Menjadikan Hari Jadi Riau ke 69 sebagai Momentum Kembali ke Jati Diri Melayu

Muhammad-Herwan2.jpg
Muhammad Herwan, Timbalan Ketua Umum FKPMR (istimewa)

Oleh: Muhammad Herwan, Timbalan Ketua Umum FKPMR

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Peringatan Hari Jadi Provinsi Riau ke-69 bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah berdirinya Provinsi Riau, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap arah pembangunan daerah. 

Di tengah berbagai tantangan pembangunan, penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih, berintegritas, amanah, dan bebas dari korupsi harus menjadi komitmen bersama seluruh komponen masyarakat. 

Hari Jadi Riau hendaknya menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan dan memperkokoh Jati Diri Melayu serta meneguhkan komitmen membangun tata kelola pemerintahan yang berintegritas, transparan dan akuntabel, bebas dari perilaku hedonis dan tindak korupsi.

Bagi masyarakat Riau, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, maupun peningkatan investasi. Lebih dari itu, pembangunan harus berakar pada Jati Diri Melayu yang menjunjung tinggi budi pekerti (akhlak mulia), moralitas, kejujuran, rasa malu berbuat salah, tanggung jawab, dan keadilan. 

Nilai-nilai luhur Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui Falsafah Melayu yang berpijak pada prinsip "Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah – Syara’ Mengata, Adat Memakai." Falsafah ini menempatkan agama sebagai sumber nilai, sedangkan adat menjadi pedoman perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Korupsi pada hakikatnya bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga merupakan pengkhianatan terhadap amanah, pelanggaran terhadap adat, dan perbuatan yang mencederai Marwah Melayu. 

Oleh sebab itu, upaya pemberantasan korupsi di Riau tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, melainkan harus dibangun melalui penguatan budaya, pendidikan karakter, dan internalisasi nilai-nilai luhur Melayu dalam seluruh aspek kehidupan.

Warisan Tunjuk Ajar Melayu, sebagaimana dihimpun oleh para budayawan Melayu, mengajarkan bahwa seorang pemimpin wajib mengutamakan kepentingan rakyat, berlaku adil, jujur, dan menjaga amanah. 

Seorang pemimpin tidak boleh memperkaya diri sendiri, tidak boleh menyalahgunakan jabatan, dan tidak boleh mengkhianati kepercayaan masyarakat. Nilai-nilai luhur Melayu mengajarkan bahwa amanah adalah kehormatan, kejujuran adalah kemuliaan, dan keadilan merupakan landasan utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Pepatah Melayu mengingatkan:

"Apa tanda Melayu sejati, memegang amanah sampai ke mati."



Maknanya, amanah bukan sekadar janji, melainkan kehormatan yang harus dipelihara sepanjang hayat. Kehilangan amanah berarti kehilangan marwah.

Demikian pula petuah: "Biar mati anak, jangan mati adat."

Pepatah ini bukan dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai penegasan bahwa nilai, hukum, etika, dan keadilan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Integritas harus tetap dijunjung tinggi dalam keadaan apa pun.

Dalam Tunjuk Ajar Melayu juga dikenal pesan: "Yang benar ditegakkan, yang salah diperbetulkan; yang hak jangan dialihkan, yang batil jangan dipertahankan."

Pesan ini mengajarkan keberanian moral untuk menegakkan kebenaran tanpa memandang kedudukan seseorang. Tidak boleh ada toleransi terhadap penyalahgunaan wewenang, gratifikasi, suap, maupun praktik koruptif lainnya.

Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam langkah-langkah nyata. Pemerintah daerah harus memperkuat sistem pemerintahan yang transparan, akuntabel, berbasis digital, dan terbuka terhadap pengawasan publik. Pengelolaan APBD, pengadaan barang dan jasa, pelayanan publik, perizinan, hingga pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di bidang pendidikan, nilai-nilai Falsafah Melayu dan Tunjuk Ajar Melayu perlu diintegrasikan dalam kurikulum muatan lokal, pendidikan karakter, serta kegiatan budaya di sekolah dan perguruan tinggi. Generasi muda harus dididik agar memahami bahwa kejujuran merupakan kemuliaan, sementara korupsi adalah perbuatan yang merusak masa depan bangsa.

Lembaga adat, tokoh agama, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dunia usaha, media massa, serta keluarga memiliki tanggung jawab yang sama dalam menanamkan budaya antikorupsi. Sinergi seluruh unsur tersebut akan melahirkan budaya malu berbuat curang, budaya malu menyalahgunakan jabatan, dan budaya bangga karena bekerja secara jujur.

Pepatah Melayu mengatakan: "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."

Semangat kebersamaan inilah yang harus diwujudkan dalam membangun sistem pengawasan sosial sehingga pemberantasan korupsi bukan hanya menjadi tugas aparat penegak hukum, melainkan menjadi gerakan moral seluruh masyarakat Riau.

Begitu pula petuah: "Kalau hendak melihat bangsa mulia, lihatlah budi dan amanahnya."

Kemajuan suatu daerah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekayaan alam, melainkan oleh kualitas moral manusia yang mengelolanya. Riau dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, tetapi keberkahan hanya akan terwujud apabila dikelola secara jujur, adil, transparan, dan bertanggung jawab.

Momentum Hari Jadi Riau ke-69 hendaknya menjadi titik tolak untuk menghidupkan kembali semangat Falsafah Melayu dalam penyelenggaraan pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan kehidupan sosial. Nilai-nilai luhur tersebut bukan sekadar warisan budaya yang dipajang dalam upacara adat, melainkan harus menjadi pedoman nyata dalam setiap kebijakan, keputusan, dan tindakan.

Dengan semangat "Menuju Negeri Melayu Berintegritas, Amanah dan Bebas Korupsi", seluruh elemen masyarakat diharapkan bersinergi membangun budaya antikorupsi, memperkuat pelayanan publik yang profesional, mengelola sumber daya alam dengan kearifan Melayu secara cermat, bijak dan cerdas, serta memanfaatkan kekayaan daerah secara bertanggung jawab demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Marwah Melayu akan tetap tegak apabila integritas menjadi budaya, amanah menjadi karakter, dan korupsi menjadi musuh bersama. Mari bersatu membangun Negeri Melayu Riau demi terwujudnya Riau yang maju, sejahtera, bermartabat dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.

Bersatu Menjaga Marwah Melayu.

Berintegritas dalam Pengabdian.

Amanah dalam Kepemimpinan.

Bebas Korupsi untuk Riau Maju, Bermartabat, dan Sejahtera.

Tahniah Hari Jadi Provinsi Riau ke-69.