amerika yang lahir di Indianapolis dan memeluk Islam ketika dewasa, kembali mewakili Indiana-07. Sementara Lateefah Simon, aktivis hak-hak sipil yang lahir di San Francisco, mempertahankan kursinya di California-12.

Dengan demikian, terdapat sedikitnya tujuh politisi Muslim yang terpilih di Kongres federal, terdiri atas satu senator dan enam anggota house. Mereka memiliki latar belakang etnis dan pengalaman hidup yang berbeda. Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa identitas agama tidak menghalangi seseorang memperoleh dukungan politik dalam masyarakat Amerika yang plural.

Satu Persen Pemilih

Hal yang menarik adalah jumlah masyarakat Muslim Amerika sebenarnya relatif kecil dibandingkan keseluruhan penduduk dan pemilih. Pew Research Center memperkirakan terdapat sekitar 5,5 juta Muslim dari seluruh kelompok usia di Amerika pada 2026. Jumlah ini tidak dapat disamakan dengan jumlah pemilih terdaftar karena mencakup anak-anak dan penduduk yang belum memenuhi syarat memilih.

Sebelumnya, berbagai estimasi menyebut jumlah Muslim dewasa atau populasi Muslim Amerika sekitar 3,4 juta. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sesuai tahun dan metodologi penelitian. Meskipun proporsinya kecil, komunitas Muslim memiliki pengaruh elektoral yang dapat terasa di wilayah tertentu seperti Michigan, Minnesota, Illinois, dan New Jersey.

Kemenangan para kandidat Muslim juga tidak semata-mata berasal dari suara komunitas Muslim. Mereka membangun dukungan lebih luas dari pemilih muda, pekerja, kelompok progresif, Afrika-Amerika, dan pemilih yang tidak puas terhadap kebijakan pemerintahan Trump.

Hispanik & Latino

Selain Muslim, kelompok Hispanik dan Latino menjadi bagian penting dari perubahan politik kali ini. AP Voter Poll yang melibatkan lebih dari 100 ribu pemilih di seluruh Amerika menemukan sekitar 60 persen pemilih Hispanik memberikan suara kepada kandidat Demokrat dalam pemilihan House. Hanya sekitar sepertiga yang mendukung kandidat Republik.

Perubahan ini menarik karena pada Pemilu Presiden 2024 Trump berhasil memperoleh peningkatan dukungan dari sebagian pemilih Latino. Namun, persoalan biaya hidup, ekonomi, kebijakan imigrasi, dan operasi deportasi menjadi sumber ketidakpuasan sebagian kelompok tersebut.

Di Texas, misalnya, sekitar enam dari sepuluh pemilih Hispanik mendukung James Talarico dalam pemilihan Senat. Hal ini memperlihatkan bahwa perubahan dukungan Latino turut berkontribusi dalam persaingan di negara bagian yang selama ini menjadi basis penting Partai Republik.

Muslim di kongres AS

Masa Depan Amerika

Kemenangan kelompok Muslim dan Latino memunculkan kemungkinan terjadinya backlash effect, yaitu ketika retorika yang menyerang kelompok tertentu justru mendorong kelompok tersebut semakin aktif dalam kehidupan politik. Serangan terhadap El-Sayed dan Mamdani, serta kebijakan imigrasi Trump yang kontroversial, menjadi bagian dari perdebatan tentang siapa yang dianggap sebagai bagian dari identitas Amerika.

Namun, tidak tepat jika seluruh kemenangan Demokrat hanya dijelaskan melalui penolakan terhadap Islamofobia atau kebijakan anti-imigran. Persoalan ekonomi, inflasi, kesehatan, harga bahan bakar, dan ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah tetap menjadi faktor penting. Identitas politik dan kepentingan ekonomi masyarakat saling berhubungan dalam menentukan pilihan pemilih.

Penutup

Pada akhirnya, Midterm 2026 memberikan pelajaran bahwa demokrasi tidak hanya ditentukan oleh pergantian kekuasaan, tetapi juga oleh terbukanya ruang representasi bagi seluruh warga negara. Amerika memperlihatkan bahwa kelompok yang secara demografis lebih kecil tetap dapat memperoleh tempat dalam lembaga legislatif melalui partisipasi, organisasi, dan dukungan lintas komunitas.

Bagi Trump dan Partai Republik, perkembangan ini menjadi tantangan untuk mengevaluasi strategi politik yang mengandalkan polarisasi identitas. Sementara bagi Demokrat, kemenangan tersebut menjadi tanggung jawab untuk membuktikan bahwa keberagaman representasi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Midterm 2026 bukan hanya tentang siapa yang menguasai Kongres, tetapi juga tentang perubahan wajah demokrasi ke depan di Amerika. Wallahu a'lam.***

*Penulis adalah Ketua KPU Provinsi Riau periode 2019–2024, sedang menyelesaikan Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Islam Riau, dan memiliki ketertarikan pada isu-isu kepemiluan dan isu-isu global.