Sembilan Fotografer Soroti Masalah Tumpang Tindih Lahan di Riau

diskusi-foto-rimbang-baling.jpg
(Rico)

Laporan: RICO MARDIANTO

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Sembilan fotografer di Pekanbaru memamerkan esai-esai foto tentang masalah pengelolaan lahan di Riau dalam diskusi foto bertajuk "Tentang Tanah, Memotret Isu Lahan di Riau". Acara ini diselenggarakan WRI Indonesia bekerja sama dengan Arkademy dan Green Radio, Minggu, 23 Juni 2019 di aula Perpustakaan Soeman H.S Pekanbaru.

Foto-foto tersebut merupakan hasil lokakarya fotografi yang merupakan bagian dari kampanye #IniTanahKita.

Foto yang ditampilkan banyak mengangkat tentang konflik tumpang tindih kepemilikan lahan, di antaranya poteret tentang Kota Tua Pekanbaru karya Bayu Made Winata, yang ia abadikan sempena hari jadi ke-235 tahun Kota Pekanbaru.

"Saya menceritakan tentang Kota Tua yang akan hilang. Kota Tua Pekanbaru perlahan tergerus oleh waktu dan ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah. Saya mengangkat cerita ini karena saya merasa jejak sejarah adalah identitas kota. Identitas ini apabila tidak diakui dan dirawat, tentu akan mati perlahan," kata Bayu.

Foto esai lainnya dari Nur Rohim Laras Setia, seorang mahasiswa di Pekanbaru yang menceritakan tentang orang tuanya yang bekerja sebagai buruh angkutan kayu balok.

Dia menuturkan masa kecilnya diwarnai dengan pengalaman melewati hutan-hutan yang dahulu masih sangat indah dengan berbagai satwa di dalamnya. Namun sekarang pemandangan itu sudah jarang terlihat.

"Cerita foto ini menjadi momen untuk saya mengingat kembali memori masa kecil saya dan juga hubungan saya dengan Bapak. Bisa dibilang, saya hidup dan dibesarkan dari hutan-hutan di Provinsi Riau," ujar perempuan 20 tahun ini.

Mentor lokarkarya Arkademy, Ben Laksana mengungkapkan bahwa isu pengelolaan lahan sering dianggap sebagai isu teknis atau sebatas maslaah kebijakan, padahal ada dampak langsung pada komunitas-komunitas lokal.

"Melalui lokakarya ini, peserta dibekali dengan materi teori dan praktik bagaimana menggunakan medium fotografi tersebut untuk mengangkat isu-isu sosial dan lingkungan di sekitar mereka," ungkap Ben Laksana.