El-Sayed, Antitesis Donald Trump

Ilham-yasir-Rol.jpg
Ilham Muhammad Yasir Pemred RiauOnline (Dok. Pribadi)

Oleh: Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi RiauOnline

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pemilihan umum di Amerika Serikat (AS) selalu menarik perhatian masyarakat internasional. Menjelang pemilu paruh waktu (midterm election) pada 3 November 2026 mendatang, perhatian tidak hanya tertuju pada perebutan kendali Kongres, tetapi juga pada kemunculan figur-figur baru dengan gagasan progresif yang menantang kemapanan politik di AS.

Salah satunya adalah Abdul El-Sayed, calon senator AS dari Negara Bagian Michigan. Dalam pemilihan midterm nanti, kandidat partai Demokrat ini akan bersaing dengan Mike Rogers, mantan anggota DPR AS yang menjadi calon Partai Republik dan mendapat dukungan langsung Presiden Donald Trump. 

Kandidat partai kecil atau independen juga masih mungkin ikut meramaikan di pemilihan Senat Michigan ini, tetapi pertarungan penentunya diperkirakan berlangsung seru antara El-Sayed dan Rogers.

Pemilu Paruh Waktu

Pemilu paruh waktu (midterm election) adalah pemilihan yang berlangsung pada pertengahan masa jabatan empat tahun seorang presiden. Pada 3 November 2026, warga Amerika akan memilih seluruh 435 anggota DPR (house of representatives), 35 kursi atau sepertiga dari anggota Senat (100 kursi), serta sejumlah gubernur dan pejabat negara bagian. 

Meskipun Donald Trump sudah terpilih sebagai Presiden AS di November 2024 dan dilantik pada Januari 2025 lalu, di midterm election, 3 November 2026 ini, kepemimpinannya akan diuji kembali melalui midterm. 

Meskipun nama Trump tidak berada dalam surat suara, pemilu paruh waktu akan menjadi ujian politik terhadap dua tahun pertama pemerintahannya. Hasilnya menentukan siapa yang mengendalikan Kongres selama dua tahun berikutnya. 

Jika Partai Demokrat, sebagai oposisi merebut salah satu kamar Kongres, sebagian agenda legislasi dan anggaran Trump dapat terhambat. Kongres juga dapat memperketat pengawasan dan membatasi pendanaan kebijakan luar negeri tertentu, meskipun tidak otomatis membalikkan kebijakan Amerika di Timur Tengah.

Fenomen El-Sayed

Kembali ke El-Sayed. Ia mengingatkan publik kepada Zohran Mamdani ketika mengikuti pemilihan Wali Kota New York sepanjang 2025. Mamdani mengalahkan Andrew Cuomo dalam primary Demokrat pada Juni, kemudian memenangi pemilihan umum pada November 2025.

Kini, El-Sayed tampil membawa semangat serupa di Michigan. Keduanya hadir ketika politik luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi perdebatan tajam. Mamdani dan El-Sayed sama-sama mengkritik dukungan militer AS tanpa syarat kepada pemerintah Israel serta membela hak rakyat Palestina. Namun, pandangan rinci keduanya mengenai penyelesaian konflik tidak sepenuhnya sama.



Sikap tersebut menjadi antitesis terhadap kebijakan pemerintahan Trump yang sangat berpihak kepada Israel. Pada saat elite politik Amerika kerap menempatkan kritik terhadap Israel sebagai risiko elektoral, kedua politikus Muslim ini justru mendapatkan tempat di hati sebagian pemilih. 

Mereka memperlihatkan bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak selalu menjadi beban politik, melainkan solusi dan menjadi bagian dari tuntutan terhadap keadilan dan konsistensi kebijakan luar negeri Amerika.

Kalahkan Kekuatan Uang

El-Sayed mengejutkan banyak pihak setelah mengalahkan anggota DPR AS Haley Stevens dalam pemilihan pendahuluan (primary) di Partai Demokrat pada 4 Agustus 2026. El-Sayed memperoleh sekitar 48,5 persen suara, sedangkan Stevens meraih sekitar 47,5 persen. Selisihnya kurang lebih satu poin persentase.

Walaupun tipis, kemenangan itu memiliki makna besar. Stevens didukung elite Demokrat, termasuk sejumlah pemimpin partai di tingkat nasional. Kelompok AIPAC dan organisasi yang berafiliasi mendukung Israel dengan mengeluarkan hampir 30 juta dolar AS untuk mendukung Stevans. Secara keseluruhan, kelompok-kelompok luar menghabiskan hampir 50 juta dolar untuk memperkuat pencalonan Stevans.

Sebaliknya, El-Sayed mengandalkan gerakan akar rumput dengan lebih dari 10.000 sukarelawan. Ia didukung tokoh progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez. Kemenangannya menunjukkan bahwa besarnya uang kampanye tidak selalu menentukan pilihan masyarakat.

