Catatan dari Negeri Gingseng: Jika Menginginkan Sesuatu, Maka Cintailah Terlebih Dahulu

Mayor-Pnb-Barika-Harma.jpg
Mayor Pnb Barika Harma, Anak Riau Bersekolah di Korsel (Dok. Pribadi)

Oleh: Mayor Pnb Barika Harma, Anak Riau Bersekolah di Korsel

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Jika menginginkan sesuatu, maka cintailah sesuatu tersebut terlebih dahulu. Sebab di dunia ini, tidak ada yang benar-benar datang secara kebetulan. Segala sesuatu bergerak dengan hukum tarik-menarik. Apa yang kita cintai akan mendekat, dan apa yang kita abaikan akan menjauh dengan sendirinya.

Tarik-menarik itu hanya terjadi bila ada kesamaan frekuensi. Ketika hati, pikiran, dan niat berada pada gelombang yang sama, maka energi akan saling merespons. Analoginya sederhana: orang-orang baik cenderung dikelilingi oleh orang-orang baik pula. Lingkungan tidak pernah netral; ia adalah cerminan dari kualitas batin penghuninya.

Saat ini saya berada di Korea Selatan (Korsel), jauh dari keluarga. Setiap hari menghadapi cuaca ekstrem dengan suhu minus 11 hingga 12 derajat, makanan yang belum sepenuhnya akrab di lidah, dan tentu saja sulit menemukan rendang. Namun semua itu tidak terasa berat. Karena semua ini berangkat dari keinginan saya sendiri, setiap tantangan justru terasa ringan dan membahagiakan.

Hari-hari dijalani dengan rasa syukur. Setiap langkah diiringi harapan agar Allah memudahkan segala urusan selama berada di sini, serta terus menambahkan nikmat-Nya—sedikit demi sedikit, tepat pada waktunya.


Lalu, bagaimana cara mencintai sesuatu?

Pertama, membicarakannya dengan baik. Seringlah menyebutnya dalam percakapan dengan keluarga dan kerabat, bukan dengan keluhan, tetapi dengan harapan. Ucapan bukan sekadar suara; ia adalah doa yang sering kali tidak kita sadari. Apa yang sering kita ucapkan, perlahan akan membentuk arah hidup kita.

Kedua, memasukkannya ke dalam doa. Doa adalah bentuk pengakuan bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah. Ketika suatu keinginan terus kita hadirkan dalam doa, maka keinginan itu tidak lagi berdiri sendiri—ia terikat dengan kehendak-Nya. Di situlah kekuatan sebenarnya bermula.

Ketiga, membangun afirmasi dalam pikiran bawah sadar. Doa dan ucapan yang diulang akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Dari sanalah muncul dorongan-dorongan kecil yang menggerakkan langkah: memilih jalan tertentu, bertahan saat lelah, dan melakukan hal-hal yang tanpa sadar justru mengantarkan kita lebih dekat pada tujuan.

Keempat, mewujudkan cinta dalam aksi nyata. Cinta tidak cukup disimpan di dalam hati. Ia harus hadir dalam sikap dan perbuatan. Jika kita mencintai suatu wilayah atau negara, maka hormatilah aturannya, hargai budayanya, dan ucapkan kata-kata baik tentangnya. Segala sesuatu di alam semesta ini senantiasa bertasbih kepada Allah. Ketika kita memperlakukan sesuatu dengan kebaikan, maka atas izin-Nya, kebaikan pula yang akan kembali kepada kita.

Kelima, bersyukur atas setiap proses kecil. Jika kita meminta sesuatu yang besar, misalnya rezeki dalam jumlah besar lalu Allah memberikannya sedikit demi sedikit, maka jangan meremehkannya. Syukur memiliki energi yang sangat besar. Ia membuka pintu-pintu tambahan yang tidak kita duga. Allah sendiri telah berjanji, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Pada akhirnya, keinginan tanpa cinta hanya akan bertahan sebentar. Namun cinta melahirkan kesabaran, adab, dan konsistensi. Apa pun yang ingin kita raih ilmu, negeri, rezeki, atau masa depan harus dicintai terlebih dahulu agar layak didekatkan oleh Allah.