RIAU ONLINE - Penemuan virus nipah menghebohkan dunia karena angka kematiannya tinggi, yakni sekitar 40-75%. Angka kematian akibat virus ini sekitar 40-75%, dibandingkan COVID-19 yang hanya sekitar 1%
Saat ini, virus nipah telah merebak di India. Sekitar 100 orang terpaksa menjalani karantina mandiri di rumah untuk mencegah penyebaran kasus ini.
Nipah adalah penyakit menular dari hewan (kelelawar buah sebagai inang) ke manusia yang menyerang sistem pernapasan serta menyebabkan peradangan akut pada otak (ensefalitis) dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.
Gejala virus nipah meliputi demam, meriang, pilek, serta gejala lainnya, dengan tingkat keparahan yang dapat menyebabkan kematian sekitar 40 persen.
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk mengatasinya virus yang pertama kali muncul di Malaysia pada 1998 ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengklasifikasikannya sebagai patogen berisiko tinggi.
Meski begitu, menurut para ahli, infeksi pada manusia tergolong jarang, namun biasanya terjadi ketika virus menular dari kelelawar ke manusia, sering kali melalui buah yang terkontaminasi.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan tahun ini ada dua kasus virus nipah di India.
"Memang angka kematiannya sangat tinggi, tetapi jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus,” kata Ben, dikutip dari kumparan, Jumat, 30 Januari 2026.
Ben menyebut sejumlah negara terdekat dengan India telah melakukan antisipasi. Namun, saat ini virus nipah belum sampai ke Indonesia.
“Jadi belum sampai di Indonesia. Di Thailand sudah bagus dilakukan skrining. Jadi di Thailand, karena kasusnya di India, di satu wilayah, tapi di India pun baru dua kasus. Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown,” katanya.
“Di Indonesia otomatis sudah melakukan skrining. Jadi kita punya alat deteksi di bandara, yang pasien dengan suhu tinggi sudah bisa dideteksi, tetapi memang skrining seperti COVID belum kita lakukan,” pungkasnya.
Sementara itu, anggota UKK Infeksi Tropik IDAI, Dominicus Husada, menjelaskan kasus virus nipah belum ditemukan pada manusia di Indonesia.
"Virus nipah di Indonesia belum pernah ditemukan pada orang, tapi pada kelelawar ada," kata Domi dalam webinar IDAI, Kamis, 29 Januari 2026.
Virus nipah ini ditemukan pada kelelawar pemakan buah di Sumatera Utara dalam penelitian tahun 2023 yang telah dipublikasi oleh Kemenkes.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin untuk virus ini. Saat ini, menurut Domi, di Inggris sedang ada uji coba vaksin nipah, namun baru memasuki tahap 2 dan pengembangannya masih lama, minimal 3-5 tahun ke depan.
Sebagai langkah antisipasi, pengawasan diperketat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Pengawasan dilakukan dengan menempatkan 2 unit thermal scanner di kedatangan internasional, 1 unit di kedatangan domestik.
Pihak bandara berkoordinasi dengan dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar dalam hal pengawasan di lingkungan bandara.
"Seluruh personel di lingkungan bandara berkomitmen untuk melakukan pengawasan secara ketat dan menyeluruh dalam pencegahan penularan virus Nipah di area kedatangan bandara," kata Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi
Gede Eka Sandi mengimbau penumpang menjaga kesehatan dan memantau perkembangan informasi terkait virus Nipah demi keamanan dan kenyamanan bersama.
"Adapun bagi penumpang yang merasa kondisi kesehatannya menurun dan terdapat gejala awal virus Nipah seperti demam, kami imbau untuk segera menghubungi petugas bandara terdekat atau petugas BBKK di bandara," katanya.

