BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia 2027 Tumbuh hingga 5,9 Persen

BI-Proyeksikan-Ekonomi-Indonesia-2027-Tumbuh-hingga-59-Persen.jpg
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyampaikan materi dalam Rapat Kerja (Raker) Banggar DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026. (ANTARA/Bayu Saputra)

RIAU ONLINE, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh hingga 6 persen pada 2027, seperti yang tertuang dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengungkapkan, BI sendiri memproyeksikan  pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027 diperkirakan berada dalam kisaran 5,1 persen sampai dengan 5,9 persen.

"Mendukung tema strategi ekonomi dan fiskal 2027 tumbuh lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat, kami melihat adanya kemungkinan untuk bisa PDB menjadi lebih tinggi lagi atau kalau dari kisaran kami yang sekarang 5,9 persen menuju kepada 6 persen," kata Aida, dikutip dari ANTARA, Kamis, 27 Agustus 2026.

Lebih lanjut, Aida menjelaskan bahwa salah satu asumsi untuk mencapai pertumbuhan lebih tinggi adalah lebih baiknya prospek ekonomi global.

Apabila prospek ekonomi global membaik, maka diharapkan dapat meningkatkan permintaan ekspor Indonesia termasuk aliran modal masuk khususnya dari penanaman modal asing dan juga portofolio.

Selain itu, asumsi lain yakni peningkatan investasi dengan akselerasi proyek strategis nasional, serta realisasi optimalisasi penerimaan devisa hasil ekspor (DHE) termasuk kenaikan inflows akibat dari pertumbuhan ekonomi dan berbagai macam langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah.



"Terakhir, Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas dan ketahanan nasional serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," kata Aida.

Secara umum, Aida menjelaskan bahwa prospek perekonomian global masih banyak diwarnai oleh risiko yang tetap tinggi, terutama dari geopolitik perang Timur Tengah yang memperburuk gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara.

"Dengan perkembangan tersebut, maka prospek perekonomian di 2027 kami perkirakan membaik sedikit menjadi 3,3 persen dengan harapan menurunnya tensi geopolitik Timur Tengah. Inflasi global diperkirakan berlanjut sehingga mendorong kebijakan moneter global lebih ketat," kata Aida.

Ia menambahkan, suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (Fed Funds Rate) saat ini dipertahankan pada level 3,5-3,75 persen dan terdapat kemungkinan akan naik pada triwulan IV 2026 serta bertahan pada 2027. Imbal hasil US Treasury juga masih tinggi, termasuk indeks dolar AS terhadap berbagai macam mata uang.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong untuk memperkuat momentum pertumbuhan," ujar Aida.

Perkembangan terkini pada triwulan III 2026 terutama untuk indeks ekspektasi penghasilan dan Purchasing Manufacturing Index (PMI) yang sempat menurun kini telah pulih kembali terutama untuk pesanan ekspor baru.

Aida menegaskan bahwa bauran kebijakan BI yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah akan terus diarahkan untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bauran kebijakan tersebut juga ditempuh melalui pelonggaran likuiditas moneter, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan bagi dunia usaha, serta digitalisasi sistem pembayaran untuk akselerasi ekonomi keuangan digital khususnya sektor UMKM dan ritel.

Ia mengatakan, BI juga memiliki kebijakan dengan fokus utama memberikan insentif untuk menarik aliran modal masuk sehingga bisa menarik aliran modal tanpa harus menaikkan BI-Rate maupun SRBI, menjaga kecukupan likuiditas, dan melakukan diversifikasi penggunaan mata uang.

Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, Aida menambahkan bahwa bank sentral menjalankan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang akan didayagunakan tidak saja untuk pembiayaan perbankan, tetapi juga untuk pengembangan pasar keuangan sehingga bisa membantu mendistribusikan insentif yang saat ini terkonsentrasi pada beberapa bank tertentu. (ANTARA)