El-Sayed bukan pendatang baru dalam politik di Michigan dari partai Demokrat. Ia dokter, epidemiolog, dan mantan direktur kesehatan Kota Detroit keturunan Mesir. Ketika itu, ia kalah dalam pemilihan pendahuluan Demokrat dari Gretchen Whitmer. Whitmer memperoleh sekitar 52,9 persen suara, sedangkan El-Sayed meraih 30,2 persen.

Kekalahan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Delapan tahun kemudian, El-Sayed muncul dengan jaringan politik lebih kuat dan pesan yang lebih dekat dengan persoalan sehari-hari warga, yaitu layanan kesehatan universal, mahalnya biaya hidup, ketimpangan ekonomi, pajak bagi miliarder, dan pembatasan pengaruh perusahaan besar dalam politik.

Michigan sebagai Ujian

Jika menang, El-Sayed akan mengisi kursi Senator yang ditinggalkan Gary Peters, senator Demokrat yang tidak mencalonkan kembali. Ia juga akan menjadi Muslim pertama yang terpilih menjadi senator AS.

Namun, jalannya tidak mudah. Michigan merupakan negara bagian medan pertempuran. Dalam pemilihan Senat 2024, Rogers kalah sangat tipis dari kandidat Demokrat Elissa Slotkin, dengan selisih kurang dari 20.000 suara atau sekitar 0,3 poin persentase.

Sejumlah survei 2026 juga memperlihatkan persaingan Rogers dan El-Sayed masih sangat ketat, dengan hasil yang bergerak dari imbang hingga keunggulan tipis bagi salah satu kandidat.

Jumlah pemilih sebenarnya pada 2026 tentu belum diketahui karena pemungutan suara belum berlangsung. Sebagai perbandingan, sekitar 4,5 juta warga memberikan suara dalam pemilu paruh waktu Michigan pada 2022. Saat itu terdapat sekitar 8,12 juta pemilih terdaftar, dengan sekitar 7,20 juta di antaranya berstatus aktif. Mobilisasi jutaan pemilih inilah yang akan menentukan nasib El-Sayed di midterm.

Daya tarik El-Sayed tidak hanya berasal dari identitasnya sebagai Muslim. Ia menawarkan politik yang menghubungkan keadilan ekonomi, layanan kesehatan, pluralisme, penolakan terhadap kekuasaan uang, dan solidaritas terhadap Palestina. Seperti Mamdani, ia berbicara kepada kelompok pekerja dan masyarakat menengah ke bawah tanpa meninggalkan keberagaman.

Tidak mengherankan apabila Trump turun tangan menyerang pencalonannya. Trump juga pernah menyebut Mamdani sebagai “komunis”, mengancam deportasi, dan mengancam pemotongan dana federal untuk New York. Terhadap El-Sayed, Trump baru-baru ini mengunggah di media sosial foto keluarganya berdampingan dengan foto keluarga El-Sayed, di mana istrinya mengenakan hijab dengan tulisan “dua Amerika yang sangat berbeda”. 

Unggahan tersebut langsung dikecam oleh organisasi hak-hak sipil Muslim dan sejumlah pengkritik Trump sebagai upaya menggambarkan keluarga Muslim sebagai sesuatu yang tidak Amerika atau berbeda dari Amerika. Serangan itu sesungguhnya memperlihatkan pertarungan tentang siapa yang berhak dianggap sebagai orang Amerika. 

Trump telah membangun politik ketakutan terhadap sesuatu yang digambarkan asing. Mamdani dan El-Sayed menjawabnya dengan politik kewargaan, bahwa Amerika juga milik Muslim, milik imigran, pekerja, dan milik kelompok yang selama ini disisihkan.

Mamdani telah membuktikan bahwa politik progresif dapat menang di New York. Kini El-Sayed menghadapi ujian yang lebih berat untuk membuktikan bahwa gagasan serupa juga dapat diterima di negara bagian kompetitif seperti Michigan. Jika berhasil, kemenangannya bukan hanya mencatatkan sejarah bagi komunitas Muslim, tetapi juga menandai perubahan arah progresif politik di AS. Dan, El-Sayed paling tidak mewakili sikap antitesis dari Donald Trump. 

Meskipun ia seorang Muslim, tapi ia dikagumi dan mendapatkan tempat di hati pemilih Amerika, bahkan ia berhasil menarik perhatian media nasional serta internasional. Jika popularitas terus naik, apakah El-Sayed suatu hari nanti ia bisa menjadi calon Presiden AS? Semoga. (bersambung)

* Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua KPU Provinsi Riau 2019 – 2024 dan saat ini sedang menyelesaikan Pendidikan Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Islam Riau.