Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pada peringatan hari pembebasan ke-80 hari Sabtu minggu lalu, di kompleks Bronbeek, Arnhem. Telah diputuskan bahwa untuk pertama kalinya keluarga para tahanan perang berkebangsaan Eropa yang dipekerjakan oleh Jepang pada proyek pembangunan jalur kereta api maut Pakan Baroe-Muaro pada tahun 1944-1945 akan melakukan peringatan di Pekanbaru.
Rencana kegiatan tersebut akan diadakan pada bulan Mei tahun 2026 yang akan datang.
Rombongan yang akan mengikuti kegiatan ini antara lain adalah Pengurus Stichting Siam-Burma en Pakan Baroe Spoorweg. Yayasan ini adalah lembaga resmi yang menjadi sentral perkumpulan dari para prajurit Belanda yang ikut berperang di Asia pada masa perang dunia kedua.
Nanti, Ketua serta Sekretaris dari Yayasan ini akan hadir langsung ke Pekanbaru. Peserta lainnya adalah para keluarga serta keturunan para prajurit yang pernah bekerja pada proyek pembangunan jalur rel kereta api Pakan Baroe-Muaro.
Direncanakan rombongan akan mengunjungi situs-situs yang terkait dengan pendudukan Jepang di Riau, mulai dari Kamp Wanita dan Anak-anak di Salo.
Kamp tahanan untuk pria, mestinya juga akan dikunjungi, akan tetapi karena sudah tidak ada bekas di situs tersebut karena sudah berubah wujud menjadi SPBU, maka kemungkinan akan dilewati saja.
Objek lain adalah pelabuhan di pinggir sungai Siak, bekas kamp I-II-III-IV-V-VI-VII-VIII serta IX di sepanjang jalur dari Pekanbaru-Tangkerang-Kubang-Teratak Buluh-Lubuk Sakat-Sungai Pagar-Lipat Kain-Koto Baru-Logas-Kota Kombu serta Muaro Sijunjung.
Di kota Pekanbaru sendiri, panitia telah melakukan riset semenjak awal tahun ini dan direncanakan akan dibuat napak tilas mengunjungi titik-titik yang dirasa penting untuk diketahui oleh para peserta kelak.
Adapun objek-objek tersebut antara lain adalah, bekas kantor perusahaan minyak Belanda serta bangunan tua di Jalan A Yani. Pasar Bawah, Pelabuhan, bentangan besi rel di Jalan Juanda, lokomotif di Jalan Tanjungkarang, menyusuri Jalan Lokomotif termasuk melihat bekas besi penyangga jembatan kereta asli di atas sebuah parit kecil di Jalan Lokomotif.
Begitu juga di Jalan Kopan yang merupakan bekas workshop masa masa proyek berjalan, kemudian menyebrang Jalan. Sudirman di bekas area kamp 2 di sekitar Tangkerang dan menyusuri Jl. Kereta Api hingga Simpang Tiga.
Di Simpang Tiga sendiri, tepatnya di monumen kereta api, akan diadakan semacam upacara peringatan dengan mengheningkan cipta dan meletakkan karangan bunga di atas monumen peringatan tersebut.
Lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke bekas kamp 3 di kampung Petas, Teratak Buluh lalu menyusuri jalan menuju Taluk Kuantan dimana sebagian besar badan jalan sebenarnya adalah bersisian dengan jalur kereta api lama tersebut. Termasuk pula mengunjungi bekas kamp di Koto Baru, Logas, Lipat Kain serta Kota Kombu.
Perjalanan itu sendiri rencananya akan berakhir di Padang, karena peserta juga akan menyinggahi bekas stasiun Muaro. Bekas kota tambang, Ombilin di Sawahlunto.
Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) serta bangunan-bangunan tua yang berkaitan dengan sejarah perang dunia kedua saat Belanda ditaklukkan oleh Jepang dulu.

