Begini Modus Pria Lulusan SD Menyebar SMS Penipuan Berkedok Undian

Ekspose-kasus-penipuan-berkedok-sms-berhadiah.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Direktorat Reserse Kriminal khusus Kepolisian Daerah Riau menduga korban penipuan modus sms yang dilakukan Ad, banyak tersebar di berbagai daerah. Namun sejauh ini hanya satu warga Pekanbaru yang melaporkan penipuan itu ke polisi.

"Korban mengalami kerugian Rp3 juta," kata Direktur Reskrimsus Polda Riau Kombes Pol Gideon Arif Setiawan, Selasa, 29 Mei 2018.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku melakukan penipuan secara online dengan mengirimkan sms berhadian mengatasnakaman M-Kios kepada calon korban. Korban yang mendapat sms undian berhadiah diarahkan untuk membuka www.gebyarmkios.com yang sengaja dibuat pelaku.

Kemudian Gideon menambahkan, Korban diarahkan untuk menghubungi nomor telepon pejabat perusahaan yang diduga fiktif di dalam website tersebut. Modusnya, korban diminta mengirimkan sejumlah uang pajak pemenang untuk pengambilan hadiah.

"Dalam website itu, dia meyakinkan kontennya dengan mencantumkan beberapa nama pejabat yang tidak valid jgua surat izin Depertemen Sosial tidak valid," ujarnya.

Di dalam website itu tercantuk informasi hadiah pemenang undiang dengan 4 kategori yakni Uang Rp100 juta, Rp75 juta, satu unit motor dan satu unit mobil. Pelaku juga mahir menirukan berbagai macam nada bahasa layaknya seorang operator seluler untuk menghubungi targetnya.

"Korban yang tertipu diminta menghubungi nomor handphone tertentu di dalam website," ujarnya.

 

Dalam hal ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa 23 buah modem internet, satu unit laptop dan 4 buah handphone. Dalam sehari, pelaku bisa mengirimkan 2000 ribu sms undian fiktif secara acak. Dalam satu bulan, pelaku mampu menghasilkan omset Rp15 juta dari kejahatan penipuan online selama 3 tahun.

Meski hanya lulusan sekolah dasar kata Gideon, pelaku bisa mengoperasikan website dan perangkat lainnya belajar dengan cara otodidak. Pelaku juga mendapatkan pelajaran dari jaringan yang sama di dunia maya.

"Semakin lama semakin mahir, skill-nya bertambah, mereka ini juga punya intruktur di dunia maya," ujar Gideon.

Polisi menduga pelaku tidak sendiri. "Kami masih mendalami keterlibatan pihak lainnya," ujarnya.

Sambil tertunduk lesu, Ardiansyah mengaku nekat melakukan penipuan untuk membantu ekonomi keluarga. "Uangnya untuk kebutuhan belanja sehari-hari," ujarnya.

Atas perbuataannya, pelaku terancam dijerat pasal 28 ayat 1 undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

Sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Riau meringkus seorang penipu undian bermodus operator pulsa seluler Ad, 21 tahun di Sidenreng Rapang, Sulawesi Selatan.

Pelaku yang hanya lulusan sekolah dasar ini ditangkap polisi menyusul adanya laporan warga Pekanbaru yang menjadi korban penipuan.