Aktual, Independen dan Terpercaya


Ilmuwan ITB Prediksi Covid-19 di Indonesia Memuncak Maret dan Berakhir April 2020

Penumpang-pakai-masker.jpg
(AFP)

RIAU ONLINE, BANDUNG-Para ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan serangkaian penelitian menggunakan metode matematika untuk menentukan puncak dan akhir pandemi virus corona di Indonesia.

Tim peneliti yang terdiri dari Dr. Nuning Nuraini, Lektor Kepala di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, bersama dua rekannya, Kamal Khairudin dan Mochamad Apri, menggunakan model pengembangan dari logistik Richard’s Curve yang diperkenalkan oleh F.J.Richards.


Mereka menghitung parameter kasus COVID-19 di lima negara yang paling parah mengalami pandemi, yakni China, Italia, Iran, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Hasilnya, mereka menemukan bahwa tren kasus di Korea Selatan relatif sama dengan yang terjadi di Indonesia. 

Dengan begitu, periset mengambil model di Korea Selatan untuk melakukan proyeksi kasus di Indonesia.

Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut didapatkan kesimpulan, bahwa kasus COVID-19 di Indonesia diprediksi akan memuncak pada akhir Maret 2020, dan berakhir di pertengahan April 2020, dengan jumlah kasus maksimum sekitar 8.000 kasus.

Sedangkan kasus baru harian terbesar diperkirakan mencapai 600 kasus. 
Menurut ilmuwan, angka ini bisa ditekan asalkan masyarakat dan pemerintah menjalankan SOP pencegahan penularan pandemi sesuai rekomendasi pakar kesehatan atau WHO.

Terakhir per Kamis 19 Maret 2020, pemerintah mengumumkan pasien positif COVID-19 telah mencapai 309 orang, yang di antaranya 25 orang meninggal, dan 15 dinyatakan sembuh.

“Jumlah kasus di Indonesia bisa saja ditekan, asal melakukan pencegahan sesuai SOP pandemi,” kata Nuning, melalui pesan singkat kepada kumparanSAINS, Kamis 19 Maret 2020.


Ia lantas merekomendasikan beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, terutama yang disarankan oleh WHO. Menurutnya, ada langkah sederhana yang bisa orang-orang lakukan dan diharapkan berhasil untuk mencegah laju penyebaran, yakni jaga jarak sosial (social distancing).

Jarak sosial bisa diimplementasikan dengan cara menjauhi kerumunan dan membatasi keinginan untuk keluar rumah tanpa keperluan yang penting. Selanjutnya melakukan Work From Home atau kerja dari rumah, meliburkan sekolah dan mengubahnya menjadi sistem pendidikan secara daring, serta membatalkan atau menunda rekreasi dan kegiatan-kegiatan yang bersifat massal.


Ini telah dilakukan oleh pemerintah China. Pembatasan perjalanan yang mereka lakukan telah mendorong pandemi sampai puncak. Hal ini dimaksudkan agar langkah selanjutnya bisa membawa dampak pada penurunan kasus di negara tersebut.


Zhong Nashan, penasihat medis senior pemerintah China mengatakan, jika negara-negara yang terdampak wabah SARS-CoV-2 mengikuti langkah yang dilakukan China, maka pandemi ini dapat dikurangi dalam beberapa bulan saja.


“Saran saya menyerukan semua negara untuk mengikuti instruksi WHO dan melakukan intervensi pada skala nasional. Jika semua negara bisa dimobilisasi, pandemi ini bisa berakhir pada Juni,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Lebih lanjut peneliti ITB mengatakan, jika masyarakat mengabaikan pencegahan, ini akan sepadan dengan risiko yang dihadapi. Bisa dibayangkan bila langkah pencegahan tidak dilakukan secara serius, maka kasus bisa berlipat dalam puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan penderita.

Dan jika hal ini terjadi, maka tidak menutup kemungkinan rumah sakit akan kewalahan untuk menerima pasien, dan peluang transmisi penyakit menjadi lebih besar.


Adapun penekanan jumlah kasus pasien di sini berguna bagi rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya agar dapat menampung jumlah pasien, sehingga peluang orang untuk sembuh juga makin besar.

Tidak ada lagi pasien yang terbengkalai atau tidak mendapatkan perawatan karena alasan membludaknya jumlah pasien di sebuah rumah sakit.

Artikel ini sudah terbit di Kumparam.com