Oleh: Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pada 3 November 2026, menjadi hari penting bagi demokrasi Amerika Serikat (AS). Kurang lebih 250 juta warga Amerika mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk menentukan komposisi kekuasaan Kongres dan pemerintahan negara bagian untuk dua tahun ke depan. Pemilu paruh waktu atau midterm election kali ini menjadi ujian penting bagi Presiden Donald Trump.
Partai Republik yang selama ini menguasai kedua kamar Kongres menghadapi tantangan sangat berat dari Partai Demokrat. Menariknya, ketika masyarakat Indonesia mulai beristirahat pada Selasa tadi malam, pemungutan suara di Amerika justru sedang berlangsung dan baru akan berakhir pada Rabu siang ini waktu Indonesia.
Melintasi Waktu
Amerika Serikat memiliki beberapa zona waktu dengan perbedaan sekitar 12 hingga 17 jam lebih lambat dibandingkan Waktu Indonesia Barat (WIB). Karena itu, pembukaan TPS di berbagai negara bagian berlangsung secara bertahap sejak Selasa sore hingga menjelang tengah malam WIB, 3 November.
Sebagian TPS mulai dibuka pukul 06.00 atau 07.00 pagi waktu setempat. Jika dikonversikan, pemungutan suara di sejumlah wilayah Amerika bagian timur dimulai sekitar pukul 18.00–20.00 WIB. Sementara itu, wilayah bagian barat dan Alaska membuka TPS lebih belakangan.
Penutupan juga berlangsung secara bertahap. Sebagian TPS di Indiana dan Kentucky mulai ditutup pukul 18.00 Eastern Time (ET), atau pukul 06.00 WIB pada Rabu, 4 November. Gelombang penutupan berikutnya berlangsung pukul 19.00 hingga 23.00 ET, yang setara dengan pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Hawaii dan sebagian besar Alaska menyusul, sedangkan TPS paling terakhir di Kepulauan Aleutian, Alaska, dijadwalkan ditutup pukul 01.00 ET atau pukul 13.00 WIB, Rabu, 4 November.
Dengan demikian, seluruh TPS di 50 negara bagian Amerika Serikat diperkirakan akan ditutup pada pukul 13.00 WIB hari Rabu. Namun, penutupan TPS tidak berarti seluruh suara sudah selesai dihitung. Penghitungan, verifikasi, dan penerimaan surat suara yang memenuhi persyaratan masih dapat berlangsung setelahnya.
Memilih 435 DPR dan 35 Senator
Midterm bukan pemilihan presiden. Donald Trump tidak sedang mencalonkan diri. Namun, pemilu ini menentukan siapa yang menguasai Kongres selama dua tahun berikutnya.
Ada tiga kontestasi utama. Pertama, seluruh 435 kursi DPR Amerika atau House of Representatives diperebutkan. Kedua, sebanyak 35 dari 100 kursi Senat masuk dalam pemilihan reguler maupun khusus. Ketiga, masyarakat juga memilih gubernur di 36 negara bagian.
Selain itu, terdapat pemilihan anggota legislatif negara bagian dan berbagai jabatan pemerintahan lokal.
Saat ini, Republik menguasai kedua kamar Kongres. Di DPR, Republik memiliki 218 kursi, sedangkan Demokrat 214 kursi, dengan satu anggota independen dan dua kursi kosong. Di Senat, Republik menguasai 53 kursi, sementara Demokrat memiliki 45 kursi dan dua senator independen yang bergabung dalam kaukus Demokrat.
Jika Demokrat berhasil mengambil alih salah satu kamar, pemerintahan Trump akan menghadapi pengawasan legislatif yang lebih kuat. Pembahasan anggaran, kebijakan perang, dan penyelidikan terhadap pemerintahan dapat berlangsung lebih ketat. Trump memang tidak kehilangan jabatan presiden, tetapi ruang gerak politiknya dapat berubah.
Survei: Demokrat Tetap Unggul
Sehari menjelang pemungutan suara, sejumlah survei memperlihatkan keunggulan Demokrat dalam preferensi nasional untuk pemilihan Kongres.
Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan pada 29 Oktober hingga 2 November dan diumumkan pada 2 November 2026 mencatat 52 persen pemilih yang kemungkinan besar memberikan suara (likely voters) memilih atau cenderung memilih kandidat Demokrat. Sementara itu, kandidat Republik memperoleh 44 persen. Selisih delapan poin ini memperlihatkan keunggulan Demokrat menjelang hari pemungutan suara.
Dalam survei yang sama, tingkat persetujuan terhadap kinerja Presiden Trump tercatat hanya 32 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa popularitas presiden masih menjadi tantangan bagi Partai Republik.
Namun, ada catatan menarik. Keunggulan Demokrat dalam survei Reuters/Ipsos tersebut sebenarnya menyempit dibandingkan survei pekan sebelumnya yang mencatat selisih sebelas poin. Artinya, meskipun Demokrat masih unggul, dukungan pemilih tidak sepenuhnya bergerak dalam satu arah.
Gambaran lebih kuat terlihat dalam survei terakhir New York Times/Siena yang dipublikasikan 1 November. Dalam tujuh persaingan Senat yang disurvei, kandidat Demokrat tercatat unggul di seluruh negara bagian.
