Kenapa Romusha, Kenapa Jawa (1)

Romusha-Jalur-Kereta-PekanbaruMuaro.jpg
Romusha Jalur Kereta Pekanbaru–Muaro (Istimewa)

Penulis: Osvian Putra

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Antara jijik, sedih sekaligus amarah yang amat sangat, namun tertahan, tidak bisa ditumpahkan. Kira-kira begitulah perasaan kalau kita akhirnya mengerti bagaimana penderitaan bekerja sebagai Romusha. 

Bagaimana tidak. Awalnya mereka diminta untuk bekerja, seperti pekerja proyek yang bekerja kepada pemborong. Dikumpulkan dari kampung ke kampung dari tanah Jawa dengan koordinasi antara militer Jepang dengan para carik, serta kepala desa. 

Mereka diiming-imingi pekerjaan bagus di luar pulau. Bekerja dengan pemerintah kerajaan Jepang yang mengaku datang sebagai saudara tua untuk membantu membebaskan kita dari cengkraman penjajah. 

Siapa yang tidak mau. Zaman itu memang pekerjaan susah, kalaupun ada, bertani, hasilnya bernilai rendah dan murah. Maka, iming-iming bekerja di proyek itu sungguh mujarab bagi para pemuda Desa yang rata-rata tidak berpendidikan itu. 

Maka, di kampung-kampung dibuatlah atau ada semacam orang yang ditunjuk untuk melayani pendaftaran. Maka, setelah jumlahnya cukup untuk memenuhi rangkaian gerbong menuju Batavia berangkatlah mereka meninggalkan kampung halaman menuju tanah harapan itu. 

Keberangkatan mereka diiringi isak tangis, tentu saja, namun mereka juga dielu-elukan karena kelak diharapkan akan pulang membawa perubahan, merubah nasib membawa setumpuk uang. Namanya saja kerja proyek di tanah seberang! 


Tinggalan dari zaman itu yang masih bisa kita rasakan sampai sekarang adalah bahwa kita menggunakan struktur masyarakat mulai dari RT, kemudian RW, lalu Desa, atau Kelurahan. 

Sistem tersebut sebenarnya mengadopsi model Jepang, dimana setiap (sekitar) 20 rumah diminta untuk mengorganisasi diri dalam satu kelompok yang disebut dengan Tonarigumi. Ada pimpinan yang ditunjuk oleh anggota untuk menjadi pimpinan Tonarigumi tersebut. 

Diatasnya, ada Aza, mungkin semacam RW sekarang. Aza-aza ini nantinya akan membentukku (bila berada di kawasan pedesaan). Maka, yang memimpin Ku (Desa) disebut dengan Ku-Cho. Pak Kades! 

Mereka itulah yang diperintahkan oleh militer Jepang untuk mengorganisir para pemuda (sebenarnya ada juga perempuan) untuk bekerja di proyek-proyek Jepang pada masa pendudukan itu.

Jika laki-laki disuruh bekerja di proyek, maka kaum perempuan biasanya diperuntukkan untuk menjadi tukang cuci, juru masak, atau pembantu di markas-markas atau di kediaman para pemimpin militer Jepang. 

Namun, ada juga sebenarnya perempuan itu yang dibohongi, diiming-imingi kerja di restoran, tempat hiburan dan sejenisnya sebagai pelayan, namun kenyataannya kelak mereka dijadikan Ianfu, atau wanita penghibur! 

Kenapa banyak sekali pemuda-pemuda itu mau saja diajak Jepang!? pertama karena memang pekerjaan sulit didapat, ekonomi susah. Propaganda Jepang yang membangkitkan rasa Nasionalisme ikut membakar semangat para pemuda itu untuk menyukseskan cita-cita kemerdekaan karena akan bekerja membantu saudara tua yang sedang berjuang untuk membebaskan kita dari kolonialisme. 

Terakhir, sebenarnya mungkin 10-20 tahun kebelakang, sebelumnya Jepang telah mengirimkan mata-mata ke seantero negri yang akan mereka serang. Mereka bekerja di berbagai sektor. 

Sebagai pedagang, berkebun, wartawan dan banyak jenis pekerjaan lainnya. Mereka inilah yang secara regular mengirim kabar ke tanah air mereka untuk mengirimkan berbagai macam informasi tentang tanah yang mereka mata-matai itu. 

Kesimpulannya adalah bahwa Jawa mempunyai penduduk yang sangat banyak, padat, miskin dan relatif tidak berpendidikan. Jadi artinya sumber daya manusianya yang kelak akan habis dieksploitasi habis-habisan oleh Jepang atas alasan-alasan diatas. Maka, jadilah mereka Romusha!