Amerika Mulai Muak dengan Trump?

Ilham-Muhammad-Yasir-Pemimpin-Redaksi-Riau-Online.jpg
Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online. (Istimewa)

Oleh: Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pemilu paruh waktu (midterm) Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2026 bukan hanya pertarungan Partai Republik dan Partai Demokrat. Pemilu ini akan berlangsung ketika masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup dan mempertanyakan perang AS terhadap Iran.

Bagi Presiden Donald Trump, persoalannya bukan hanya mempertahankan kekuasaan politik, tetapi juga menjelaskan manfaat dan harga yang harus dibayar rakyat Amerika atas kebijakannya.

Survei terbaru Associated Press-NORC yang dirilis 22 Oktober 2026 kemarin memberikan gambaran menarik. Sekitar delapan dari sepuluh pemilih terdaftar menginginkan Kongres memprioritaskan penurunan biaya hidup. Sekitar tujuh dari sepuluh juga menginginkan perang dengan Iran diakhiri.

Sebaliknya, hanya sekitar empat dari sepuluh yang menempatkan penyelidikan terhadap pemerintahan Trump sebagai prioritas utama, dan sekitar dua dari sepuluh menginginkan Kongres memprioritaskan dukungan terhadap agenda presiden.

Survei terhadap 1.119 orang dewasa yang dilakukan pada 8–12 Oktober itu menunjukkan bahwa pemilih lebih membutuhkan penyelesaian masalah sehari-hari daripada pertarungan politik tanpa ujung. Perang dan ekonomi menjadi dua persoalan yang saling berkaitan.

Ketika konflik militer berdampak pada harga energi, masyarakat akan menilai kebijakan luar negeri bukan hanya dari alasan keamanan, tetapi juga dari biaya yang harus mereka tanggung.

Persoalan Domestik

Serangan militer AS bersama Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Perang tersebut kemudian menjadi salah satu isu penting menjelang pemilu paruh waktu. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga masuk ke perdebatan politik domestik Amerika.

Harga bahan bakar dan biaya hidup menjadi perhatian pemilih. Bagi rumah tangga, persoalannya sederhana, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk bekerja, membeli kebutuhan pokok, dan membayar tagihan setiap bulan? Jika perang memperbesar tekanan ekonomi, pemerintah harus menjelaskan tujuan, biaya, dan strategi untuk mengakhiri konflik.

Trump tentu memiliki argumen keamanan nasional untuk membela kebijakannya. Namun, dukungan terhadap tindakan militer tidak dapat dianggap sebagai mandat tanpa batas. Dalam demokrasi, presiden tetap harus menjelaskan alasan penggunaan kekuatan, konsekuensi ekonominya, serta kondisi yang memungkinkan perang diakhiri.

Karena itu, pemilu paruh waktu dapat menjadi ruang bagi pemilih untuk menyampaikan penilaian terhadap kebijakan tersebut. Mereka tidak memilih presiden baru, tetapi dapat mengubah komposisi Kongres dan memperkuat pengawasan terhadap pemerintahan.



Kongres sebagai Penentu

Saat ini, Partai Republik menguasai kedua kamar Kongres. Di Senat, Republik memiliki 53 kursi, sementara Demokrat memiliki 45 kursi dan dua senator independen yang berkaukus bersama Demokrat. Di DPR AS, Republik memiliki 218 kursi dan Demokrat 214 kursi, dengan satu anggota independen serta dua kursi kosong.

Pada 3 November, seluruh 435 kursi DPR diperebutkan. Sebanyak 35 kursi Senat juga masuk dalam pemilihan reguler maupun khusus. Demokrat membutuhkan tambahan bersih empat kursi untuk menguasai DPR dan empat kursi untuk memperoleh mayoritas Senat, dengan asumsi dua senator independen tetap berkaukus bersama mereka.

Survei nasional memperlihatkan keunggulan Demokrat dalam pilihan kandidat Kongres. Namun, keunggulan nasional tidak otomatis menentukan hasil setiap distrik atau negara bagian. Persaingan Senat sangat dipengaruhi oleh peta kursi yang diperebutkan, sedangkan pemilihan DPR bergantung pada kondisi masing-masing distrik.

Jika Demokrat berhasil menguasai salah satu kamar Kongres, pemerintahan Trump akan menghadapi pengawasan legislatif yang lebih kuat. Kongres dapat memperketat pemeriksaan penggunaan anggaran, menggelar penyelidikan, dan mempersulit pengesahan sejumlah agenda pemerintahan. Meski demikian, perubahan mayoritas Kongres tidak otomatis menghentikan seluruh kebijakan presiden.