Di Michigan, Abdul El-Sayed unggul 53 persen semakin menguat berbanding 42 persen atas Mike Rogers. Di Texas, James Talarico memperoleh 50 persen dibandingkan 43 persen untuk Ken Paxton. Di Maine, Troy Jackson unggul 51 persen berbanding 45 persen atas Susan Collins. Sementara di Ohio, Sherrod Brown memperoleh 49 persen dibandingkan 44 persen untuk Jon Husted.
Meskipun demikian, beberapa persaingan masih berada dalam margin kesalahan survei. Karena itu, hasil tersebut belum dapat dianggap sebagai kepastian kemenangan.
Hasil Diketahui
Bagi masyarakat Indonesia yang mengikuti pemilu ini, perkembangan hasil awal dapat dipantau mulai Rabu, 4 November, mulai pukul 06.00 WIB. Pada waktu tersebut, sebagian TPS di Indiana dan Kentucky telah ditutup dan mulai memasuki tahap penghitungan.
Pukul 07.00 WIB, penutupan TPS diikuti ke sejumlah negara bagian seperti Georgia, South Carolina, dan Virginia. Hasil awal dari wilayah-wilayah tersebut berpotensi mulai memberikan gambaran persaingan.
Pukul 08.00 WIB, gelombang penutupan berikutnya mencakup sejumlah wilayah penting, termasuk Pennsylvania. Pukul 09.00 WIB, perhatian beralih ke persaingan di Michigan, Texas, Kansas, dan Iowa. Selanjutnya, pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, sejumlah wilayah Mountain dan Pacific Time mulai menutup TPS, termasuk Nevada dan California.
Gelombang terakhir berlangsung hingga pukul 13.00 WIB ketika TPS paling barat di Kepulauan Aleutian, Alaska, mencapai waktu penutupan.
Namun, hasil tidak otomatis diketahui seluruhnya pada jam tersebut. Negara bagian seperti California dan Washington masih dapat memerlukan beberapa hari untuk menyelesaikan penghitungan surat suara. Persaingan yang sangat ketat juga membutuhkan verifikasi lebih lanjut sebelum media dapat mengumumkan proyeksi pemenang.
Abdul El-Sayed
Salah satu persaingan yang menarik perhatian adalah pemilihan senator di Michigan. Abdul El-Sayed dari Partai Demokrat menghadapi Mike Rogers dari Partai Republik untuk memperebutkan kursi Senat yang ditinggalkan Gary Peters.
Survei terakhir New York Times/Siena menempatkan El-Sayed pada angka 53 persen, sedangkan Rogers memperoleh 42 persen. Keunggulan sebelas poin ini menjadi salah satu selisih yang cukup besar dalam tujuh persaingan Senat yang terjadi.
Namun, dinamika politik Michigan tidak sederhana. Mantan pesaing El-Sayed dalam pemilihan pendahuluan Demokrat, Haley Stevens, memberikan dukungan kepada Rogers. Peristiwa ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di internal Demokrat yang dapat menjadi salah satu faktor dalam persaingan.
Apakah El-Sayed mampu mengubah keunggulan survei menjadi kemenangan? Jawabannya baru dapat diketahui setelah suara dihitung. Ia belum dapat dinyatakan sebagai senator terpilih hanya berdasarkan hasil jajak pendapat.
Menunggu Suara Rakyat
Midterm 2026 merupakan ujian penting bagi Trump dan Partai Republik. Survei terakhir memperlihatkan Demokrat masih memiliki keunggulan dalam preferensi nasional, sementara sejumlah persaingan Senat menunjukkan jarak yang cukup lebar. Namun, hasil akhirnya tetap ditentukan oleh partisipasi pemilih dan suara yang benar-benar masuk ke penghitungan.
Bagi masyarakat Indonesia, pemilu Amerika dapat diikuti sejak Rabu pukul 06.00 WIB melalui hasil awal dari negara-negara bagian yang lebih dahulu menutup TPS. Perkembangan akan berlanjut hingga sekitar pukul 13.00 WIB ketika seluruh TPS di 50 negara bagian mencapai waktu penutupan. Setelah itu, penghitungan dan verifikasi masih dapat berlangsung berhari-hari, bahkan lebih lama untuk persaingan yang ketat.
Pada akhirnya, survei hanya memberikan gambaran tentang kecenderungan pemilih sebelum memberikan suara. Pemilu ini bukan memilih presiden baru, tetapi menentukan seberapa kuat kekuasaan presiden akan diawasi oleh Kongres.
Bagi Trump, pertaruhannya bukan kehilangan kursi kepresidenan, melainkan kemungkinan kehilangan keleluasaan politik untuk menjalankan agenda pemerintahannya. Jawaban sesungguhnya kini berada pada surat suara rakyat Amerika. Wallahu a'lam.
(Penulis adalah praktisi hukum, Ketua KPU Provinsi Riau periode 2019–2024, dan sedang menyelesaikan Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Islam Riau memiliki ketertarikan pada isu-isu kepemiluan dan isu-isu global)

