RIAU ONLINE, PELALAWAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, semakin mengkhawatirkan. Hingga Kamis malam, 27 Agustus 2026 kobaran api dilaporkan terus meluas dan mulai mendekati jalan poros desa.
Jarak antara titik api dengan jalan poros Desa Rantau Baru diperkirakan hanya sekitar 100 meter.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena akses utama masyarakat sewaktu-waktu dapat terdampak, terlebih kebakaran masih berlangsung setelah memasuki hari kelima.
Karhutla terjadi di kawasan lahan gambut yang sebagian besar ditumbuhi semak belukar serta tanaman sawit milik warga. Karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan membuat api sulit dipadamkan secara menyeluruh.
Berdasarkan informasi di lapangan, luasan lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan hampir mencapai 300 hektare. Meski upaya pemadaman telah dilakukan, api masih terlihat di sejumlah titik hingga Kamis malam.
"Api masih terlihat di beberapa titik. Kebakaran ini sudah memasuki hari kelima dan lokasinya semakin mendekati jalan poros desa,” bunyi keteteran di video Instagram @Infosorek.
Upaya pemadaman sebelumnya telah dilakukan melalui jalur darat dengan mengerahkan personel dan peralatan pemadam. Penanganan juga mendapat dukungan dari udara melalui operasi water bombing untuk membantu menjangkau titik-titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.
Namun, kondisi lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Api yang terlihat padam di permukaan dapat kembali muncul karena bara masih menyala di dalam lapisan gambut. Situasi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan pengawasan secara terus-menerus.
"Lahan gambut memang cukup sulit ditangani. Setelah api di permukaan berhasil dipadamkan, bara di bawah masih bisa menyala dan kemudian muncul kembali," jelasnya.
Kekhawatiran kini semakin meningkat karena posisi api semakin dekat dengan jalan poros Desa Rantau Baru. Jika kobaran api terus bergerak mendekati akses tersebut, aktivitas masyarakat dan mobilitas kendaraan berpotensi terganggu.
Selain ancaman terhadap akses jalan, kebakaran yang melanda kawasan gambut juga berpotensi menimbulkan asap pekat apabila titik api terus berkembang. Kondisi ini dapat mengganggu jarak pandang dan kualitas udara di sekitar lokasi.
Petugas di lapangan masih melakukan pemantauan terhadap titik-titik api yang muncul. Pemadaman dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan lokasi yang dinilai berpotensi memperluas kebakaran dan mendekati permukiman maupun akses masyarakat.
Besarnya area yang terdampak, yang diperkirakan mendekati 300 hektare, membuat penanganan membutuhkan sinergi berbagai pihak. Selain pemadaman, pendinginan dan pembasahan kembali lahan menjadi bagian penting untuk memastikan bara di dalam gambut benar-benar mati.
Karhutla di Rantau Baru menjadi perhatian serius karena terjadi selama beberapa hari dan api belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.
Dengan jarak titik api yang kini diperkirakan tinggal sekitar 100 meter dari jalan poros desa, petugas dituntut bergerak cepat agar kebakaran tidak meluas dan mengancam fasilitas maupun aktivitas masyarakat.
Hingga Kamis malam, proses pemadaman dan pemantauan masih terus dilakukan. Kondisi di lapangan juga dapat berubah sewaktu-waktu, terutama apabila arah angin berubah dan membuat api kembali menjalar ke kawasan lahan yang belum terbakar.

