118 Siswa Keracunan MBG di Kudus, Begini Kronologinya

siswa-keracunan-mbg-di-kudus.jpg
Keracunan MBG di SMA 2 Kudus (Arif/Liputan6.com)

RIAU ONLINE - Keracunan massal terjadi di SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah, Kamis, 29 Januari 2026. Tercatat, 118 siswa harus menjalani perawatan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa ini memicu kepanikan luar biasa dari warga sekolah setempat. Jajaran aparat TNI Polri, tenaga kesehatan dan rumah sakit kelabakan juga ikut kelabakan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMAN 2 Kudus Dwiyana mengungkapkan sebagian siswa menjalani perawatan sudah dirawat sejak Rabu, 28 Januari 2026, malam.

Dwiyana menambahkan pihak sekolah sempat memanggil perwakilan SPPG Purwosari untuk meminta klarifikasi terkait menu makanan dan kondisi kesehatan makanan tersebut. Sekolah juga mengumpulkan perwakilan kelas untuk pendataan siswa yang mengalami keluhan.

"Setiap kelas ada yang melaporkan 35 siswa sakit, ada yang 20, dan 17 siswa. Setelah kami merasa tidak mampu menangani, kami meminta bantuan dokter puskesmas," ujarnya.

Petugas puskesmas bersama Dinas Kesehatan kemudian datang ke sekolah. Karena kondisi sejumlah siswa terus memburuk, pihak sekolah meminta bantuan ambulans untuk merujuk siswa ke rumah sakit di Kabupaten Kudus.

Para siswa mengeluhkan pusing, diare, hingga mulas, harus dievakuasi ke sejumlah rumah sakit yang ada. Mereka mengalami gangguan kesehatan massal, dirawat di RSUD Loekmonohadi Kudus, RS Sarkies, RSI, RS Mardirahayu dan sejumlah rumah sakit lainnya di Kudus.



Belasan unit armada ambulans isiagakan di halaman sekolah tersebut. Ambulans tersebut keluar masuk ke sekolah menuju rumah sakit, merujuk para siswa yang keracunan.

Selain tenaga medis dan tenaga kesehatan dibuat sibuk. Kejadian itu juga membuat para orang tua kebingungan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo, menjelaskan tanda-tanda gangguan kesehatan sebenarnya sudah muncul sebelum para siswa tiba di sekolah.

Mustiko menyebut sebagian siswa mengeluhkan pusing dan diare sejak Rabu, 28 Januari 2026. Namun sebenarnya, kata dia, keluhan awal justru lebih dahulu dirasakan oleh para guru setelah menyantap menu MBG yang diterima sekolah dari SPPG Purwosari pada Rabu, sekitar pukul 11.15 WIB, kemudian dibagikan kepada siswa serta guru sekitar pukul 11.45 WIB.

"Awalnya keluhan sakit perut dan diare muncul di kalangan guru. Setelah itu, banyak siswa yang mengeluhkan perut sakit, mual, pusing, dan diare," ujarnya, dilansir dari Liputan6.com, Jumat, 30 Januari 2026.

Berdasarkan laporan sementara, sekitar 600 siswa mengalami gejala serupa, namun sebagian besar memilih menjalani perawatan di rumah, termasuk sejumlah guru.

Dugaan sementara, kata dia, gangguan kesehatan massal ini mengarah pada menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya. Sebab dampaknya baru dirasakan siswa pada keesokan harinya.

Kondisi semakin memburuk saat para siswa berada di lingkungan sekolah. Mereka mulai terserang mual, muntah, hingga diare berat.

Mirisnya lagi, nakes dan guru sekolah setempat menemukan dua siswa yang sempat pingsan dan segera dievakuasi ke rumah sakit.

Dinas Kesehatan bersama pihak terkait dikerahkan untuk pemeriksaan, termasuk pengambilan sampel makanan, feses, dan komponen lainnya untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.