Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Komemorasi adalah kata yang relatif asing dalam bahasa Indonesia. Logis saja, karena ini sebenarnya adalah serapan dari bahasa Inggris yang maksudnya adalah: tindakan atau upacara untuk memperingati seseorang, suatu peristiwa, atau hal yang berkesan.
Sementara dalam bahasa Belanda, Komemorasi disebut dengan Herdenking. Nah, Herdenking itu lah yang diadakan di kompleks museum dan resort veteran perang Bronbeek, dekat kora Arnhem, Belanda, kemarin.
Herdenking ini diadakan setiap tahun, dimana para peserta berkumpul di kompleks yang terdiri dari museum, asrama veteran, taman serta berbagai macam tugu yang berkaitan dengan daerah koloni Belanda, tentu termasuk Indonesia.
Secara spesifik, yang unik adalah bahwa di kompleks tersebut juga terdapat museum Atjeh. Tentu saja berisikan benda-benda yang berkaitan dengan Atjeh, mengingat daerah tersebut adalah wilayah yang terakhir diduduki Belanda setelah melalui perang panjang hingga 1904.
Pada event Herdenking itu, berkumpullah orang-orang yang terdiri dari veteran perang (masih tinggal segelintir bekas tentara pada masa perang dunia ke-2 berusia di atas ratusan tahun), anak-anak para veteran, cucu, serta keluarga besar.
Hadir pula perwakilan pemerintah, tentunya Menteri dan staf kementerian pertahanan, pengurus berbagai organisasi serta komunitas yang terkait dengan perang dunia ke-2 dimana para veteran dan keluarganya tersebut adalah anggota dari organisasi-organisasi tersebut.
Mereka memperingati kekejaman perang dengan diawali oleh sambutan dari pengurus, Menteri Pertahanan Belanda diikuti dengan mengheningkan cipta serta menyanyikan lagu kebangsaan Belanda.
Secara spesifik, yang berkaitan dengan Riau, adalah anggota dan keturunan bekas tahanan serta tawanan perang pada proyek pembangunan jalur kereta api Pakan Baroe (istilah yang dipakai pada masa perang dulu)-Muaro.
Dimana proyek ini sebenarnya adalah proyek kembar dengan pembangunan rel kereta api di Birma (sekarang Myanmar) dan Thailand yang menghubungkan kota Tanbuzayat dengan Kanchanaburi dengan panjang 420 KM (lebih panjang, berbanding jalur Pakan Baroe-Muaro – 220 KM).
Lalu, mungkin banyak pula yang belum tahu bahwa sebenarnya di kompleks Bronbeek tersebut juga terdapat sebuah tugu yang bernama Bangkinang Kampen. Tugu peringatan tentang ribuan bangsa Eropa, khususnya Belanda yang ditahan di 2 buah kamp yang terdapat di Bangkinang (tepatnya di Salo).
Satu kamp untuk laki-laki, sebuah bekas pabrik karet yang sekarang sudah berubah menjadi SPBU serta kamp wanita dan anak-anak yang sekarang sudah menjadi kompleks sebuah Sekolah Dasar di Salo.
Inti kegiatan Herdenking kali ini adalah perencanaan kunjungan ziarah oleh para anggota keluarga veteran tahanan perang pada jalur ketera api Pakan Baroe-Muaro tersebut ke Riau yang direncanakan akan diadakan pada bulan Mei tahun 2026 yang akan datang.
Sebagai informasi, pada hari pertama pendaftaran saja, telah 16 orang yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut pada tahun depan.
Jika terwujud, maka ini adalah merupakan kunjungan resmi ziarah bersama untuk memperingati kekejaman perang dan jatuhnya ribuan korban pada masa perang dunia ke-2 tersebut di wilayah Riau. Sesuatu yang sangat jarang diketahui oleh khalayak selama ini.

