Kebangkitan Suara Dunia di Sidang PBB

Sempena-Memperingati-69-Tahun-Hari-Kebangsaan-Malaysia-101-Tahun-Tun-Mahathir.jpg
Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online (Istimewa)

Oleh: Ilham Muhammad Yasir, Pemimpin Redaksi Riau Online

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ada sesuatu yang berbeda dari atmosfer Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini. Forum diplomasi terbesar dunia yang selama puluhan tahun sering menjadi panggung utama negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, memperlihatkan dinamika yang tidak biasa di akhir pekan lalu.

Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (81st Session of the United Nations General Assembly) yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York, September 2026, tidak hanya menjadi pertemuan tahunan para pemimpin dunia. Sidang ini berubah menjadi panggung yang memperlihatkan pergeseran dalam hubungan internasional.

Dengan tema "Restoring Trust, Managing Transformation: An Inclusive United Nations for All" (Memulihkan Kepercayaan, Mengelola Transformasi: PBB yang Inklusif untuk Semua), sidang ini membawa pesan mengenai kebutuhan memulihkan kepercayaan terhadap sistem internasional yang menghadapi berbagai krisis: konflik bersenjata, perubahan iklim, perkembangan Artificial Intelligence (AI), ketimpangan ekonomi, dan meningkatnya rivalitas geopolitik.

Sidang dipimpin oleh Presiden Majelis Umum PBB ke-81 Khalilur Rahman dari Bangladesh, sementara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyoroti melemahnya kepercayaan terhadap multilateralisme.

Palestina

Palestina menjadi isu yang paling menarik perhatian. Keputusan Amerika Serikat tidak memberikan visa kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas memicu perdebatan internasional. Sebagai respons, Majelis Umum PBB memberikan ruang agar Abbas menyampaikan pidato secara virtual. 

Sebanyak 152 negara mendukung langkah tersebut. Dukungan ini menjadi simbol bahwa mayoritas negara anggota PBB menginginkan Palestina tetap memiliki ruang dalam forum diplomasi internasional.

Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai kesetaraan akses diplomasi, hukum internasional, dan peran negara besar dalam menentukan suara siapa yang dapat didengar.



Konflik Gaza juga menjadi isu utama dalam sidang. Berbagai negara menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi kemanusiaan warga sipil Palestina, sementara Israel mempertahankan posisi bahwa operasi militernya berkaitan dengan keamanan nasional.

Walkout

Pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tanggal 22 September 2026 menjadi sorotan setelah sejumlah delegasi melakukan walkout sebagai bentuk protes politik. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa isu Palestina telah menjadi salah satu persoalan paling membelah dalam politik internasional.

Kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump di hari yang sama juga menjadi perhatian. Meskipun Amerika tetap merupakan kekuatan global utama, dinamika sidang menunjukkan bahwa kemampuan Washington membangun konsensus internasional menghadapi tantangan yang semakin besar.

Fenomena ini tidak berarti berakhirnya pengaruh Amerika Serikat, tetapi menunjukkan bahwa dunia bergerak menuju pola hubungan yang lebih multipolar.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pidatonya tanggal 24 September 2026 juga menjadi salah satu tokoh yang menarik perhatian dalam Sidang PBB ke-81. Dalam pidatonya, Pezeshkian menggunakan kesempatan forum internasional tersebut untuk menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel. Ia membawa narasi bahwa tekanan politik, ekonomi, dan militer terhadap Iran serta konflik di Timur Tengah harus dilihat dalam konteks ketegangan geopolitik yang lebih luas.

Serangan AS-Israel

Salah satu momen yang menjadi perhatian adalah ketika Presiden Iran menampilkan gambar pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei serta gambar korban anak-anak sekolah asrama yang disebut sebagai korban serangan Amerika dan Israel. Tindakan tersebut menjadi simbol politik yang kuat dalam pidatonya. Iran berupaya membawa isu korban sipil dan penderitaan manusia sebagai bagian dari kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel.

Namun, narasi tersebut juga tidak terlepas dari posisi geopolitik Iran yang selama bertahun-tahun berseberangan dengan Washington dan Tel Aviv. Kritik Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel merupakan bagian dari konflik kepentingan yang lebih luas di Timur Tengah. Meski demikian, panggung PBB memberikan ruang bagi Iran untuk menyampaikan pandangannya secara terbuka di hadapan komunitas internasional.

Yang menarik dari momen tersebut adalah bagaimana forum PBB menjadi ruang bertemunya berbagai narasi yang saling berhadapan: Amerika Serikat dengan perspektif keamanan globalnya, Israel dengan isu pertahanan negaranya, Palestina dengan tuntutan kemanusiaan dan pengakuan politik, serta Iran dengan kritik terhadap dominasi Barat di kawasan Timur Tengah.

Semakin Berani

Sidang PBB ke-81 memperlihatkan satu perubahan penting. Negara-negara di dunia semakin berani menyampaikan posisi sendiri berdasarkan kepentingan nasional, tekanan publik, dan pertimbangan kemanusiaan.

Dunia tidak sepenuhnya meninggalkan kekuatan besar, tetapi legitimasi internasional semakin bergantung pada kemampuan negara mendapatkan kepercayaan dunia.

Pada akhirnya, Sidang PBB tahun ini bukan hanya tentang pidato para pemimpin. Ia menjadi gambaran bahwa tatanan global sedang berubah. Kekuatan ekonomi dan militer tetap penting, tetapi suara mayoritas bangsa-bangsa dan nilai kemanusiaan semakin menjadi faktor penting dalam menentukan arah politik dunia.

*Penulis adalah jurnalis dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Riau yang juga memiliki ketertarikan pada isu-isu politik global.