Oleh: Ananda, Pengajar Program Studi Magister Terapan Teknik Komputer, Jurusan Teknologi Informasi, Politeknik Caltex Riau
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Jedar ! nama Indonesia tiba-tiba terdengar keras di kalangan peneliti dan publikasi ilmiah internasional !, bangga ? seharusnya iya, siapa yang tidak bangga jika nama ibu pertiwi berkibar dalam kancah dunia. Hanya saja, kali ini terdengar lantang bukan dikarenakan prestasi, namun dikarenakan tindakan buruk yang dibongkar oleh sesama peneliti asal Indonesia.
Terbongkarnya sekelompok peneliti independen dari Indonesia yang memanfaatkan celah ‘kepercayaan’ dari panitia penyelenggara kegiatan seminar internasional untuk meraih travel grant dengan menggunakan data penelitian dan identitas yang diragukan keabsahannya.
Bukan sekali dua kali, aktifitas ini sudah acap kali dilakukan dan mendapat manfaat besar dari celah ini. Berita-berita pun merebak dan pelaku sudah menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf secara terbuka melalui akun media sosial.
Dunia akademik adalah dunia dimana subjeknya melakukan proses pembelajaran terhadap sebuah bidang keilmuan. Diharapkan pada akhir fase pembelajaran, didapatkan ilmu yang bermanfaat dan bisa dikembangkan untuk kemaslahatan masyarakat umum.
Kejujuran yang membuat ilmu itu bisa diuji bahkan bisa direproduksi. Keterbukaan dalam hal pengerjaan sampai dengan bagaimana hasil eksperimen tersebut disajikan menunjukkan kejujuran menjadi integritas yang tidak bisa diabaikan.
Dunia akademik bekerja dalam sebuah sistem yang menjaga kepercayaan. Ketika sebuah hasil penelitian dipaparkan, publik ilmiah tentunya akan mempercayai hasil tersebut benar adanya, dan bisa direproduksi untuk mendapatkan hasil yang sama.
Komunitas ilmiah pun mempercayai bahwa data penelitian diperoleh dan disajikan oleh pihak yang memang melakukan penelitian dan telah melalui proses ilmiah yang jujur dan bertanggung jawab.
Proses ‘review’ dijalankan terhadap substansi, tetap ada celah ketidaksempurnaan proses ini. Namun, anggapan umum bahwa ‘peneliti mempresentasikan hasil penelitian dengan jujur dan apa adanya’.
Integritas peneliti dipertaruhkan disana. Kasus fabrikasi penelitian yang disajikan pada konferensi internasional tadi mencederai nilai integritas, pada skala besar merusak kredibilitas akademisi Indonesia.
Substansi lebih luas dari kasus ini sesungguhnya jauh lebih besar. Ia memperlihatkan bagaimana tekanan pencapaian akademik perlahan mulai bergeser makna pendidikan dan penelitian itu sendiri. Sekurangnya dalam konteks di Indonesia dimana perguruan tinggi didorong untuk menjadi pusat inovasi dan hilirisasi teknologi.
Pendidikan vokasi adalah bentuk pendidikan yang menitikberatkan pada unsur praktikal demi menghasilkan tenaga kerja terampil. Termasuk juga pada pendidikan tinggi berbasis vokasi seperti Politeknik. Tenaga profesional praktis dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan industri.
Sehingga link and match antara dunia akademik dan kebutuhan industri menjadi hal yang saling melengkapi. Pendidikan tinggi seperti Politeknik diharapkan menjadi motor inovasi terapan dan hilirisasi produk teknologi.
Teknologi terapan dan lulusan siap kerja adalah mantra politeknik. Agenda pemerintah Indonesia dalam hal hilirisasi teknologi digaungkan kuat dalam beberapa tahun belakangan ini. Lulusan siap kerja menjadi andalan untuk penyerapan tenaga kerja terampil dan sesuai dengan kebutuhan industri.
Hasil penelitian diharapkan sampai pada tahap bisa langsung menyentuh kebutuhan masyarakat Indonesia. Politeknik dituntut untuk mengajarkan pendidikan yang memenuhi kebutuhan masyarakat, menghasilkan purwarupa untuk menjawab masalah nasional dan teknologi tepat guna yang memiliki dampak ekonomi nyata.
Pemerintah pun dalam beberapa periode tahun terakhir untuk mendorong dengan memberikan banyak dukungan baik berupa hibah maupun pengembangan sumberdaya untuk mencapai hal ini.