Jutaan Suara Sudah Masuk

Pemilu Amerika tidak hanya berlangsung pada satu hari. Sebelum pemungutan suara utama, pemilih dapat memberikan suara melalui pemungutan langsung lebih awal atau mengembalikan surat suara melalui pos, sesuai aturan negara bagian masing-masing.

Hingga 22 Oktober, University of Florida Election Lab mencatat sekitar 16,74 juta suara awal telah masuk secara nasional. Angka itu terdiri dari sekitar 6,24 juta suara melalui pemungutan langsung lebih awal dan 10,50 juta surat suara pos yang telah dikembalikan. Jumlah tersebut belum mencakup seluruh pemilih yang akan memberikan suara pada 3 November.

Pemilu paruh waktu kali ini mencakup pemilihan seluruh anggota DPR, sebagian anggota Senat, serta berbagai jabatan negara bagian dan lokal. Pemilihan pendahuluan atau primary election sebelumnya digunakan partai untuk menentukan kandidat. Adapun general election pada 3 November menentukan siapa yang terpilih, sedangkan special election diselenggarakan untuk mengisi jabatan yang kosong di luar siklus reguler.

Angka partisipasi awal menunjukkan bahwa jutaan warga telah menggunakan hak pilihnya. Namun, jumlah itu tidak menunjukkan pilihan politik mereka. Hasil akhirnya tetap ditentukan oleh seluruh suara sah yang dihitung sesuai aturan.

El-Sayed, Calon Senator Muslim

Salah satu persaingan yang mendapat perhatian nasional berlangsung di Michigan. Abdul El-Sayed, calon Senat dari Partai Demokrat, menghadapi Mike Rogers dari Partai Republik. Michigan memiliki sekitar 7,4 juta pemilih terdaftar aktif dan menjadi salah satu medan persaingan penting dalam perebutan kendali Senat.

Survei Marist yang dirilis pada Oktober mencatat El-Sayed memperoleh 50 persen dukungan, sedangkan Rogers 48 persen. Selisih tersebut masih berada dalam margin kesalahan survei, sehingga persaingan belum dapat dianggap selesai.

El-Sayed merupakan dokter dan mantan pejabat kesehatan masyarakat Detroit. Ia menawarkan perluasan layanan kesehatan, penurunan biaya hidup, reformasi pendanaan politik, dan kritik terhadap dukungan militer AS kepada Israel serta perang Iran. Jika terpilih, ia akan menjadi senator Muslim pertama dalam sejarah Amerika Serikat.

Dalam debat terakhir, kedua kandidat berbeda pandangan mengenai perang Iran, keamanan nasional, layanan kesehatan, dan ekonomi. El-Sayed mempertanyakan manfaat perang serta dampaknya terhadap masyarakat. Rogers membela pendekatan keamanan pemerintahan Trump. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa isu perang tidak terpisah dari persoalan domestik, terutama biaya hidup dan penggunaan anggaran negara.

Menagih Kebijakan

Pemilu paruh waktu bukan referendum formal terhadap Trump. Namun, pemilih dapat menggunakan suara mereka untuk menilai kebijakan pemerintahannya. Hasilnya akan menunjukkan apakah Partai Republik masih mampu mempertahankan dukungan atau harus menghadapi pengawasan yang lebih ketat dari Demokrat.

Survei AP-NORC memberikan pesan penting: masyarakat ingin biaya hidup turun dan perang berakhir. Pesan itu tidak berarti semua pemilih memiliki pandangan yang sama mengenai cara mengakhiri konflik. Namun, ia menunjukkan bahwa hasil kebijakan harus dinilai berdasarkan konsekuensinya bagi kehidupan masyarakat.

Bagi Trump, tantangannya adalah menjelaskan kapan perang dapat berakhir, berapa biaya yang harus ditanggung, dan bagaimana pemerintah melindungi ekonomi rumah tangga. Bagi Demokrat, tantangannya ialah menawarkan solusi yang dapat dilaksanakan, bukan hanya menjadikan ketidakpuasan sebagai bahan kampanye.

Pada 3 November, rakyat Amerika tidak memilih presiden baru. Mereka memilih siapa yang akan mengawasi dan membentuk kebijakan legislatif selama dua tahun berikutnya. Hasilnya akan menentukan ruang gerak pemerintahan Trump, termasuk dalam kebijakan perang dan anggaran. Dan, sekaligus kesempatan para pemilih melampiaskan kemuakan yang sudah di atas ubun-ubun mereka terhadap sejumlah kebijakan Trump. Semoga.

(Penulis adalah pengamat hukum dan kebijakan publik, Ketua KPU Provinsi Riau 2024 – 2024 saat ini sedang menyelesaikan Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Islam Riau)