Mekanik di Siak Ketakutan Usai Diintimidasi Oknum Polisi Terkait Sengketa Grandong

Mekanik-di-Siak-Ketakutan-Usai-Diintimidasi-Oknum-Polisi-Terkait-Sengketa-Grandong.jpg
Ilustrasi (Canva)

RIAU ONLINE, SIAK - Seorang mekanik bengkel grandong, Eko (37), warga Kampung Tuah Indrapura, Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak, Riau, mengaku ketakutan setelah didatangi seorang pria yang mengaku sebagai anggota Kepolisian Daerah (Polda) Riau.

Eko mengaku bahkan tidak berani pulang ke rumah dan memilih mendatangi rumah temannya untuk berkonsultasi karena merasa takut dan tidak memahami persoalan hukum yang disebut berkaitan dengan persoalan sisa pembayaran jual beli kendaraan grandong yang digunakan untuk melansir buah kelapa sawit.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat 4 September 2026, sekitar pukul 11.45 WIB. Anggota Polisi Polda Riau, Febri, datang menggunakan pakaian biasa ke bengkel yang berada di rumahnya.

Eko menyebut kedatangan Febri berkaitan dengan persoalan sisa pembayaran jual beli grandong antara Timbul Siregar dan seseorang bernama Imam.

“Saya Polisi Polda Riau yang ngepam di rumah Timbul Siregar. Bagaimana terkait kurang bayar jual beli grandong sawit oleh Imam kepada Timbul?” kata Eko menirukan perkataan Febri.

Eko kemudian mengaku mendapat pernyataan bahwa persoalan tersebut dapat dibawa ke kepolisian apabila tidak diselesaikan secara kekeluargaan.

“Ini kalau tidak bisa selesai secara kekeluargaan bisa dilaporkan ke polisi,” ujar Eko menirukan ucapan Febri.

Tak hanya itu, Eko mengaku sempat dituduh bersekongkol dengan Imam lantaran berkomunikasi melalui telepon.

“Itu kok diangkat telepon kamu sama Imam, kalian sekongkol ya?” imbuh Eko menirukan perkataan Febri.

Eko mengaku bingung mengapa dirinya ikut terseret dalam persoalan tersebut. Ia menegaskan tidak terlibat dalam proses jual beli grandong sawit antara Timbul Siregar dan Imam.

Menurut Eko, dirinya hanya bekerja sebagai mekanik yang merakit kendaraan grandong tersebut.

Ia menjelaskan, sekitar satu tahun lalu dirinya mendapat pekerjaan merakit grandong atas permintaan orang tua Timbul Siregar.

Setelah beberapa waktu, Timbul Siregar datang ke bengkel dan melihat grandong yang sebelumnya dipesan oleh ayahnya.

Tidak lama kemudian, Timbul menghubungi Eko melalui telepon dan memberitahukan bahwa kendaraan tersebut telah dijual kepada Imam.

“Eko, grandong sawit itu udah saya jual ke Imam,” kata Eko menirukan ucapan Timbul Siregar.



Beberapa hari kemudian, Imam datang ke bengkel Eko untuk melihat kendaraan tersebut. Setelah terjadi kesepakatan dengan Timbul, Imam meminta Eko melanjutkan proses perakitan hingga selesai.

“Upah saya merakit grandong sudah dibayar lunas oleh Imam. Kemudian grandong tersebut dibawa oleh anggota Imam,” jelas Eko.

Eko mengaku tidak mengetahui harga jual kendaraan maupun kesepakatan pembayaran antara Timbul dan Imam.

Namun, ketika muncul persoalan sisa pembayaran yang disebut mencapai puluhan juta rupiah, dirinya justru ikut dilibatkan.

Eko mengaku sempat diminta Timbul untuk menyampaikan kepada Imam agar segera melunasi sisa pembayaran tersebut.

