2 Cucu Mahfud MD Keracunan MBG, Begini Kronologinya

Mahfud-MD15.jpg
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD. ([Suara.com/Bagaskara])

RIAU ONLINE - Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, memberi kabar mengejutkan terkait program makan bergizi gratis (MBG). Dua cucunya menjadi korban keracunan massal usai menyantap menu MBG.

“Cucu saya juga keracunan. Ya, MBG di Yogyakarta,” kata Mahfud dalam video berjudul “Bereskan Tata Kelola MBG” yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Terus Terang Mahfud MD, pada Selasa, 30 September 2025.

Kedua cucunya bersekolah di tempat yang sama di Yogyakarta, namun berbeda kelas. Mereka menyantap MBG saat jam makan siang.

Petaka dimulai saat delapan siswa dalam satu kelas, termasuk cucu keponakan Mahfud, mengalami gejala keracunan hebat.

“Cucu ponakan ya. Saya punya ponakan, ponakan saya tuh punya anak namanya Iksan. Makan siang gratis, lalu satu kelas itu delapan orang langsung muntah-muntah,” jelas Mahfud, dikutip dari Suara.com, Rabu, 1 Oktober 2025.

Sekolah pun dilanda sekolah. Delapan siswa yang menunjukkan gejala serupa, termasuk cucu Mahfud, segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis darurat.

Setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan awal, kondisi para korban mulai menunjukkan perkembangan berbeda. Tujuh dari delapan siswa, termasuk cucu tertua Mahfud, kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama satu hari.


"Jadi 6 (orang) dan kakaknya, habis muntah-muntah sehari, lalu disuruh pulang bisa dirawat di rumah," ungkap Mahfud.

Namun, nasib berbeda dialami oleh cucunya yang lain. Kondisinya ternyata lebih parah, mengharuskannya menjalani rawat inap intensif di rumah sakit selama empat hari penuh sebelum akhirnya diizinkan pulang.

"Tetapi yang satu ini harus dirawat 4 hari," sambungnya. “Mereka bersaudara, beda kelas, tetapi di sekolah yang sama,” tambah Mahfud.

Dalam kesempatan itu, Mahfud MD juga menyoroti tajam pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut angka kasus keracunan MBG sangat kecil, hanya 0,0017% dari total 30 juta porsi yang telah didistribusikan.

Bagi Mahfud, persoalan nyawa dan kesehatan anak-anak tidak bisa direduksi menjadi sekadar angka statistik. Ia membandingkannya dengan insiden kecelakaan pesawat yang, meskipun secara persentase sangat kecil, selalu menimbulkan kegemparan publik karena menyangkut keselamatan jiwa.

“Betul itu hanya 0,0017%, kata presiden, kecil sekali memang. Tetapi, kan juga jutaan pesawat terbang di dunia ini lalu lalang setiap hari, kecelakaan satu saja tidak sampai 0,001%, orang ribut. Karena itu menyangkut nyawa, menyangkut kesehatan,” tegasnya.

Mahfud mendesak pemerintah untuk tidak menganggap remeh setiap kasus keracunan yang terjadi dan segera melakukan evaluasi serta penelitian mendalam untuk menemukan akar masalah dalam tata kelola program MBG.

“Ini bukan persoalan angka. Ini harus diteliti lagi apa masalahnya,” pungkas Mahfud MD.