RIAU ONLINE, PEKANBARU - Data mengenai luas lahan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau kembali menjadi sorotan. Perbedaan angka muncul antara data yang disampaikan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dengan data akumulasi yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Riau.
Dalam pemaparannya saat upacara kenaikan pangkat personel di Mapolda Riau, Rabu, 2 September 2026, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyebut luas lahan yang terdampak Karhutla di Riau mencapai 16.545 hektare.
Angka tersebut juga disampaikan Herry melalui akun media sosial pribadinya. Dalam unggahannya, Kapolda menampilkan data mengenai kondisi Karhutla di Riau dan menyebut luasan lahan yang terdampak berada di angka 16.545 hektare.
Namun, angka tersebut berbeda dengan data yang disampaikan Pemerintah Provinsi Riau melalui BPBDPK Riau.
Berdasarkan data akumulasi sejak awal tahun, luas lahan yang terbakar di Riau tercatat mencapai 18.582,90 hektare. Perbedaan angka tersebut cukup signifikan, yakni mencapai lebih dari 2.000 hektare.
Data BPBDPK Riau bahkan telah diberitakan oleh sejumlah media, termasuk Media Indonesia dan ANTARA, serta media lokal di Riau.
Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal, mengatakan berdasarkan akumulasi data sejak 1 Januari 2026, jumlah titik panas di Riau mencapai 12.677 titik, dengan 618 titik api. Sementara total luasan lahan yang terbakar mencapai 18.582,90 hektare.
"Secara akumulasi sejak 1 Januari 2026 total titik panas mencapai 12.677 dengan 618 titik api dan total luasan lahan terbakar 18.582,90 hektare," ujar Edy Afrizal, Kamis, 3 September 2026.
Menurut Edy, luasan Karhutla tersebut tersebar di seluruh 12 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau.
Kabupaten Bengkalis menjadi daerah dengan luasan lahan terbakar terbesar. Berdasarkan data BPBD, luas lahan yang terbakar di Bengkalis mencapai 8.454,40 hektare.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas lahan terbakar mencapai 6.640,99 hektare. Kemudian Kabupaten Indragiri Hilir dengan luas 1.034,02 hektare.
Selanjutnya, luasan Karhutla tercatat di Indragiri Hulu sebesar 605,02 hektare, Dumai 556,01 hektare, Rokan Hilir 452,53 hektare, Siak 373,06 hektare, Kepulauan Meranti 217,45 hektare, Kampar 141,66 hektare, Pekanbaru 103,33 hektare, Kuantan Singingi 69,87 hektare, dan Rokan Hulu 33,96 hektare.
Jika seluruh angka tersebut dijumlahkan, totalnya mencapai 18.582,90 hektare.
Perbedaan data antara 16.545 hektare yang dipaparkan Kapolda Riau dan 18.582,90 hektare berdasarkan data BPBD Riau kemudian memunculkan pertanyaan mengenai basis data yang digunakan masing-masing pihak.
Apalagi, persoalan data Karhutla menjadi penting karena angka luasan lahan terbakar kerap menjadi salah satu indikator dalam melihat seberapa serius dampak kebakaran di suatu wilayah.
Selisih tersebut bukan sekadar perbedaan angka kecil. Jika menggunakan data BPBD Riau, luas lahan terbakar tercatat 2.037,90 hektare lebih luas dibanding angka yang disampaikan Kapolda Riau.
Perbedaan ini juga menjadi perhatian karena sebelumnya pemerintah dan aparat penegak hukum sama-sama menyampaikan klaim mengenai penanganan Karhutla di Riau.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan sebelumnya juga beberapa kali menyampaikan bahwa kondisi Karhutla di Riau mengalami penurunan dan situasi mulai terkendali.
Sementara itu, data BPBD Riau menunjukkan bahwa secara akumulasi sejak Januari, luas lahan yang terbakar masih berada pada angka 18.582,90 hektare.
Meski demikian, data BPBD juga menunjukkan bahwa kondisi terkini memang mulai mengalami perbaikan.
Edy Afrizal menyebut titik Karhutla yang masih terpantau saat ini hanya berada di tiga daerah, yakni Bengkalis, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir.
Menurutnya, titik api di tiga wilayah tersebut tidak lagi terlalu besar. Kendati demikian, proses pemadaman tetap dilakukan untuk memastikan api benar-benar padam.
"Untuk titik Karhutla hanya tinggal di tiga daerah saja. Yakni Bengkalis, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Saat ini juga masih terus dilakukan pemadaman," jelas Edy.
Selain pemadaman, pemerintah daerah juga masih melakukan proses pendinginan, terutama pada wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut.
Langkah tersebut dilakukan karena api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar hilang. Bara dapat bertahan di bawah permukaan gambut dan sewaktu-waktu kembali muncul apabila kondisi kembali kering dan panas.
Karena itu, proses pendinginan menjadi bagian penting dalam penanganan Karhutla, terutama untuk mencegah munculnya kembali titik api di lokasi yang sebelumnya terbakar.
"Jadi kita tetap waspada karena upaya penanganan tentu memastikan seluruh sumber api benar-benar padam sehingga tidak menimbulkan kebakaran kembali," lanjut Edy.
Ia menambahkan, upaya penanganan Karhutla juga masih dibarengi dengan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
"Begitu juga operasi modifikasi cuaca tetap kami lakukan setiap hari," pungkasnya.
Perbedaan angka luasan Karhutla tersebut pada akhirnya kembali menyoroti pentingnya sinkronisasi data antarinstansi.
Di satu sisi, penurunan jumlah titik api dan kondisi Karhutla yang mulai terkendali merupakan perkembangan positif.
Namun di sisi lain, angka akumulasi luas lahan yang telah terbakar sepanjang 2026 tetap perlu disampaikan secara jelas agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi Karhutla di Riau.
Dengan data BPBD Riau yang mencatat 18.582,90 hektare, sementara Kapolda Riau menyebut 16.545 hektare, terdapat selisih 2.037,90 hektare yang membutuhkan penjelasan mengenai perbedaan metode pencatatan, periode penghitungan, maupun sumber data yang digunakan.
Hal ini penting agar tidak muncul persepsi bahwa kondisi Karhutla di Riau seolah-olah lebih kecil dari kondisi sebenarnya.
Terlebih, Bengkalis dan Pelalawan masih menjadi dua wilayah dengan kontribusi luasan kebakaran terbesar. Dari total 18.582,90 hektare berdasarkan data BPBD, lebih dari 15.000 hektare berada di dua kabupaten tersebut.

