RIAU ONLINE, PEKANBARU – Upaya memperkuat budaya literasi di Provinsi Riau mendapat dukungan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Regional Office Pekanbaru.
Dalam pembukaan Festival Literasi Riau 2026, BRI menyerahkan kartu BRIZZI yang sekaligus difungsikan sebagai kartu anggota perpustakaan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto.
Penyerahan kartu dilakukan secara simbolis oleh Regional CEO BRI Regional Office Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, kepada SF Hariyanto dalam pembukaan Festival Literasi Riau 2026 di Perpustakaan Soeman HS, Pekanbaru, Rabu 5 Agustus 2026.
Festival Literasi Riau 2026 berlangsung selama tiga hari, 5–7 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong peningkatan minat baca sekaligus memperkuat kecakapan masyarakat dalam menghadapi perkembangan era digital.
Dian Kesuma Wardhana mengatakan BRI mengapresiasi Pemerintah Provinsi Riau dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau yang konsisten menghadirkan berbagai program untuk meningkatkan budaya membaca masyarakat.
"Kami merasa terhormat dapat berpartisipasi dalam Festival Literasi Riau 2026. Kehadiran kartu BRIZZI yang sekaligus berfungsi sebagai kartu anggota perpustakaan ini merupakan wujud dukungan BRI terhadap penguatan budaya literasi sekaligus transformasi layanan digital yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat," ujar Dian.
Menurut Dian, perkembangan teknologi tidak seharusnya menjauhkan masyarakat dari budaya membaca. Sebaliknya, literasi dan digitalisasi dapat berjalan beriringan untuk membentuk sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
"Melalui kolaborasi ini, kami berharap semangat membaca terus tumbuh seiring meningkatnya pemanfaatan layanan digital. BRI akan terus hadir sebagai mitra pembangunan yang mendukung berbagai inisiatif positif bagi kemajuan daerah dan peningkatan kualitas hidup masyarakat," tambahnya.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memperluas kontribusinya dalam pengembangan masyarakat, tidak hanya melalui literasi keuangan, tetapi juga dengan mendorong terbentuknya ekosistem literasi yang semakin modern dan inklusif.
Sementara itu, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menilai makna literasi telah berkembang seiring pesatnya arus informasi digital.
Menurutnya, masyarakat, khususnya generasi muda, tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca. Mereka juga harus mampu memahami informasi, memeriksa sumber, serta memilah informasi yang benar dan tidak benar.
"Anak-anak kita tidak hanya harus mampu membaca, tetapi juga mampu memahami informasi, memeriksa sumbernya, membedakan fakta dengan opini, serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Kecakapan seperti inilah yang akan melindungi generasi muda dari hoaks dan berbagai ancaman di ruang digital," ujar SF Hariyanto.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat menanamkan budaya membaca sejak usia dini. Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membangun kebiasaan membaca, kemudian diperkuat melalui pendidikan di sekolah serta dukungan berbagai lembaga dan mitra pembangunan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, Indra, mengatakan Festival Literasi Riau 2026 mengangkat tema "Riau Membaca, Generasi Berkarya".
Festival tersebut menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari gelar wicara, bedah buku, pertunjukan seni dan budaya, hingga kegiatan mendongeng untuk anak-anak.
Menurut Indra, kegiatan yang mendapat dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Perpustakaan Nasional tersebut menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan budaya membaca masyarakat Riau.
"Kami berharap festival ini mampu menjadi ruang kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat budaya literasi. Dukungan dari berbagai mitra, termasuk BRI, menjadi energi positif dalam memperluas jangkauan gerakan literasi di Riau," kata Indra.
Kolaborasi dalam Festival Literasi Riau 2026 sekaligus menegaskan komitmen BRI untuk terus mendukung berbagai program yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Dukungan tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan literasi keuangan, tetapi juga pada penguatan ekosistem literasi masyarakat yang modern, inklusif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Dengan perpaduan antara budaya membaca dan pemanfaatan teknologi digital, gerakan literasi di Riau diharapkan tidak berhenti pada peningkatan minat baca, tetapi juga melahirkan masyarakat yang semakin kritis, cakap mengolah informasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

