Perang AS-Israel dan Iran Picu Krisis Gas Industri Dalam Negeri

Ilustrasi-tanker-LNG.jpg
Ilustrasi tanker LNG (Stefan Dinse/Shutterstock)

RIAU ONLINE, JAKARTA - Perang antara AS-Israel dan Iran berimbas pada kelangkaan bahan baku gas bumi bagi pelaku usaha. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Gunawan.

Yustinus menuturkan, pasokan gas bumi dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dipatok USD 7 per MMBTU dibatasi pasokannya, sementara harga regasifikasi gas alam cair (LNG) sekitar USD 15 per MMBTU.

"Industri pengguna gas sedang darurat bahan baku dan logistik ekspor terdampak eskalasi Timur Tengah,” ujarnya, dikutip dari Kumparan, Kamis, 26 Maret 2026.

Dirinya mengungkapkan, rata-rata harga gas dan regasifikasi saat ini naik menjadi di sekitaran USD 10 per MMBTU, atau hampir 50 persen lebih mahal daripada skema HGBT yang harganya dipatok pemerintah.


"Bila porsi biaya gas bumi 20 persen dari biaya produksi, maka biaya produksi naik sekitar 8,5 persen,”ungkapnya.

Yustinus berharap, pemerintah bisa menunda ekspor gas bumi karena tarif pengangkutannya (freight) sedang sangat tinggi, dan fokus pada penyerapan oleh industri dalam negeri.

Pelaku industri pengguna gas bumi, lanjut dia, pun mendesak Presiden Prabowo Subianto segera menginstruksikan pasokan gas bumi skema HGBT sejumlah 100 persen alokasi sesuai Kepmen ESDM 76.K/2025, alias tidak ada pembatasan pasokan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

"Tindakan cepat tegas dan ditegakkan ini untuk jaga daya saing industri, untuk menangkal impor dan masih bisa ekspor, untuk menjaga stabilitas serapan tenaga kerja," tegas Yustinus.