Pendidikan tinggi vokasi memiliki kekuatannya yang terletak pada kedekatannya dengan persoalan lapangan. Semangat hilirisasi dari pemerintah pun banyak disambut oleh perguruan tinggi dengan berlomba-lomba menyertakan produk hasil penelitiannya untuk untuk mendapatkan sokongan hilirisasi.
Namun, muncul tantangan yang tidak sederhana terutama dalam hal tekanan yang dihadapi pendidik pendidikan tinggi dalam hal ini pendidikan tinggi vokasi seperti Politeknik.
Dosen politeknik, menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Tidak hanya memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi selaku seorang dosen di Indonesia, tetapi mereka juga juga harus memenuhi berbagai aturan
Baik oleh pemerintah melalui Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025, target pemenuhan Indikator Kinerja Dosen (IKD) dari Kepmendikbudristek Nomor 500/M/2024, Indikator Kerja Utama (IKU) melalui Kepmendiktisaintek Nomor 358/M/Kep/2025, publikasi ilmiah, perolehan hibah penelitian, sertifikasi kompetensi, kerja sama industri, rekognisi internasional, hingga target hilirisasi inovasi menjadi beban yang harus dipenuhi dosen-dosen Indonesia jaman sekarang, tidak terkecuali dosen-dosen di Politeknik.
Tidak semua perguruan tinggi vokasi memiliki fasilitas pendidikan yang nyaman, penelitian yang terkini, dukungan sumberdaya penelitian, administrasi dan pendanaan yang memadai untuk mendapatkan inovasi yang unggul.
Akibatnya, muncul risiko budaya akademik yang terlalu berorientasi pada luaran kuantitatif. Luaran yang ditujukan untuk memenuhi aspek target pemenuhan indikator-indikator di atas. Ujungnya menyangkut kepada penghasilan dosen.
Angka-angka dalam borang yang menentukan kinerja seorang dosen yang kemudian akan berimbas kepada besarnya pemasukan keuangan yang akan diterima seorang dosen tadi menjadikan banyak dosen dengan segala keterbatasan berupaya untuk memenuhinya.
Rahasia umum, penghasilan dosen di Indonesia, sebagian besar tidaklah menggiurkan. Pemenuhan atas poin-poin inilah menjadikan segala cara ditempuh sehingga tidak mengganggu dapur pemasukan ke rekening penghasilan mereka.
Publikasi penelitian menjadi rekam jejak administratif, prototipe hasil penelitian menjadi bahan untuk diseminasi ke pengabdian masyarakat. Hilirisasi menjadi target institusi. Sungguh berat bukan ?
Pada situasi-situasi demikianlah integritas akademik diuji. Bahwa penelitian-penelitian di pendidikan tinggi vokasi sejatinya memiliki karakter yang berbeda dengan riset akademik murni. Penelitian vokasi bersifat aplikatif dan implementatif.
Sebuah aplikasi digital untuk pelayanan publik, teknologi hijau untuk pengolahan sampah, alat monitoring kesehatan dan perangkat mobile berbasis kecerdasan buatan, akan langsung bisa dirasakan oleh masyarakat dan diadopsi oleh Industri.
Karena itu, manipulasi data, pemalsuan identitas, pelaksanaan prosedur yang tidak patut dan tindakan tidak benar lainnya dalam menghasilkan produk penelitian dalam penelitian vokasi bukan sekedar pelanggaran etika akademik.
Dampaknya dapat langsung kepada kualitas hasil produk, kenyamanan dan keselamatan pengguna akhir, hingga hilangnya kepercayaan terhadap perguruan tinggi.
Konteks luas seperti dugaan riset palsu untuk mendapatkan travel grant seharusnya menjadi lonceng pengingat penting bagi pendidikan tinggi Indonesia. Praktik ini tidak lahir secara tiba-tiba. Budaya akademik yang memuja pencapaian formal, angka dan tekanan birokrasi tanpa ada penguatan integritas yang memadai membuat ia tumbuh.
Industri mungkin akan tertarik pada inovasi yang mendapatkan hasil yang cepat, dan menarik dalam penyajian. Namun lebih dari itu dibutuhkan inovasi yang valid, dapat diuji, dapat direproduksi, dapat dipertanggungjawabkan dan terpenting tidak melanggar integritas akademik dalam proses untuk menghasilkannya.
Di tengah tekanan yang besar ini, ekosistem pendidikan tinggi vokasi perlu mengingat kembali suatu hal mendasar yakni kualitas inovasi tidak hanya ditentukan kecanggihan teknologi dan keunggulan hasil, tetapi juga oleh integritas akademik yang melahirkannya

