Ibu dan Anak Datang dari Belanda ke Pekanbaru Kenang Sang Kakek jadi Romusha Rel Kereta Api

Ibu-dan-Anak-Datang-dari-Belanda-ke-Pekanbaru-Kenang-Sang-Kakek-jadi-Romusha-Rel-Kereta-Api.jpg
Dua generasi keturunan dari Josephus Paulus van Driessche saat berkunjung ke Sungai Siak, Sabtu, 30 Agustus 2025. (Istimewa)

Penulis: Osvian Putra

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Seorang bekas tentara KNIL yang lahir di Batavia tahun 1907. Bapaknya bernama Josephus Claudius Carolus van Driessche, kelahiran Semarang. 

Sedangkan ibunya bernama Elisabeth Marie Louise van Driessche, kelahiran Padang. Banyak darah hindia sepertinya di tubuhnya karena lahir dan besar di tanah mooi Hindia ini. 

Kelak, setelah besar ia masuk tentara, bertugas sebagai prajurit infanteri. Josep, mengikuti tugas bapaknya ketika ia masih kecil untuk pindah ke Bandung dan tinggal di sebuah rumah di Jl. Nyland. 

Maka, di kota itu pula ia mendaftar untuk ikut bekerja di KNIL dan akhirnya ditempatkan pada unit Militaire Motordienst. Kerjanya adalah urusan perbaikan dan service kendaraan militer Belanda, tentu saja.

Pada saat Belanda menyerah kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, dia ditangkap oleh militer Jepang. Josep dikurung di sebuah kamp tahanan militer. Berpindah-pindah, dari Bandung, ketika dia ditahan bersama 6.000 Belanda lainnya. 



Kemudian ke bersama 2,000 tahanan lainnya, dia dipindahkan dengan kereta api menuju Cilacap pada bulan Juni 1942. Akhirnya  catatan yang tertinggal menuliskan bahwa kemudian dia diberangkatkan ke Sumatera dengan menggunakan kapal Cuko Maru pada tanggal 14 Mei 1944. 

Kapal itu membawa 1.925 tahanan perang yang terdiri dari 1.615 orang Belanda dan 310 orang lainnya berkebangsaan Inggris. Kapal itu kemudian tiba di Emma Haven, nama lama pelabuhan Teluk Bayur pada tanggal 17 Mei 1944. 

Di Padang, Josep diinapkan semalam di sebuah penjara Belanda lama yang terletak di Strandweg, sekarang lebih dikenal dengan istilah Taplau, di seberang masjid Al Hakim yang indah di tepi pantai Padang itu. Sepertinya Cuma satu malam waktu buat transit di Padang. Lalu Josep dibawa ke Pekanbaru melalui jalan darat. 

Di Pekanbaru, Josep ditempatkan di Kamp “Malay,” nama lain dari kamp 1 yang berlokasi di tepi sungai Siak, tidak jauh dari Jembatan Siak IV sekarang. Disitulah Josephus Paulus van Driessche 

Ditahan dan dipaksa bekerja pada proyek pembangunan rel kereta api Pakan Baroe-Muaro dari tahun 19944 sampai 15 Agustus 1945. Josep kemudian baru dibebaskan pada bulan Oktober 1945 melalui jalur sungai/laut dengan melayari sungai Siak menuju selat Malaka lalu tiba di Singapura. 

Dia menaiki kapal Elizabeth, sebuah kapal tua berbobot 800 ton yang memang telah beroperasi ke Pekanbaru dari Singapore sebelumnya untuk membawa tahanan perang lain yang berasal dari Palembang via Singapura. 

Hari ini, sabtu, 30 Agustus 2025, 80 tahun setelah pembebasan. Dua orang wanita datang berkunjung. Dengan perasaan sentiment dan haru, mereka menatap nanar air sungai Siak yang mengalir tenang siang tadi. 

Mereka tepekur, matanya berkaca-kaca, dan kata-kata yang keluar dari mulut mereka seperti bergetar, pertanda mereka begitu terguncang dan terharu membayangkan apa yang terjadi kepada Ayah dan Opa dua wanita Ibu dan anak ini. 

Mereka sedih. Bagaimana tidak, enceng gondok yang tumbuh liar berpadan dengan talas air di hamparan tepi sungai menjadi contoh makanan yang pasti dulu pernah dikonsumsi oleh Opa serta Papa dua wanita itu. Susah saya menceritakan itu sebenarnya, namun sejarah tentu mesti diungkap, walaupun pasti akan membuat hati serasa tersayat sembilu!