“Saya bingung, tidak tahu apa-apa terkait jual beli tapi kok jadi saya yang disuruh menyampaikan ke Imam. Kalau ada kurang bayar kenapa enggak menghubungi Imam langsung,” kata Eko.

Menurut Eko, persoalan tersebut membuat dirinya merasa tertekan setelah didatangi seseorang yang mengaku sebagai anggota Polda Riau.

“Bahkan sampai didatangi Polisi Polda Riau ke rumah atas suruhan Timbul Siregar dan mau dilaporkan ke polisi,” tambahnya.

Eko mengaku kedatangan Febri membuat dirinya takut. Ia khawatir persoalan tersebut yang tidak dilakukannya justru membuat dirinya terseret ke dalam persoalan hukum.

Kekhawatiran itu juga dirasakan istrinya. Menurut Eko, istrinya takut suaminya tersandung persoalan hukum bukan karena perbuatannya.

Setelah pertemuan di bengkel rumah Eko, Febri sempat mengajak Eko bertemu di rumah Timbul Siregar bersama Imam. Namun, lokasi pertemuan kemudian berubah dan diarahkan ke Polsek Bungaraya.

Di Polsek Bungaraya sekitar pukul 16.30 wib, Eko bertemu dengan personel Polsek Bungaraya, Erwin.

Usai dari Polsek Bungaraya, Eko mengaku tidak langsung pulang ke rumah.

Ia memilih mendatangi rumah temannya untuk berkonsultasi karena merasa takut dan tidak memahami persoalan hukum yang sedang dihadapinya.

“Saya takut karena saya tidak paham hukum. Saya hanya mekanik, tidak ikut jual beli, tapi kenapa saya yang didatangi polisi dari Polda Riau dan dikaitkan dengan masalah ini,” ujar Eko.

Terpisah, Febri membenarkan dirinya merupakan anggota Sabhara Polda Riau. Namun, ia membantah telah mengancam Eko dengan laporan polisi.

Febri mengatakan dirinya datang ke rumah Eko atas permintaan Timbul Siregar untuk memastikan keberadaan grandong yang berada di bengkel Eko.

“Saya datangi Pak Eko nanya grandong karena di sana. Jadi Bang Timbul maunya kalau belum dilunasi diganti yang baru,” kata Febri.

Febri juga membantah mengeluarkan pernyataan bernada ancaman kepada Eko.

“Tidak ada kalimat begitu bang, tidak ada mengancam, hanya nanya grandong Bang Timbul,” ujarnya.

Menurut Febri, dirinya sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam persoalan tersebut. Namun, karena grandong itu disebut milik Timbul dan berada di bengkel Eko, ia mengaku diminta memastikan keberadaannya.

“Ini gimana. Sebetulnya saya tidak mau ikut campur, tapi karena ini alat Bang Timbul di bengkel jadi saya tanyakan,” katanya.

Saat ditanya mengenai pangkatnya di Sabhara Polda Riau, Febri tidak memberikan jawaban.

Dalam percakapan melalui telepon tersebut, kemudian seorang pria mengambil alih pembicaraan dan memperkenalkan dirinya sebagai Timbul Siregar.

Timbul menyebut Febri sebagai anggotanya dan mengatakan dirinya akan bertanggung jawab apabila Febri menghadapi persoalan.

“Maksudnya apa, Bang? Jangan kayak gitu kepada anggota saya. Febri polisi anggota yang ngepam di rumah saya. Ketika ada masalah, saya bosnya yang menjadi tamengnya,” kata Timbul.

Timbul juga membantah telah memerintahkan Febri untuk mengancam Eko dengan laporan polisi. Menurutnya, Febri hanya diminta memastikan keberadaan grandong lansir sawit yang berada di bengkel Eko.

“Yang pastinya si Febri saya suruh ke sana menyelidiki kenapa barang saya ada di sana. Kalau untuk ngancam-ngancam ngapain? Untuk memastikan saja barang itu memang ada di sana, kenapa terjadi demikian,” ucap Timbul.